Main Menu

Rupiah Akan Terseret Hingga Rp 13.800 Jika Fed Fund Rate Naik Tinggi

didi
06-03-2017 17:08

Jakarta, GATRAnews - Pelaku pasar saat ini tengah menyoroti perekonomian global, terutama bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed yang akan menaikan suku bunganya tahun ini. Meskipun telah memprediksi adanya kenaikan, namun pelaku pasar masih mencemaskan besaran kenaikannya.

 

Chief Economist PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Anton Gunawan mengungkapkan, jika kenaikan suku The Fed atau Fed Fund Rate (FFR) cukup tinggi, maka akan menjadi sentimen negatif bagi laju rupiah. Bahkan, dapat menyeret rupiah hingga ke level Rp. 13.800 per dolar AS. Kemungkinan tersebut dapat terjadi, jika naik hingga 2% lebih.

 

Meskipun demikian, Anton mengatakan, sebenarnya selisih antara BI 7 days repo rate dengan Fed rate masih cukup longgar jika kenaikan yang terjadi sesuai prediksi, dimana sebanyak 325 basis poin (bps). Sehingga, naiknya hanya sampai 1,5%, tidak di atas 2%.

 

"BI seven days 4,75%, Fed rate kalau naik ke 1,5% masih ada sekitar 325 bps, harusnya sih masih relatif, oke. Kecuali dia naiknya 2% akan bisa tekan rupiah kalau kejadiannya gitu akan naik ke Rp13.800/USD," ujarnya di Jakarta, Senin (6/3).

 

Namun, Anton memandang, kenaikan bunga Fed Fund Rate hingga di atas 2% cukup kecil. Presiden AS Donald Trump dinilai tidak akan mengeluarkan kebijakan yang agresif, sebab, akan mengganggu perekonomian negaranya.

 

"Tapi capai sana dengan kebijakan Trump dorong ekonomi domestik kalau bisa jangan terlalu cepat kenaikannya," tuturnya.

 

Anton menambahkan, melihat The Fed sendiri sepertinya akan menaikan suku bunganya sebanyak 2 kali, hingga maksimum sebanyak 3 kali. 

 

"Masih dalam jangkauan, efek capital outflow (arus modal keluar) enggak banyak. Di Asia dan ASEAN yang jelas masih ada arus capital inflow (arus modal masuk) , Asia masih jadi satu tempat sasaran capital inflow dunia," ujarnya.


Reporter: Didi Kurniawan

Editor: Dani Hamdani

didi
06-03-2017 17:08