Main Menu

Pionir P2P Lending Marketplace

G.A Guritno
31-10-2017 16:15

Ilustrasi.

Jakarta, Gatra.com - Masih tingginya tingkat penyaluran kredit yang belum terserap, juga proses banking yang tidak mengadopsi teknologi terbaru mendorong perusahaan Investree untuk menghadirkan aplikasi teknologi finansial (tekfin) yang mempertemukan antara pemodal dan peminjam. Menurut Senior Relationship Manager Investree M. Reza Aulia konsep P2P lending di Indonesia baru hadir sekitar tiga tahun yang lalu. ‘’Nah disinilah konsep sharing economic itu dijalankan,“ ujar Reza. Konsep ini dinilai tepat untuk mengatasi gap tingkat kemakmuran di Indonesia yang masih tinggi.

Saat berdiri di awal tahun 2016 Investree hanya menyalurkan pinjaman Rp 50 milyar. Investree yang bernaung di bawah PT Investree Radhika Jaya per akhir Agustus telah menyalurkan dana hingga Rp 300 milyar dengan total jumlah pinjaman sebanyak 900. Penyaluran dana sebesar itu, menurut Reza sudah mencapai 60% dari target hingga akhir tahun 2017. Sampai saat ini, Investree bisa menjaga non performing loan di angka 0%.

Respon masyarakat sangat baik. Reza mengungkapkan sebuah kantor cabang di Semarang baru saja dibuka. Dan menyusul kemudian di Surabaya pada akhir tahun ini. Kini total jumlah lenders berkisar 7.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia.

Karakter investor Investree didominasi oleh generasi milenial. ‘’Peer to Peer Lending ini jawabannya. Hanya dengan bermodalkan mobile phone dan akses internet, anak milenial dapat berinvestasi dan kami sudah menawarkan pada setiap lenders untuk menjadi investment manager bagi dirinya sendiri,” jelas Reza kepada Aulia Putri Pandamsari dari Gatra.

Konsep sharing economic yang digunakan Investree memudahkan pemberi pinjaman untuk mengetahui secara lebih detail profil peminjam. Melalui platform ini, Ia berharap dapat meningkatkan literasi finansial anak muda sekarang dan mencegah investasi bodong yang tengah marak.

Sementara peminjam Investree kebanyakan para pelaku UMKM.

Angkanya mencapai 90% dan sisanya adalah peminjam ritel atau karyawan. hasil bunga yang dijanjikan oleh para investor sudah disajikan dengan transparan. Dua variable pemikat yang diberikan kepada peminjam adalah marketplace fee dan bunga atau interest price. Penghitungan kedua variable ini didasarkan pada pengembalian berdasarkan resiko. Bunga 100% diberikan kepada lenders dengan 9 grades tingkat resiko pengembalian.

Reza melihat perkembangan tekfin untuk UMKM harus didukung penuh mengingat karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan. ‘’Dengan tekfin, masyarakat dimana saja akan jadi lebih mudah mengakses investasi dengan resiko yang jauh lebih kecil dan kebutuhan pembiayaan yang bisa dilakukan selama 24 jam,” katanya optimis.

Kementerian Komunikasi dan Informatika sendiri menurutnya sudah cukup suportif memberi dukungan pada pelaku usaha tekfin. Tetapi Reza berharap hal ini bsia didiskusikan lebih lanjut dengan player-player financial technology (fintech). “Kita harus kolaborasi, duduk bareng, model seperti apa yang tepat diterapkan di Indonesia, tentunya model yang akan ditetapkan ini sudah disesuaikan dengan ketentuan regulator di Indonesia.”


Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
31-10-2017 16:15