Main Menu

BSN Gandeng ESMA, Mudahkan Ekspor Produk Halal ke UAE

Arif Prasetyo
23-07-2018 16:47

MoU Badan Standardisasi Nasional (BSN) dengan Emirates Authority for Standardization and Metrology (ESMA) Uni Emirat Arab. (GATRA/Arif Prasetyo/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Badan Standardisasi Nasional (BSN) melakukan nota kesepahaman (MoU) dengan Emirates Authority for Standardization and Metrology (ESMA) Uni Emirat Arab (UAE) di bidang barang makanan. Penandatanganan yang dilakukan di Kantor BSN, Jakarta Pusat ini bertujuan untuk memudahkan pengusaha makanan di Indonesia melakukan ekspor ke pasar negara UAE.


Mereka menginginkan barang makanan dari Indonesia, seperti biskuit, mie instan, produk olahan daging, permen, jelly dan flavour and food ingredients harus melalui ESMA. Jika tidak, maka produk makan tersebut akan terhambat.

Penandatangan pengembangan kerjasama BSN/KAN dengan ESMA dilakukan Kepala BSN Bambang Prasetya dan Director General ESMA Abdulla Abdelqader Al Maeeni. Juga hadir wakil dari Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, BPJPH-Kementerian Agama, Delegasi ESMA LPPOM MUI, dan pengusaha produk makanan.

Dalam isi perjanjian itu menyatakan bahwa ESMA mengakui sertifikat halal yang diterbitkan oleh lembaga sertifikasi yang diakreditasi oleh KAN berdasarkan standar UAE. Kerjasama ini diharapkan dapat mendorong produsen Indonesia untuk memperluas pasar ke UAE, sehingga akan meningkatkan nilai ekspor Indonesia.

“Dengan ditandatangani kerjasama ini, maka KAN selanjutnya akan melakukan akreditasi kepada lembaga sertifikasi halal untuk produk yang diekspor ke UAE dan melakukan pengawasan terhadap lembaga sertifikasi tersebut untuk mejamin integritas sertifikat halal yang diterbitkan,” jelas Bambang di Jakarta, Senin (23/7).

Lanjut Bambang, UAE ini merupakan pintu gerbang perdagangan ke negara Arab. Negara seperti Kuwait, Qatar, Oman, Arab Saudi, Bahrain. Jika barang produk makanan yang melewati UAE ini, maka secara otomatis negara Arab akan menerimanya.

“Bagi produsen yang sudah melakukan ekspor ke salah satu negara Arab, sertifikat halalnya bisa dilanjutkan ke negera tujuan atau dipindah ke Indonesia,” kata Bambang.

Sementara, Abdulla Abdelqader Al Maeeni mengatakan, dengan MoU ini diharapkan produsen makanan Indonesia bisa bersaing dengan negara lain. Untuk nilai perdagangan antara UAE dan Indonesia baru mencapai 2,2 milyar dolar AS. Bahkan nantinya bisa meningkat setelah MoU ini.

UAE juga melakukan perdagangan dengan beberapa negara dan anggota OKI seperti Malaysia, Mesir, Australia, New Zeland, Brasil dan negara lainnya.

“Dengan kerjsama ini peluang tidak hanya pada negara Arab tapi juga negara lainnya seperti Cina dan India yang memiliki jumlah penduduk muslim banyak,” tambah Bambang.


Editor: Arief Prasetyo

Arif Prasetyo
23-07-2018 16:47