Main Menu

Trump Pidato, Dollar Loyo

Rosyid
24-01-2017 08:28

New York, GATRAnews - Dolar AS ambruk ke level terendah dalam tujuh pekan terhadap sejumlah mata uang dunia, Senin waktu AS atatu Selasa dini hari WIB. Pemicunya keperihatinan terhadap awal pemerintahan Presiden Donald Trump yang sejauh ini diguncang gelombang demonstrasi, pidato yang proteksionis dan kemarahan yang terungkap lewat media sosial.

Para pemilik modal mengalirkan dannya  ke Yen sehingga mata uang Jepang ini menguat dua sesi berturut-turut terhadap dolar AS. Sejak awal tahun ini Yen telah menguat tiga persen.

Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia anjlok 0,6 persen pada 100,16. Gara-gara turunya dolar AS 1,4 persen terhadap yen Jepang menjadi 113,01 yen per dolar AS. Anjloknya dolar AS terhadap yen ini adalah yang terbesar dalam sekitar dua pekan terakhir.

Mata uang Inggris sempat menyentuh level tertinggi sejak 16 Desember pada 1,2506 dolar AS. Poundsterling menyentuh level tertinggi dalam enam pekan terakhir. Poundsterling juga menguat terhadap euro pada level terkuat dalam dua pekan terakhir.

Euro menguat 0,5 persen terhadap dolar AS yang ketujuh kalinya dalam sembilan kali perdagangan terakhir, pada 1,0751 dolar AS.

"Ada kegelisahan besar setelah pidato Trump yang sangat agresif, merkantilis yang kebanyakan fokus kepada proteksionis," kata John Hardy, kepala strategi valuta asing Saxo Bank di Copenhagen kepada Reuters dan dikutip Antara, Selasa (24/1).

Ekonomi merkantilis adalah kebalikan dari liberalisme di mana pemerintahan melakukan campur tangan besar dalam pasar dengan menerapkan aturan-aturan. Juga disebut nasionalisme ekonomi yang populer di Eropa Barat pada abad 16 sampai 18.

Indeks dolar AS telah melesat 4,2 persen antara sejak Trump dipilih November silam sampai akhir tahun lalu, sejak itu balik tersungkur sampai 2,5 persen.

Saat itu dolar AS menguat karena kemenangan Trump menimbulkan asumsi dari pasar bahwa pemerintahan baru AS akan fokus kepada stimulus fiskal yang pro pertumbuhan, pengurangan pajak, dan reformasi aturan yang dapat memicu inflasi sehingga memaksa bank sentral AS Federal Reserve menaikkan suku bunga tahun ini yang lebih cepat dari perkiraan.




Editor: Rosyid

Rosyid
24-01-2017 08:28