Main Menu

Tidak Anti Asing, Tapi Genjot Produsen Lokal

Aulia Putri Pandamsari
03-02-2018 15:59

Ilustrasi Produk Lokal (Iluistrasi UKM (Dok.GATRA/FT02)

Jakarta, Gatra.com- Pasar produk lokal di e-commerce masih terbuka luas. Sebab dari total jumlah pengguna internet di Indonesia sebanyak 132 juta orang, jumlah pengguna transaksi daring baru ada 28 juta orang dengan rata-rata pengeluaran sebesar US$251 atau setara Rp 28 juta.  

 

"Potensi besar untuk dimanfaatkan para pebisnis lokal. Ini wake up call untuk mengambil kesempatan berinvestasi pada produk yang dihasilkan oleh para pembuat aplikasi," kata Dirjen Aplikasi Informatika (Aptika) Kementerian Komunikasi dan Informasi, Samuel Pangerapan dalam diskusi dengan media bertajuk “Darurat Serbuan OTT Asing” di Warung Daun, Sabtu(3/2)

 

Dikatakan Samuel bahwa serapan produk dalam negeri pun baru sekitar 7%. Untuk itu, pihaknya akan menggalakkan agar produsen barang lokal untuk menjual barangnya secara online. “Yang akan kita lakukan adalah membantu UKM tersebut dengan teknologi baru," ungkapnya. Seperti mengedukasi dalam hal packaging yang baik, safety (tingkat keamanannya), serta mempermudah beberapa produk seperti makanan untuk didaftarkan di Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

 

Tidak hanya itu, upaya tersebut juga diyakini agar transaksi penjualan online pun dapat meningkat. "Kita tidak bisa hanya mengandalkan bank saja, tetapi tugas kita adalah membuat semakin banyak orang untuk bertransaksi dan menjual produk lokal,” ungkap Samuel.

 

Samuel juga mengatakan bahwa kerja sama perlu dilakukan tidak hanya di antara kementerian terkait namun memerlukan dukungan dari asosiasi dan stakeholder lain. Termasuk dari para investor lokal untuk menjamah usaha kecil menengah tersebut dan mempromosikan produk buatan mereka.

 

Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia(idEA), Aulia E. Marinto menegaskan bahwa yang penting dilakukan adalah tidak membatasi produk asing, tetapi fokus pada percepatan peningkatan produk lokal. Sebab selama ini produk impor yang berada di e-commerce lebih banyak berasal dari toko offline yang kemudian diperdagangkan secara online.

 

“Bukan e-commercenya yang tidak mau menjual produk lokal tetapi bagaimana meningkatkan  kemampuan dari para pelaku usaha tersebut untuk bisa mempermudah jualannya dengan teknologi” kata CEO Blanja.com itu.


Reporter: APP

Editor : Birny Birdieni

 

 

Aulia Putri Pandamsari
03-02-2018 15:59