Main Menu

BEI: Shutdown AS Tak Pengaruhi Pasar Modal Indonesia

didi
22-01-2018 11:56

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Tito Sulistio. (GATRA/Agriana Ali/AK9)

 

Jakarta, Gatra.com - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai, secara historis kondisi penghentian layanan pemerintah (shutdown) di Amerika Serikat tidak akan berdampak langsung ke pasar modal domestik.

 

 

"Kalau shutdown di AS hanya berlangsung satu sampai dua pekan, maka secara historis kondisi tersebut tidak akan berdampak buruk ke pasar modal kita," kata Direktur Utama BEI, Tito Sulistio saat acara "MNC Sekuritas: Investor Gathering & Corporate Forum 2018" di Jakarta, Senin (22/1).

 

Tito mengungkapkan, kekuatan pasar modal domestik terhadap sentimen shutdown pemerintah AS tersebut lantaran nilai kapitalisasi pasar di BEI hingga akhir pekan kemarin mencapai Rp7.210,08 trilyun. "Kami rasa shutdown AS paling lama 18 hari, tetapi market cap kita masih kuat yang hampir Rp7.250 trilyun," jelasnya.

 

Bahkan, kata Tito, nilai kapitalisasi pasar BEI sebesar Rp7.210 trilyun itu belum termasuk dana yang ada pada instrumen obligasi mencapai Rp2.000 trilyun. "Kekuatan pasar saham kita juga tercermin dari rata-rata transaksi harian yang sudah mencapai Rp8,9 trilyun (per akhir pekan kemarin)," ujar Tito.

 

Dia menambahkan, para investor domestik tidak perlu mengkhawatirkan besaran net sell asing di 2017 yang mencapai Rp40 trilyun, karena pelarian dana tersebut hanya sebagian kecil nilai keuntungan yang diambil dari pasar modal.

 

"Yang menariknya, net sell asing itu justru yang diambil oleh investor domestik, sehingga IHSG di akhir 2017 menguat 20%," kata Tito.

 

Namun demikian, jelas dia, kondisi shutdown pemerintah AS dalam jangka waktu lama akan berdampak pada kinerja ekspor Indonesia, lantaran dollar AS berpotensi untuk melanjutkan tren depresiasi terhadap rupiah. "Ekspor kita memang sekarang sedang menguat, tetapi rupiah kita juga terus menguat," jelas Tito.

 

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2017 porsi ekspor Indonesia ke AS mencapai 11,2% dari total ekspor atau mencapai US$17,1 milyar. Sebagaimana diketahui, nilai neraca perdagangan Januari-Desember 2017 yang mencatatkan surplus US$11,84 milyar.

 

Sementara itu Analis Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada memperkirakan shutdown di AS berimbas pada penguatan nilai tukar rupiah. Terapresiasinya rupiah ini menurutnya akan memicu kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan ini.

 

Apalagi, menurut Reza, IHSG menguat dengan menyentuh rekor terbarunya pada perdagangan akhir pekan lalu. IHSG diprediksi akan bergerak pada level support 6.446-6.478 dan resisten pada level 6.520-6.548 pada perdagangan awal pekan ini.

 

"Pergerakan IHSG masih mampu bertahan di zona hijaunya seiring dengan bertahannya aksi beli meskipun secara volume cenderung terlihat menurun," ujar Reza.

 

Amerika Serikat resmi bekukan operasional administrasi pemerintahan mereka setelah senator Demokrat dan Republik gagal mencapai kesepakatan mengenai anggaran belanja 2018 mendatang. Akibat tidak disetujuinya rancangan anggaran pemerintah oleh Senat, maka secara teknis, pemerintah AS kehabisan uang operasional pada Jumat (19/1) malam, waktu setempat. Atau Sabtu (20/1) pagi waktu Indonesia. Ironisnya, penghentian operasional pemerintah -atau yang sering dikenal dengan istilah 'shut down' ini- terjadi berbarengan dengan peringatan satu tahun pemerintahan Presiden Donald Trump.


 

Reporter: Didi Kurniawan

Editor: Rosyid

didi
22-01-2018 11:56