Main Menu

Notulen The Fed Menjadi Sorotan, Apakah USD akan Unjuk Gigi?

Flora Librayanti BR K
04-01-2018 14:08

Ilustrasi. (Pixabay/Geralt/AK9)

 

 

Jakarta, Gatra.com - Investor memulai 2018 dengan positif sehingga saham AS melejit ke level tertinggi baru pada hari perdagangan pertama. “Optimisme di hari pertama ini didukung oleh data ekonomi Cina yang menggembirakan,” ujar Chief Market Strategist ForexTime (FXTM), Hussein Sayed dalam rilis yang diterima Gatra.com hari ini, Kamis (4/1/2017). Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Desember juga melampaui ekspektasi yaitu data aktual 51.5 vs ekspektasi 50.6.

Data dari Eropa juga menggembirakan. Manufaktur melaporkan kinerja bulanan terbaik sejak diciptakannya mata uang tunggal Euro. PMI Zona Euro mencapai 60.6 pada Desember dan mengisyaratkan bahwa pertumbuhan tampaknya akan tetap sehat sepanjang 2018.

 “Elemen yang kurang untuk ekspansi ekonomi global di 2017 adalah inflasi. Namun dengan peningkatan permintaan konsumen, penurunan tingkat pengangguran, dan naiknya harga komoditas, ada harapan bahwa inflasi akan kembali muncul di tahun 2018,” tambah Hussein.

Salah satu topik yang paling banyak menjadi polemik tahun lalu adalah kurva imbal hasil yang mendatar di Amerika Serikat. Pada Desember, spread obligasi Treasury 10 Tahun / 2 Tahun turun ke 50 bps. Level ini terakhir terjadi di 2007 dan ini menandakan bahwa resesi mungkin mengintai. Tapi jika ditinjau kinerja ekonomi AS dan global, belum ada indikasi bahwa resesi akan segera terjadi.

Saya meyakini bahwa imbal hasil obligasi Treasury adalah indikator yang wajib kita pantau untuk mengetahui kinerja saham AS dan dolar di tahun 2018,” tegasnya lagi.

 Apabila kurva Phillips, "hubungan terbalik antara level pengangguran dan laju inflasi" akhirnya muncul setelah menghilang selama beberapa tahun terakhir, kurva imbal hasil seharusnya mulai meningkat. Kinerja Dolar yang membuka Tahun Baru ini dengan bergerak ke arah turun akan bergantung pada besar perubahan kurva imbal hasil.

 Kenaikan imbal hasil Treasury 10 Tahun AS mendekati 3% - 3.5% mungkin dapat memulihkan sebagian dari penurunan Dolar yang terjadi di tahun 2017. Tapi pergerakan yang lebih tinggi dari itu akan memiliki dampak negatif terhadap saham dengan probabilitas penurunan 5%-10% semakin besar.

Notulen Federal Open Market Committee (FOMC), yang merupakan dewan rapat kebijakan bank sentral Amerika Serikat, yang dirilis Rabu ini akan meninjau prospek inflasi AS. Apabila Fed menunjukkan kekhawatiran tentang kenaikan ekspektasi inflasi karena kebijakan fiskal dan pasar tenaga kerja yang membaik, investor mungkin akan menutup sebagian dari posisi short Dolar. Hal ini akan terefleksikan dalam ekspektasi suku bunga bulan Maret yang menurut FedWatch CME saat ini menunjukkan probabilitas 56.3% akan ada kenaikan suku bunga di bulan Maret.


 

Editor : Flora L.Y. Barus

 



 



 



 

Flora Librayanti BR K
04-01-2018 14:08