Main Menu

Kinerja Perikanan Nasional Melambat, KNTI: Benahi Tata Kelola

Flora Librayanti BR K
14-01-2018 14:36

Ilustrasi. (Shutterstock/AK9)

 

“Realisasi produksi perikanan di 2015 mencapai 10,87 juta ton, sementara targetnya adalah 13,6 juta ton. Juga di 2017, realisasi produksi adalah 9,91 juta ton sedangkan targetnya pada angka 16,04 juta ton,” kata Niko.

 

Untuk realisasi ekspor perikanan nasional, lanjut Niko, pada 2015 mencapai US$ 3,95 miliar. Padahal target ekspor mencapai US$ 5,86 miliar. Tahun 2016, realisasi hanya mencapai sekitar 44,5 % yakni dari target US$ 6,82 miliar terealisasi sebesar US$ 3,78 miliar. Sementara untuk  2017, realisasi ekspor mencapai 58,4 %, dari target US$ 7,62 miliar dan terealisasi US$ 3,17 miliar.

 

“Jadi, realisasi ekspor perikanan nasional pun mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir ” kata dia.

 

Sebagai pembanding, ekspor perikanan Vietnam mencapai 2 kali lipat dari Indonesia. Padahal Indonesia memiliki panjang garis pantai 30 kali lipat lebih panjang dan juga mempunyai Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) yang luasnya 3 kali lebih luas dari Vietnam.

 

Sedangkan angka kredit macet UMKM sektor perikanan mengalami kenaikan dari 4,30% di 2016 menjadi 5,04% di 2017. Hal ini menunjukkan kelesuan giat usaha ekonomi skala kecil menengah di sektor perikanan.

 

Niko menjelaskan bahwa kondisi perikanan kita mengalami kesalahan orientasi tata kelola. Tiga Tahun Poros Maritim belum menampakkan dampak nyata terhadap kesejahteraan nelayan.

 

“Karenanya, perbaikan tata kelola perlu ditingkatkan. Pertama, internal Kementerian Kelautan Perikanan sebagai ujung tombak representasi pemerintah dalam mensejahterakan nelayan. Kedua, lembaga (organisasi) dan kelembagaan (aturan main) di dalam masyarakat pesisir perlu dikuatkan untuk akselerasi pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat pesisir,” pungkas Niko.


 

Editor :  Flora L.Y. Barus

 

 

Flora Librayanti BR K
14-01-2018 14:36