Main Menu

12 Bank Berikan Pinjaman Rp 19,2 Trilyun untuk Proyek LRT

Fahrio Rizaldi A.
29-12-2017 16:31

Penandatanganan kontrak pinjaman antara KAI dengan 12 Bank Sindikasi terkait kerja sama pembangunan proyek LRT Jabodebek. (Dok. Kemenko Kemaritiman/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) baru saja menandatangi perjanjian dengan Adhi Karya dan PT Kereta Api Indonesia (KAI), Jumat lalu (12/12). Persyaratannya, mengenai tata cara pembayaran untuk pembangunan prasarana LRT Jabodetabek.


Guna menindaklanjuti perjanjian tersebut, PT. KAI melakukan kontrak dengan dua belas bank sindikasi yang melibatkan bank swasta nasional dan bank asing. Bank-bank itu antara lain Bank Mandiri, BNI, BRI, BCA, CIMB Niaga, dan PT SMI, serta bank-bank lain yang juga bertindak sebagai kreditur dalam transaksi ini diusahakan Bank DKI, BTMU, Hana Bank, Shinhan Bank Indonesia, Bank Sumut dan Bank Mega. 

Kontrak biaya itu sebesar Rp 18.100.000.000.000 (18,1 trilyun) untuk kredit investasi, dan Rp. 1.150.000.000.000 (1,1 trilyun) untuk kredit modal kerja. Kontrak ini disepakati berjalan selama 18 tahun dan dinilai sebagai pinjaman terbesar yang dibuat perusahaan.

Total komitmen pembiayaan dari seluruh bank sindikasi sebesar Rp 28,6 trilyun telah melampaui kebutuhan pinjaman yang diperlukan KAI atau oversubscribed sebesar 1,5 kali. Rincian komitmen pembiayaan dari Joint Mandated Lead Arrangers and Bookrunners (JMLAB) sebesar Rp 24 trilyun. Sedangkan dari kreditur di luar JMLAB sebesar Rp 4,6 trilyun.

Penandatanganan ini merupakan bentuk dedikasi KAI dalam mendukung tersedianya infrastruktur di Indonesia. Lebih lanjut, bagi KAI, penandatanganan ini dilakukan agar KAI dapat segera menggarap penugasan Presiden Republik Indonesia, sehingga target operasional LRT Jabodetabek pada 2019 mendatang dapat tercapai.

Sementara di sisi perbankan nasional, penandatanganan ini juga menunjukkan adanya harmonisasi di antara perbankan Himbara, swasta lokal, dan swasta asing. Keterlibatan perbankan asing menegaskan bahwa proyek ini tidak hanya sekedar penugasan dari pemerintah, namun juga menunjukkan bahwa proyek ini secara komersial dinilai feasible dan bankable.

Pemerintah yang diwakili oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Pandjaitan menyambut baik penandatanganan kontrak pinjaman antara KAI dengan 12 Bank Sindikasi terkait kerja sama pembangunan proyek LRT Jabodebek tersebut.

"Ini adalah suatu kemajuan yang sangat signifikan, oleh karena baru pertama kalinya suatu proyek pemerintah bisa ditangani secara sindikasi," ujar Luhut di Hotel Kempinkski, Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (29/12).

Menurut Luhut, dengan nilai pinjaman sebesar Rp 19,25 trilyun dan jangka waktu kontrak selama 18 tahun, adalah angka yang besar dan bisa dijadikan model pendanaan proyek pemerintah lainnya di masa depan. "Sekarang tidak harus membebani APBN, model pendanaan seperti ini akan kita refinancing setelah berjalan 3-4 tahun ke depan. Nanti mungkin dengan bunga lebih murah kita bisa kembangkan LRT ini dengan trayek yang lebih luas," katanya.

Sementara itu, Direktur Utama KAI, Edi Sukmoro mengatakan, kontrak pinjaman ini adalah bentuk komitmen KAI untuk melancarkan proyek LRT Jabodetabek. "Diadakannya penandatanganan kontrak pinjaman dengan bank sindikasi ini menjadi salah satu bentuk komitmen KAI untuk mendukung pemerintah melancarkan proyek LRT Jabodebek. Setelah ini, kita semua tentu berharap proses pengerjaan proyek ini lancar dan dapat memenuhi target operasionalnya pada 2019 nanti," ujar Edi. 

Sesuai Perpres No. 49 Tahun 2017, KAI diberi penugasan oleh pemerintah untuk menyelenggarakan sarana dan prasarana proyek LRT Jabodebek, mulai dari pembangunan/pengadaan, pengoperasian, perawatan, dan pengusahaan aset sarana dan prasarana dengan masa konsesi selama 50 tahun sejak ditandatanganinya berita acara beroperasinya LRT Jabodebek.

Rencananya, LRT Jabodebek yang akan ditargetkan beroperasi pada 2019 itu akan beroperasi 140 kali perjalanan per hari pada hari kerja dengan waktu antara rata-rata tiga sampai enam menit. Masyarakat yang akan menggunakan moda transportasi LRT ini dapat naik dari 17 stasiun pemberhentian LRT di Jabodebek.

Dengan tarif awal yang ditetapkan Pemerintah sebesar Rp.12.000, LRT diharapkan dapat menarik minat masyarakat untuk beralih dari kendaraan bermotor pribadi. Dengan 6 (enam) kereta per trainset, LRT Jabodebek mampu mengangkut 116 ribu penumpang per tahun pada awal masa operasinya di 2019 dan diharapkan meningkat menjadi 474 ribu penumpang pada tahun 2069.


Reporter: Rizaldi Abror
Editor: Iwan Sutiawan

Fahrio Rizaldi A.
29-12-2017 16:31