Main Menu

Asia Tenggara Jadi Role Model Industri Asuransi Global

didi
29-08-2018 13:41

James D. Pittman, Presdir MDRT Internasional. (Dok.MDRT.ORG/RT)

Jakarta, Gatra.com - Perkembangan asuransi jiwa di Indonesia khususnya, dan Asia Tenggara pada umumnya menjelma menjadi role model industri asuransi jiwa secara global. Pasalnya, industri asuransi di Asia, seperti Indonesia, mempunyai sistem yang baik, terutama dalam meningkatkan penetrasi industri asuransi melalui peran agen asuransi jiwa.

"Asia Tenggara jadi role model yang bagus untuk pertumbuhan asuransi, karena ada pertumbuhan kelas menengah di wilayah ini. Di sini punya sistem merekrut agen profesional. Produk asuransinya juga sangat inovatif dan kuat. Nah kelas menengah itu hanya tinggal menunggu agen profesional menelpon mereka," kata James D. Pittman, Presiden Direktur MDRT Internasional dalam seminar MDRT Day di ICE BSD City, Tangerang Selatan, Rabu (29/8).

Kondisi tersebut menurut James sangat berbeda dengan di Amerika Serikat. Dimana para agen asuransi di AS membuat rekrutmen sendiri, training sendiri, independen seperti praktik broker asuransi, tidak terikat dengan perusahaan asuransi. Konsekuensinya, lanjut James, banyak populasi yang tidak terasuransikan.

Maka, MDRT Global menaruh perhatian yang tinggi ke Asia Tenggara. Dia mengaku, memang selama empat tahun keliling dunia, dia menemukan di setiap negara yang memilki kelas menegah, termasuk Indonesia, memiliki masalah yang sama.

"Manusia pernah sakit, meninggal, cacat. Nah, kehadiran asuransi membuat keluarga bersatu dan bisnis atau usaha tetap bertumbuh. Jadi MDRT selama 90 tahun telah membantu semua anggotanya terus tumbuh. Salah satunya melalui seminar seperti ini. Seminar ini memberi ide tentang praktik yang bagus dalam industri asuransi, karena pada akhirnya semua industri dan agen asuransi ingin membuat atau memberikan yang terbaik bagi klien atau nasabah," ujar James.

Dalam seminar MDRT Day Indonesia 2018, James berbagi strategi soal praktik yang telah dilakukannya untuk klien. Contohnya, kata James, menciptakan waktu untuk mengetahui ketakutan, harapan dan impian dari klien. Selanjutnya, mengedukasi mereka untuk mencapai impian.

“Dan bagaimana membangun praktik bisnis yang benar dan tumbuh secara konsisten untuk kepentingan keluarga dan bisnis sehingga bisa terlindungi semua," jelasnya.

 

Berdasarkan catatan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, pada kuartal kedua tahun 2018, total tertanggung industri asuransi jiwa mencapai 53, 3 juta orang. Dari angka tersebut, penetrasi asuransi jiwa yang dilihat dari besarnya jumlah tertanggung perorangan terhadap jumlah penduduk menunjukkan nilai di angka 6,6%.

Sementara itu, tenaga pemasaran asuransi jiwa berlisensi pada kuartal II 2018 meningkat 5,7% menjadi 603.605 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 91% dari total pemasaran tersebut berasal dari saluran keagenan.


Reporter: Didi Kurniawan

Editor: Aries Kelana

 

didi
29-08-2018 13:41