Main Menu

BEI: Depresiasi Rupiah Jadi Kekhawatiran Investor

didi
01-02-2016 14:34

Bursa Efek Indonesia (GATRA/Ardi Widi Yansah)

Jakarta, GATRAnews - Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengatakan, meski sejumlah indikator ekonomi makro domestik tengah berada dalam tren positif, namun sejauh ini sentimen depresiasi rupiah terhadap dollar AS masih menjadi momok yang mengkhawatirkan bagi para investor.

Tito menuturkan, hingga akhir pekan kemarin laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan signifikan menjadi 4.615,16 dibandingkan penutupan di pekan sebelumnya di level 4,456.74.

"Indeks kita naik bagus, tetapi depresiasi pada currency (rupiah) yang ditakutkan. Makanya, stabilitas nilai tukar yang paling mereka (investor) takutkan," kata Tito, di Jakarta, Senin (1/2).

Ia menyebutkan, sepanjang pekan kemarin penguatan IHSG sebesar 3,55% tersebut merupakan yang tertinggi di Asia. "Jepang (Nikkei 225) hanya menguat 3,3%, bahkan China (Shanghai SE) minus 6,14%. Ini yang menarik buat saya," tuturnya.

Menurut Tito, saat ini sejumlah sentimen positif dari indikator makroekonomi domestik menunjukkan tren yang terus membaik, seperti pertumbuhan ekonomi, laju inflasi dan rupiah yang cenderung stabil. "Rupiah yang stabil menjadi sign bagus buat pasar kita," jelasnya.

Tito menilai, saat ini pergerakan rupiah terhadap dollar AS tengah berada pada level yang stabil sesuai dengan fundamental ekonomi nasional. "Rupiah sudah stabil ke Rp13.000-an, perubahan Rp100 atau Rp200 masih baik," katanya.

Ia pun berharap, dalam jangka pendek Bank Indonesia bisa kembali menurunkan tingkat suku bunga acuan (BI Rate) dan rupiah juga akan bergerak stabil dalam tren jangka pendek. "Short term diharapkan ada dana dari tax amnesty dan juga diharapkan ada penurunan harga bensin," imbuhnya.

Selain itu, kata Tito, sentimen positif juga datang dari stabilitas perilaku berpolitik sejumlah partai. "Golkar sudah tenang," kata Tito sembari berharap situasi kondusif tersebut bisa mengembalikan IHSG ke level 5.000.


Reporter: Didi Kurniawan
Editor: Tian Arief

didi
01-02-2016 14:34