Main Menu

Panen Raya, Harga Gabah Anjlok

Fahrio Rizaldi A.
30-01-2018 17:45

Ilustrasi. (Antara/Aji Styawan/AK9)

Jakarta, Gatra.com - Memasuki  panen raya tahun ini, harga gabah di beberapa sentra produksi beras nasional mulai mengalami penurunan. Sementara, pada minggu lalu, harga gabah kering panen (GKP) di sejumlah daerah masih berkisar di atas Rp. 5.000 per kilogram.


Para petani mengeluhkan anjloknya harga gabah. Salah satu di antaranya petani asal Boyolali, Jawa Tengah (Jateng), Semiyati, mengatakan, anjloknya harga gabah ini akibat rencana pemerintah yang akan melakukan impor beras. 

"Harga jual gabah yang rendah bisa membuat petani merugi. Biaya produksi padi cukup tinggi, karena harga pupuk dan biaya tenaga kerja juga tinggi," kata Semiyati dalam keterangan tertulis yang diterima Gatra.com, Selasa (30/1).

Jika pemerintah melalukan impor beras, lanjut Semiyati, petani enggan menanam padi karena harga gabah dipastikan anjlok. "Saat panen terakhir, harga gabah di tingkat petani sangat bagus, sehingga petani bersemangat menanam padi. Petani bahka menjaga sawahnya dari serangan hama dan penyakit tanaman," ujar Semiyati. 

Senada dengan Semiyati, Ketua Gabungan Kelompok Tani Tani Makmur, Desa Ketitang, Kecamatan Nogosari, Boyolali, Mulyono, meminta agar pemerintah membatalkan impor beras. Menurutnya, petani tidak meminta banyak dari pemerintah, yang penting pemerintah bisa menjaga harga jual gabah stabil.

"Saya mohon tidak perlu impor beras, biar harga gabah di petani stabil, tidak rendah sekali," harap Mulyono. Pemerintah seharusnya membantu daerah Nogosari yang akan mengalami puncak panen sampai Februari mendatang.

Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Boyolali, Pomo, menyampaikan, pada pekan lalu harga jual GKP di lapangan berkisar antara Rp 5.200 sampai Rp 5.300 per kilogram. Namun saat ini, anjlok menjadi Rp 4.700 per kilogram di tingkat petani.

Masalah produksi dan kebutuhan beras di Boyolali, menurut Pomo, hingga Desember tahun lalu, daerahnya surplus beras sekitar 540 ribu ton. "Kelebihan beras dijual untuk memenuhi kebutuhan daerah sekitar, seperti Purwodadi, Demak, dan Semarang.  Untuk cadangan juga masih cukup. Barang ada di rumah tangga," ujarnya.

Saat ini, petani hanya khawatir rencana impor beras dilakukan saat panen raya. "Kalau jadi impor, kasihan petani. Nanti malah malas nandur [menanam], karena harga gabah terlalu murah. Apa petani tetap mau nanem, kalau sudah dihantui harga turun, ada impor, ya lemes jadinya," kata dia menambahkan.
 
Sedangkan ketua Kelompok Tani Timbul Jaya, Desa Pleset, Kecamatan Pangkur, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Purwoto Eko Yuwono, mengatakan, pada awal panen bulan ini, petani bisa menjual GKP seharga Rp 5.200 per kilogram. Namun, saat ini harga gabah anjlok sampai Rp 4.800 per kilogram.

"Awal panen bulan ini harga bagus, petani senang. Tapi, sekarang ini hampir panen raya, semakin hari semakin turun. Petani tentu kecewa karena panen sudah ditunggu tiga bulan, hasilnya untuk bayar utang segala macam, kok harganya malah turun," ungkapnya.

Purwoto menambahkan, seluruh lahan sawah anggotanya  mencapai 328 hektare siap panen, dengan rata-rata produksi 8,5 ton per hektare. Hasil produksi  dijual ke luar kota, karena surplus sangat besar. 

Terkait rencana impor beras, para petani di Pangkur menurut Purwoto, menyalahkan pemerintah, karena menyebabkan para tengkulak dan pengepul tidak mau membeli gabah petani dengan harga bagus seperti panen sebelumnya.

"Rencana impor akan membuat petani semakin terpuruk. Kan aneh, waktu panen banyak kok malah impor? Kami jelas tidak terima," tandas Purwoto.

Sementara itu, Kepala Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Ngawi, Sunito, menyatakan, produksi beras para petani Ngawi dari luas lahan sawah mencapai 45 ribu hektare berjumlah 750 ribu sampai 800 ribu ton per tahun. Dari jumlah itu, penduduk Ngawi hanya menggunakan sekitar 20%-nya saja. Dengan kata lain, sebanyak 80% hasil produksi beras Ngawi dipasarkan ke daerah lain.

"Makanya, kami minta jangan impor saat ini. Panen raya sudah mulai, mau beli beras masih ada banyak kok, nggak bakal kesulitan. Ini Ngawi dan sekitarnya saja sudah cukup, selalu over produk," ujar Sunito.

Ketua KTNA Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Juharto, mengatakan, petani mulai resah dengan rencana pemerintah mengimpor beras. Petani juga menyebutkan, rencana impor tersebut merupakan biang keladi atas kondisi harga gabah yang turun saat ini.

"Dua pekan lalu kami jual gabah panen yang manual Rp 5.800 per kilogram, sekarang tinggal Rp 4.800 per kilogram. Petani se-Kabupaten Pati minta supaya impor dibatalkan. Pati ada surplus ratusan ribu ton beras. Kalau impor diteruskan, kita dianggap bangsa yang bodoh karena nggak bisa bertani," tandas Juharto.


Reporter: Rizaldi Abror
Editor: Iwan Sutiawan

Fahrio Rizaldi A.
30-01-2018 17:45