Main Menu

Pertanian Organik, Solusi Kemandirian Petani

Iwan Sutiawan
11-01-2018 18:22

Petani tanaman organik (Antara/Jafkhairi/yus4)

Bogor, Gatra.com - Direktur Bina Sarana Bakti (BSB), Dian Ashabul Yamin, berpendapat, produk pertanian organik menjadi salah satu solusi untuk mensejahterakan serta menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi petani.


Yamin ditemui Gatra.com di pusat pengembangan organis, BSB, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/1), menyampaikan, potensi pertanian organik di Indonesia masih cukup tinggi. Potensi ini didukung oleh kesadaran masyarakat yang mulai meningkat terhadap produk organik.

Adapun berbagai masalah utama yang dihadapi petani di Indonesia di antaranya adalah tidak stabilnya harga komoditas pangan. Masalah ini dipicu oleh persaingan pasar yang tidak sehat di tingkat penjual produk pangan.

Petani sebegai produsen komoditas utama seperti beras, cabai, bawang merah, dan hortikultura lainnyah harus berhadapan dengan para spekulan harga sebelum menjual produk mereka ke pasaran.

Berbagai permasalahan tersebut sebenarnya bisa diminimalkan menggunakan skema bisnis yang menyasar segmentasi khusus. Produk organik menjadi salah satu jawaban untuk mensejahterakan petani.

"Kesadaran masyarakat kita mulai meningkat, misalnya untuk mengkonsumsi produk pangan sehat, dan menjaga kelestarian lingkungan. Ini mendukung perkembangan pertanian organik di Indonesia," ujar Yamin.

Skema bisnis pertanian organik, lanjut Yamin, cukup sederhana. Bahkan, jika dikelola secara serius dan benar, pertanian organik akan mewujudkan kemandirian petani, karena tidak membutuhkan aplikasi pupuk kimia dan pestisida. Pupuk dan pestisida justru membebani petani karena menambah pengeluaran produksi.

"Berbeda dengan pasar konvensional, produk organik memiliki pangsa pasar khusus. Bisanya diserap oleh kalangan menengah ke atas yang peduli terhadap lingkungan dan kesehatan. Maka dari itu, harga jual produk organik jauh lebih tinggi dibandingkan komoditas konvensional," urainya.

Sebagai contoh harga jual komoditas sayuran seperti bayam organik berkisar antara Rp 15.500 sampai Rp 24 ribu per kilogram. Begitu pula komoditas kangkung, jika di pasar tradisional dijual seharga Rp 3 ribu-Rp 7 ribu per kilogram, di pasar organik dihargai Rp 24.500 per kilo gramnya.

Namun, untuk mengaplikasikan konsep organik, petani harus mengubah pola dan perlakuan tanam. Selama ini, kata Yamin, paradigma petani di Indonesia sangat bergantung pada pupuk kimia dan pestisida yang justru dapat merusak unsur hara tanah.

"Tantangannya adalah bagaimana mengubah paradigma petani yang sudah akrab dengan pupuk kimia dan pestisida. Inilah yang cukup menyita energi, karena bertani organik itu butuh ketelatenan dan pengetahuan yang lebih dari sekadar bertani konvensional," tandasnya.


Reporter: Rizaldi Abror
Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
11-01-2018 18:22