Main Menu

Laba PP Presisi Diperkirakan Tumbuh Hingga 10%

didi
23-11-2017 07:49

Ilustrasi.

Jakarta, Gatra.com - PT PP Presisi diperkirakan mampu membukukan margin pertumbuhan laba sebesar 8%-10% pada 2017. Angka tersebut berada di atas rata-rata perusahaan konstruksi lainnya yang sekitar 4%-7%. Demikian hasil riset penjamin  pelaksana emisi efek Penawaran Umum Perdana (Initial Public Offering/IPO) saham PT PP Presisi yakni PT Bahana Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas dan PT Mandiri Sekuritas.

 

Ketiga penjamin emisi tersebut juga memperkirakan margin laba bersih PP Presisi akan tetap berada di atas 10% pada 2018. Kinerja laba bersih tersebut  ini didukung oleh pendapatan yang diprediksi mencapai Rp1,6 trilyun pada 2017, tumbuh 340% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

 

“Pangsa pasar yang luas dan dukungan alat berat yang jumlahnya lebih dari 1.500 unit dari merek-merek terkemuka, seperti Komatsu, Caterpillar, Liebherr, Hino, Sakai, dan Kobelco menjadi keunggulan kompetitif perusahaan,” jelas riset tersebut, dikutip Gatra.com, Kamis (23/11).

 

Sebelumnya, Analis Binaartha Parama Sekuritas Reza Priyambada pernah mengatakan, IPO PP Presisi akan laris manis. Lantaran investor melihat kinerja induk usaha perusahaan, yakni PT PP.

 

Selain itu, kata Reza, penggunaan dana IPO pun dinilai tepat. "Kalau digunakan untuk belanja modal dan ekspansi jadi lebih positif di mata investor, dibandingkan untuk pembayaran utang," ujar Reza.

 

Benny Pidakso, Direktur Keuangan PP Presisi mengatakan, tahun ini, perseroan menargetkan kontrak baru sekitar Rp 5 trilyun yang berasal dari berbagai proyek, seperti jalan tol, jembatan, dermaga, bandara, bangunan, pekerjaan sipil dan struktur bangunan.

 

“Per tanggal 31 Juli 2017, PP Presisi telah memperoleh kontrak baru sebesar Rp2,5 trilyun. Ditambah dengan carryover tahun lalu sebesar Rp4,9 triliun, berarti Perseroan sedang mengerjakan proyek senilai total Rp10 trilyun,” jelasnya.

 

PP Presisi telah memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melakukan Penawaran Umum Perdana (PUP) pada 16 November 2017. Saham Perseroan yang bernominal Rp100 per unit itu akan dicatatkan dan mulai diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 24 November 2017.

 

Anak usaha PT PP (Persero) Tbk (PTPP) itu, memiliki portofolio proyek yang tersebar di seluruh Indonesia dan mempunyai kompetensi pekerjaan konstruksi sipil maupun struktur bangunan dengan standar internasional.

 

“PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) adalah perusahaan konstruksi skala besar yang melakukan project management. Pekerjaan dirty works di lapangan seperti cut and fill, pematangan lahan, pemasangan pondasi, dan pembetonan dilakukan PP Presisi," kata Benny.

 

Menurut Benny, pekerjaan konstruksi sipil dan struktur bangunan berkontribusi sekitar 80% terhadap pendapatan perseroan. "Sebagai perusahaan kontraktor sipil yang memiliki alat berat terbanyak di Indonesia, efek positifnya margin laba PP Presisi jauh lebih baik. Kalau rata-rata kontraktor itu net profit margin sekitar 4%, margin PP Presisi 10%," jelas Benny.

 

Adapun harga yang ditawarkan dari IPO ini sebesar Rp430  per saham. Sehingga, dana segar yang akan diperoleh perseroan dari aksi ini mencapai sebesar Rp1,82 triliun.

 

Sekitar 70 persen dana dari hasil lPO akan digunakan  untuk belanja modal khususnya penambahan peralatan dan pembelian lahan untuk workshop.  Sementara 30 persennya untuk modal kerja dalam mendapatkan dan menyelesaikan proyek-proyek infrastruktur.


 

 

Reporter: Didi Kurniawan

Editor: Rosyid

 

 

 

 

 

 

didi
23-11-2017 07:49