Main Menu

Misbakhun Tak Mau Calon Gubernur BI Punya Agenda Tersembunyi

Flora Librayanti BR K
10-02-2018 16:24

Misbakhun. (Dok Gatra/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Masa jabatan Agus Martowardojo sebagai gubernur Bank Indonesia (BI) akan berakhir pada Mei mendatang. Kabar yang beredar menyebut empat nama kandidat gubernur BI sudah diusulkan ke Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Saya berharap nama yang akan diusulkan nanti benar-benar punya pengalaman bekerja bersama dengan Presiden Jokowi. Tujuannya agar (gubernur BI terpilih) mengerti vibrasi getaran hati Presiden mengenai arah kebijakan ekonomi moneter ke depan seperti apa,” ujar anggota Komisi XI DPR RI, M Misbakhun, melalui pesan singkat, Sabtu (10/02).

Nantinya, Presiden Jokowi akan mengajukan nama calon gubernur BI pilihannya ke DPR. Di DPR, nama yang diusulkan akan menjalani uji kelayakan dan kepantasan (fit and proper test) di Komisi XI DPR.

Legislator Golkar itu menambahkan, kandidat calon gubernur BI juga sudah semestinya loyal kepada Presiden Jokowi selaku kepala negara. Dengan demikian, kebijakan moneter bank sentral bisa sinkron dengan kebijakan fiskal pemerintah.“Sehingga bauran kebijakan moneter dan fiskal membuat pertumbuhan ekonomi bisa menopang kesejahteraan rakyat,” sebut Misbakhun.

Lebih lanjut Misbakhun mengatakan, gubernur BI mendatang sebaiknya figur yang bersih dari pengaruh kekuasaan sebelumnya. Dengan demikian gubernur BI yang baru nanti tidak punya rekam jejak dengan kekuasaan masa lalu.

“Jangan sampai punya agenda tersembunyi kebijakan di bidang moneter yang akan menggerogoti kebijakan ekonomi nasional yang digariskan oleh presiden dengan bersembunyi di balik alasan independensi BI dalam merumuskan kebijakan moneter,” kata Misbakhun.

Hal lain yang juga tidak kalah penting, figur gubernur BI juga tidak boleh satu klik dengan Menteri Keuangan yang sedang menjabat. Menurut Misbakhun, hal itu  demi meminimalkan risiko dan menghindari kongkalikong dalam pengambilan kebijakan ekonomi strategis dan penting pada masa-masa krisis.

“Dengan demikian pengalaman seperti kasus bailout Bank Century tidak terulang di masa depan,” ujar mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) itu.

Bagi Misbakhun penting untuk menyampaikan sejumlah warning ini karena Indonesia memiliki pengalaman tentang kebijakan rasio kredit terhadap nilai agunan (loan to value, LTV) untuk mengindari bubble economy yang justru menghambat pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, pengalaman selama ini menunjukkan BI sering terlalu lama menurunkan suku bunga acuan atau BI rate. Akibatnya, program single digit rate di sektor perbankan terlambat diterapkan meski pemerintah telah berkali-kali meminta Bank Indonesia menurunkan BI rate.




Editor : Flora L.Y. Barus

Flora Librayanti BR K
10-02-2018 16:24