Main Menu

BEI Harapkan Investor Lokal Kuasai Pasar Modal Indonesia

didi
16-09-2015 12:49

Perdagangan saham Indonesia (GATRAnews/Ardi Widi Yansah)

Jakarta, GATRAnews - Bursa Efek Indonesia (BEI) berharap investor lokal dapat menguasai kepemilikan saham emiten di lantai bursa. Oleh karena itu, pihak BEI berusaha menjaring masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal.

 

Direktur Pengembangan BEI, Nicky Hogan, mengatakan, komposisi investor lokal di pasar modal khususnya saham hanya mencapai 36%. Sedangkan sisanya sekitar 64% dikuasi oleh investor asing.

 

"Ditargetkan pada 2017 porsi kepemilikan saham oleh investor lokal dapat mendominasi. Persentase itu akan bergeser pelan-pelan, mudah-mudahan dua atau tiga tahun ke depan porsi investor lokal lebih besar," ujar Nicky di Jakarta, Selasa (15/9).

 

Kondisi ini, membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mudah melemah ketika asing melakukan aksi jual saham. Menurut Nicky, dengan tingkat kepemilikan saham yang didominasi lokal maka membuat pasar modal Indonesia dapat lebih terjaga pergerakannya dan mampu menahan sentimen negatif dari dalam maupun luar negeri.

 

"Saya bandingkan dengan Malaysia dan Thailand, di Thailand ada bom di Malaysia ada gonjang ganjing politik tapi indeksnya mereka tidak lebih parah (penurunannya) dari kita. Kenapa kita begitu, karena tingkat keterlibatan investor lokal yang masih kecil," tutur Nicky.

 

Sebagai informasi, jumlah investor asing dan lokal di pasar modal hingga akhir Agustus 2015 mencapai 401 ribu, atau naik 36 ribu dari posisi akhir 2014 sebanyak 365 ribu. Menurut Nicky, upaya BEI menambah investor lokal dengan membuat program-program yang mengedukasi dan mensosialisasikan pasar modal ke masyarakat. 

 

"Misalnya bekerjasama dengan universitas mengadakan seminar, membuka gedung BEI sebagai tujuan wisata edukasi untuk pelajar, menggandeng emiten untuk menginvestorkan karyawannya dan lain-lainnya," jelasnya.

 

Tantangannya, menurut Nicky, adalah soal waktu. Selain itu juga perlu adanya sosialisasi bahwa saham itu tidak bikin pusing, tidak mahal, tidak berisiko, tidak haram dan bukan spekulasi.


 

Reporter: Didi Kurniawan

Editor: Dani Hamdani 

didi
16-09-2015 12:49