Main Menu

Kementan Minta Pelaku Industri Serap Hasil Panen Bawang

Fahrio Rizaldi A.
10-01-2018 19:48

Petani bawang merah (Antara/Oky Lukmansyah/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Ketidakstabilan harga masih menjangkiti komoditas bawang merah. Harga bawang merah di tingkat petani anjlok meski di tingkat pedagang masih tinggi. Untuk mengatasi masalah ini, Kementerian Pertanian (Kementan) menggandeng pihak industri untuk membantu para petani.


Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Spudnik Sudjono, menilai partisipasi para pelaku usaha sangat dibutuhkan dalam menyerap bawang merah dari petani.

"Jangan beli (bawang merah dengan harga) rendah. Harus di atas BEP (break event point)," ungkap Spudnik, saat berkoordinasi dengan pelaku usaha, Selasa (9/1) kemarin.

Sebagai contoh, harga bawang merah di tingkat petani Brebes sempat mencapai Rp 4.000 per kilo gram. Walau kini mulai merangkak naik di angka Rp 7.000 per kilogram, harga ini masih di bawah harga anjuran pemerintah, yaitu Rp 15 ribu per kilogram.

Spudnik meminta pelaku usaha, baik industri maupun pengusaha untuk membeli bawang merah minimal seharga Rp 11 ribu sampai Rp. 12 ribu per kilogram. Sejumlah pelaku industri yang terlibat dalam koordinasi dengan Kementan menyambut positif tawaran ini. Salah satunya adalah PT Juma Berlian Exim yang akan menyerap 75 ribu ton bawang merah asal Brebes pada bulan ini.

Sebelumnya, perusahaan ini memasok kebutuhan bawang merah dari Tanah Karo, Sumatera Utara, dan Solok, Sumatera Barat. Perusahaan raksasa Indofood juga sepakat untuk menyerap 300 ton dari Brebes, Cirebon, dan Nganjuk.

Sebelumnya, Spudnik sempat menjelaskan mengenai penyebab anjloknya harga bawang merah ini. Menurutnya, sejumlah daerah yang menjadi pelanggan bawang merah produksi Brebes, telah memiliki sentra produksinya masing-masing.

"Daerah yang biasa ambil bawang merah ke Brebes, sekarang punya sentra sendiri. Misalnya kawasan Nusa Tenggara (Timur, dan Barat). Mereka nggak menyerap (bawang merah) ke sana (Brebes) lagi," ujarnya.

Akibat pertumbuhan sentra baru, maka sentra bawang merah di Jawa Tengah seperti di Brebes tak lagi menjadi andalan daerah lain.

"Kami memang menjaga benar harga pasokan (bawang merah). Dari Brebes memang kerap mengirim ke Surabaya, dan luar Jawa. Tapi kami membuat program (sentra bawang merah) bukan hanya untuk di Jawa, jadi Sumatera, dan Kalimantan aliran (pasokan bawang merah) tidak jalan dulu," ujar Spudnik.

Untuk mengantisipasi hal ini, Spudnik mengatakan, Bulog juga bisa menyerap bawang merah agar harga kembali normal. Cara ini juga bisa menjaga kestabilan pasokan pada Februari nanti. "Kami waspadai pasokan, jika Februari hujan, Bulog juga harus berperan (menyerap hasil panen)," tandasnya.


Reporter: Rizaldi Abror
Editor: Iwan Sutiawan

Fahrio Rizaldi A.
10-01-2018 19:48