Main Menu

Ada Harapan Besar Pelaku Pasar di 2018

didi
03-01-2018 12:18

Presiden Joko Widodo. (Antara/Puspa Perwitasari/AK9)

Jakarta, Gatra.com - Memasuki tahun politik 2018, Presiden Joko Widodo meminta investor dalam dan luar negeri tidak khawatir terhadap spekulasi kabar buruk situasi ekonomi dan politik di Indonesia. 

 

“Dulu tahun 2015 ngomongnya wait and see karena Pilkada, Masuk 2016 ada Pilkada wait and see, tahun 2017 ada Pilkada wait and see, tahun 2018 ada Pilkada wait and see, 2019 ada Pilpres wait and see.  Politik biarlah politik, mari kita garap bersama-sama urusan ekonomi,” ujar Presiden Jokowi sebelum penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir 2017 lalu. Jokowi menegaskan kondisi politik Indonesia akan tetap terkendali. “Kesimpulannya adalah yang penting jangan takut, resiko selalu ada. Tapi justru itulah peluangnya," tegas Presiden.

 

 Analis pasar modal dari Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada mengatakan, optimis  kinerja industri pasar modal di 2018 tetap tumbuh dibandingkan tahun sebelumnya, meski dibanyangi risiko politik. “Hingar-bingar politik di dalam negeri memang akan membuat investor berhati-hati. Namun, kinerja pasar modal tetap akan tumbuh seiring dengan ekonmi nasional," jelasnya.

 

Pada 2018, dia mengatakan, terdapat pelaksanaan Pilkada secara serentak, serta manuver politik menjelang pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Di tengah situasi itu, pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan terkonsolidasi.

 

“Potensi IHSG naik cukup terbuka hingga semester pertama tahun depan. Memasuki semester kedua akan konsolidasi karena dipengaruhi oleh hingar bingar politik. Namun, biasanya hanya bersifat jangka pendek, apalagi kalau semua asumsi berlangsung aman-aman saja," tuturnya.

 

Dia juga menyampaikan optimistis agenda politik itu akan berjalan kondusif sehingga pertumbuhan ekonomi nasional dapat tumbuh sesuai target pemerintah sekitar 5,4%. Tengok saja, pada pilkada sebelumnya, atau pemilu tahun 2004, 2009, dan 2014 lalu, kinerja IHSG tetap positif.

 

Dirut BEI, Tito Sulistio mengatakan, situasi politik yang sedang terjadi di dalam negeri menjelang Pilkada serentak tidak memengaruhi industri pasar modal domestik. “Secara historis, kondisi politik dalam negeri tidak berdampak ke pasar saham. Memang banyak yang bilang situasi politik akan mengganggu, tapi tidak bagi pasar modal,” jelas Tito.

 

Selain itu, dia juga mengungkapkan, industri pasar modal meraih kinerja positif selama 2017, salah satunya dapat dilihat dari indeks harga saham gabungan (IHSG) yang mencatatkan rekor baru. Mengakhiri perdangan akhir tahun, IHSG ditutup naik 20% di sepanjang tahun 2017 menjadi ke level 6.355,65 poin, merupakan rekor tertinggi di pasar modal.

 

“BEI mencatat tahun 2017 merupakan tahun yang mencerminkan keceriaan, kebahagiaan dan kebanggaan dari para pelaku pasar modal," ujarnya.

 

Kinerja pasar modal yang positif, lanjut dia, juga tercermin dari peningkatan jumlah investor yang meningkat 44% dalam dua tahun terakhir menjadi 1,12 juta investor, serta diikuti kenaikan nilai investasi investor domestik yang mencapai Rp340 trilyun di sepanjang tahun ini. Selain itu, dia mengatakan bahwa di sepanjang tahun 2017 ini terdapat 37 perusahaan tercatat yang melakukan pencatatan perdana saham (initial public offering/IPO) di BEI, yang juga merupakan tertinggi di BEI dalam 23 tahun terakhir, serta yang terbanyak diantara negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

 

Dia menambahkan investor asing juga masih menetapkan investasinya di Indonesia, hal itu dapat dilihat dari data statistik BEI, dimana investor asing hanya merealisasikan 15% dari total kenaikan investasinya sebesar Rp261 trilyun. Pencapaian tahun ini, Tito juga menyampaikan, diikuti oleh peningkatan literasi pasar modal yang berdasarkan survei AC Nielsen, meningkat dari 4,3% di 2016, menjadi 15% di 2017.

 

“Peningkatan itu salah satunya dihasilkan dari 'Kampanye Yuk Nabung Saham' yang terus digencarkan sejak tahun 2015," katanya.

 

Pada saat yang sama, jumlah dana yang berhasil dihimpun turut mencapai nilai tertinggi sepanjang sejarah, yakni mencapai lebih dari Rp802 trilyun, yang berasal dari IPO, penerbitan penambahan saham baru (rights issue), konversi waran, sekuritisasi aset dan penerbitan obligasi pemerintah, BUMN maupun swasta,


 

 

 

 

 

Reporter: Didi Kurniawan

Editor: Rosyid

didi
03-01-2018 12:18