Main Menu

Pasokan Beras ke Pasar Induk Cipinang Meningkat 5000 Ton

Fahrio Rizaldi A.
14-02-2018 00:06

Seorang pegawai sedangmengangkut beras (Antara/Rahmadyus4)

Jakarta, Gatra.com – Banyak pihak yang meminta agar pemerintah tidak mengimpor beras mengingat dua bulan ke depan akan terjadi panen raya. Impor beras akan mengakibatkan anjloknya harga beras di pasaran. 


Seperti yang diungkapkan Direktur Food Station Cipinang, Arief Prasetyo. Arief mengatakan, stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) masih menggunakan beras lokal. "Belum ada beras impor. Saya sudah melihat panen di Demak, Kudus, Kranganyar, dan Banyuasin," jelas Arief dalam keterangan tertulis yang diterima Gatra.com, Selasa (13/2).

Pada Senin (12/2) kemarin, pasokan beras yang masuk ke Cipinang mencapai 5.000 ton, meningkat jauh dari sebelumnya yang hanya 1.000 ton. Arief menambahkan, panen raya petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur sudah mulai masuk ke pasar lokal, pasar di Karawang maupun ke PIBC. 

Sebelumnya, mantan Menteri Pertanian (Mentan) Bungaran Saragih mengomentari tentang anjloknya harga gabah petani. Kondisi ini terbilang aneh mengingat beras impor sebanyak 500 ribu ton belum masuk ke Indonesia.

"Kan (problem harga) ini dipengaruhi dua kekuatan. Pertama, kekuatan pengaruh impor beras yang sudah mau dan akan masuk. Kedua, pengaruh daripada panen raya. Jadi kala panen naik dan  impor masuk, harga beras dan padi (gabah) turun. Jadi ini soal timing saja," jelas Bungaran.

Persoalan utama yang terjadi di pasaran adalah petani lebih memilih menjual gabah dibandingkan beras. Hal ini, kata Bungaran, membuat pedagang berdalih tidak ingin buru-buru membeli gabah petani karena takut over supply. Apalagi gabah ini termasuk komoditas pertanian yang bisa bertahan cukup lama.

"Namanya pedagang kan pasti hitung untung rugi. Makanya kita jangan andalkan pedagang tapi pemerintah masuk ke dalamnya. Bulog ini walau sendirian dengan stok di bawah 10 persen saja sebenarnya sudah bisa berpengaruh ke harga," jelasnya.

Mekanisme bertahan dari pedagang inilah, kata Bungaran, yang membuat harga gabah anjlok. Sementara, harga beras tetap stabil.

"Gabah ini kan tidak langsung masuk ke konsumen, harus diubah dulu jadi beras, kemudian dibawa ke kota. Nah ini kan butuh waktu. Tapi nanti ini pengaruhnya di petani. Gabah turun, harga beras turun, kalau panen sudah sempurna dan impor sudah masuk. Jadi soal timing saja di mana kecenderungannya nanti akan merugikan petani," urainya.

Akibatnya, petani tidak bisa mengharapkan harga yang ideal karena impor sudah masuk dan produksi dalam negeri melimpah, mengingat periode Februari-Maret ini akan terjadi panen raya. Untuk mengantisipasi anjloknya harga gabah, Bungaran meminta Bulog harus membeli gabah petani.

Selain menjaga harga petani, juga menjadi momentum bagi Bulog untuk segera mengisi stoknya yang semakin menipis.

Bulog, kata dia, diharapkan melakukan evaluasi terhadap target impornya yang sebelumnya mencapai 500 ribu ton mengingat harga di level petani sudah turun, tinggal Bulog bagaimana untuk meresponnya.

Mengenai target serap gabah 4,4 juta ton dari petani hingga Juli nanti, Bungaran optimis hal itu bisa tercapai. Toh, sekarang sudah banyak wilayah yang panen dan harga turun.

Diketahui, petani di wilayah Jawa Tengah menjerit harga gabah anjlok hingga Rp 3.800 per kilogram. Sayangnya, Bulog belum banyak melakukan aktivitas pembelian gabah. Sebagai upaya perkuat beras cadangan pemerintah yang juga ikut anjlok.

"Harga gabah sekarang turun Rp 3.800 per kilogram. Turunnya harga gabah ini merata di seluruh wilayah Grobogan," jelas Kastuari, petani di Desa Menduran, Kecamatan Brati, Kabupaten Grobogan.

Pedagang beras di Pasar Cipinang, Billy menilai masalah ketidakstabilan harga di Cipinang akibat daerah yang melakukan panen raya memilih mengisi pasar masing-masing terlebih dahulu.


Reporter: Rizaldi Abror
Editor: Arief Prasetyo

Fahrio Rizaldi A.
14-02-2018 00:06