Main Menu

Kerja Sama Negara Islam Bisa Menjadi Ekonomi Tandingan

Iwan Sutiawan
20-02-2018 15:49

Para pembicara seminar internasional di UIN Raden Fatah Palembang. (GATRA/Tasmalinda/FT02)

Palembang, Gatra.com - Negara-negara dengan mayoritas berpenduduk muslim di dunia memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Jika negara-negara Islam terutama negara berkembang mampu berkerja sama melalui kesatuan dagang yang kuat, maka bisa menjadi ekonomi tandingan di dunia.


Pandangan tersebut disampaikan Dutabesar Iran untuk Indonesia, Valiollah Muhammad dalam seminar internasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), Selasa (20/2).

Valiollah mengungkapkan, Iran berjuang melawan kebijakan embargo Amerika yang masih berdampak pada kondisi eknomi. Karena itu, upaya kerja sama antarnegara Islam harus terus ditingkatkan sebagai ekonomi tandingan. Negara-negara Islam di kawasan Asia Tenggara, seperti halnya Indonesia, bisa memelopori kerja sama tersebut.

Selama 39 tahun, Iran berusaha bangkit dengan menciptakan berbagai teknologi. Nantinya, teknologi ini dikembangkan dan dikerjasamakan. "Indonesia dan Iran memiliki kesamaan, yakni sama-sama menjadi negara muslim terbesar, karena itu sangat perlu dilakukan kerja sama yang lebih luas. Iran juga menjalin kerja sama dengan negara Islam lain seperti Palestina dan negara timur Tengah. Kekuatan Islam bisa menjadi ekonomi lain di dunia," ujarnya di hadapan para mahasiswa.

Dia mengatakan, pengalaman Iran mengalami embargo membuat negaranya berjuang menciptakan banyak hal, mulai dari industri mobil nasional, teknologi kesehatan, hingga berbagai teknologi industri lainnya. Hal tersebut juga didukung oleh potensi energi minyak dan gas (migas) yang dimiliki Iran.

"Karena kami [Iran] yakin, teknologilah yang perlu dikuasai karena penguasaan oleh negara lain lebih disebabkan kemajuan teknologi. Sebuah negara tentu tidak akan cuma-cuma membagi teknologi mereka, kecuali terdapat kerja sama yang baik," ungkapnya.

Harapan mewujudkan kekuatan ekonomi tandingan di dunia ini juga dibenarkan oleh duta besar Indonesia untuk Iran, Octaviano Alimudin. Dia mengatakan, Indonesia dan Iran sudah cukup banyak menjalin kerja sama ekonomi. Di antaranya dalam hal pertahanan energi, seperti halnya sudah mengimpor Liquified Petroleum Gas (Lpg) yang harganya lebih murah.

Selain Lpg, perusahaan migas Indonesia, PT. Pertamina juga sedang menjajaki kerja sama eksplorasi minyak di Iran. Negara Indonesia menginginkan agar Indonesia bisa bekerja sama guna mengelola minyak Iran di dalam negeri.

"Kerja sama pertanian, energi separti halnya migas, menjadi potensi yang bagus bagi Iran-Indonesia. Kerja sama yang terjalin juga bisa diperluas, seperti halnya Indonesia juga mendorong potensi ekspor untuk banyak produk perkebunan, seperti halnya kelapa sawit," katanya.

Saat ini, dua kendala perdagangan Iran-Indonesia di antaranya perbedaan mata uang. Iran masih kena afek embargo yang menyebabkan mata uang yang dipergunakan dalam transaksi perdagangan, tidak bisa langsung menggunakan dollar Amerika Serikat (AS). Sedangkan kendala kedua, Iran belum menjadi anggota organisasi WTO yang membuat produk Iran cenderung terkena hambatan tarif dan non tarif.

"Sesama negara muslim, Indonesia mendorong agar produk Indonesia mendapatkan penurunan tarif yang memudahkannya masuk ke Iran," kata Octaviano.


Reporter: Tasmalinda
Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
20-02-2018 15:49