Main Menu

Edwin Sebayang: Rupiah Bisa Tembus ke Rp 15.000 per Dolar AS

didi
24-09-2015 13:58

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS melemah (ANTARA/Rivan Awal Lingga)

Jakarta, GATRAnews - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan tembus ke posisi Rp 15.000 per Dolar AS, setelah level batas psikologis Rp14.500 sudah ditembus. Hal itu dinilai akan memberikan pengaruh negatif besar bagi gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang akan tembus ke level 4.005.

 

"Jadi ada tekanan ke sana, saya katakan level Rp 14.500 sudah di tembus ke posisi Rp 14.700 per Dolar. Jadi sangat mudah untuk menembus level Rp 15.000 dan indeks akan tembus ke 4.005," ujar Kepala Riset PT MNC Securities Edwin Sebayang di Jakarta, Rabu (23/9).

 

Menurutnya, pelemahan rupiah masih datang dari eksternal dan internal, tapi lebih dominan dari luar. Dari luar, dia menyebutkan, masih dari China terkait data manufaktur yang mengalami penurunan. Selain itu, Bank Sentral AS atau The Fed juga masih membayang-bayangi mata uang Garuda, di mana sebelumnya ‎The Fed telah lama tidak memberi kepastian terkait suku bunganya.

 

Dari dalam negeri, menurut dia, masih terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia yang banyak direvisi oleh organisasi besar diluar, seperti Bank Dunia (World Bank), Asian Development Bank (ADB), IMF dan lainnya. Alhasil, pelaku pasar (investor) cenderung menarik dananya keluar, sehingga indeks cenderung fluktuatif saat ini.

 

"Rupiah yang tembus ke posisi Rp 15.000 per Dolar AS, maka kinerja emiten juga terganggu. Target pendapatan dan laba mereka tidak sesuai target di awal tahun. Akhirnya, indeks kita juga terpukul," jelasnya.

 

Ancaman pelemahan rupiah dan indeks, Edwin menekankan, masih akan berlangsung lama hingga akhir 2016. Untuk itu, pemerintah harus mengikat keras tali pinggangnya agar bisa mewaspadai semua yang terjadi di masa mendatang.

 

"Kita tidak bisa menentukan price rupiah di level berapa, karena sangat susah memprediksi rupiah di level berapa, kita hanya bisa menjaga. Tidak ada juga yang bisa memperkirakan target dari ekspektasi pasar," tutup Edwin.


 

Reporter: Didi Kurniawan

didi
24-09-2015 13:58