Main Menu

Kemenkop Dorong Koperasi Kembangkan Industri Kentang

Iwan Sutiawan
21-02-2018 11:31

Abdul Kadir Damanik, Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha Kemenkop dan UKM (tengah) berbicara pada Focus Group Discussion (FGD) tentang Pemberdayaan Petani Kentang Melalui Penguatan Koperasi, di Bogor, Jawa Barat (Jabar), Selasa (20/2). (Dok. Kemenkop dan UKM/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Kementerian Koperasi (Kemenkop) dan UKM berupaya menguatkan peran koperasi agar mampu memberikan jasa layanan kepada para petani kentang agar mereka mampu mengembangkan agribisnis kentang dan memasarkan hasilnya.


"Bahkan, juga diharapkan koperasi ini mampu mengolah menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah, sehingga memberikan nilai dan harga yang menguntungkan bagi petani kentang," kata Abdul Kadir Damanik, Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha Kemenkop dan UKM di Jakarta, Rabu (21/2).

Damanik mencontohkan, kolaborasi yang sudah terjalin antara pengusaha dengan ahli kentang dari universitas di Korea Selatan (Korsel). Mereka terus membangun varietas kentang dengan tujuan kepentingan bisnis.

"Hasil sukses mereka di sana akan diterapkan di Indonesia. Mereka akan membangun lembaga riset untuk mengembangkan kentang di Indonesia. Sebagai langkah awal, mereka akan mendatangi dan melihat petani kentang di wilayah Pangalengan [Bandung] dan Dieng [Jawa Tengah]," ujar Damanik.

Adapun kebutuhan kentang Indonesia untuk industri masih impor, sementara untuk konsumsi sangat berlebih. "Kondisi ini yang akan kita perbaiki ke depannya," kata Damanik.

Untuk menguatkan peran koperasi dan mendorong petani mengembangkan komoditas kentang menjadi komoditas yang berdaya saing melalui koperasi sebagai motor penggeraknya, lanjut Damanik, Kemenkop dan UKM menggelar Focus Group Discussion (FGD) tentang Pemberdayaan Petani Kentang Melalui Penguatan Koperasi, di Bogor, Jawa Barat (Jabar), Selasa (20/2).

Kemenkop dan UKM mengundang ahli tentang kentang yaitu Prof YoungSeok (Haktae) Lim Phd dari Kangwon National University, Korsel, dan Dr Ir Awang Maharijaya dari Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai narasumber dalam FGD tersebut.

"Saat ini, produktifitas kentang di Indonesia tergolong rendah dibanding negara maju. Produktifitas kentang di Indonesia berkisar 13 ton per hektare. Sedangkan di negara maju, lebih dari 30 ton per hektare," katanya.

Menurut Damanik, dengan adanya perkembangan teknologi pertanian yang dapat diadopsi oleh petani di Tanah Air, varietas kentang berkualitas tinggi diharapkan bisa didapatkan sehingga produktivitas kentang juga meningkat.

Pengembangan tanaman kentang mempunyai prospek yang baik dan dapat meningkatkan pendapatan petani dan juga negara. "Hanya saja, petani kentang biasanya berperan sebagai penerima harga. Sehingga, tak jarang posisi mereka menjadi lemah dalam menentukan harga," katanya.

Sementara itu, lanjut Damanik, peranan lebih besar dalam pengendalian harga kentang biasanya ditentukan oleh pedagang, mulai dari pengepul, pedagang besar, sampai pedagang pengecer. Adanya fluktuasi harga dapat memengaruhi pendapatan petani maupun pelaku usaha kentang lainnya.

Dalam FGD tersebut Prof. YoungSeok mengatakan, lingkungan industri kentang di Indonesia sangat besar, di mana Indonesia masih mengimpor kentang sebanyak 109.359 ton dengan nilai US$ 17.076.000.

"Tantangan industri kentang di Indonesia adalah pasar kentang didominasi oleh perdagangan umum dengan sistem kontrak yang terbatas. Saya menyarankan agar pengembangan varietas kentang yang baru diprogramkan, di mana bibit tersebut memiliki antioksidan yang tinggi dan nilai industri yang tinggi juga," kata YoungSeok.

Sedangkan Dr. Ir. Awang Maharijaya menjelaskan, kentang dapat dijadikan sebagai komoditi diversifikasi pangan untuk pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. "Gizi kentang lebih tinggi dibandingkan dengam serelia dan umbi lainnya," katanya.

Menurut Awang, kentang dapat dijadikan berbagai macam produk olahan, sehingga kebutuhan kentang diperkirakan akan terus meningkat. Hanya saja, produktifitas kentang nasional masih rendah. Di sisi lain, terus terjadi degradasi lahan karena penanaman kentang terus dilakukan secara terus menerus.


Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
21-02-2018 11:31