Main Menu

Potensi Bisnis Hotel Bintang Empat di Jakarta Masih Menggiurkan

Andhika Dinata
24-11-2016 16:14

Jakarta, GATRAnews - Potensi bisnis hotel di Indonesia ternyata masih menggiurkan. Sejak diterpa badai persaingan dan isu moratorium hotel sejak dua tahun terakhir, bisnis hotel saat ini masih terus eksis dan berkembang. Kondisi bisnis properti hotel di 2016 cenderung dikatakan lebih beruntung bila dibanding tahun-tahun sebelumnya.

 

Bila berkaca pada kondisi di 2014, di beberapa wilayah Bandung dan Bali, tercatat beberapa hotel budget (hotel bertarif ekonomis) yang siap dilego lantaran tidak kuat bersaing. Masalah klasik yang dihadapi tidak jauh-jauh dari penurunan omset akibat menurunnya Tingkat Hunian kamar (occupancy rates).

 

Akibatnya banyak hotel yang berada di wilayah destinasi wisata Indonesia yang gulung tikar. Banyak pula hotel yang harus “perang tarif” untuk mengongkosi kebutuhannya.


Bagi hotel yang sudah eksisting, tinggal menggenjot promosi dan mempertahankan pangsa pasar konsumen hotel. Namun bagi pelaku usaha yang akan membangun harus bertarung dengan menaiknya investasi hotel akibat melambungnya harga tanah (land) dan properti bangunan.


Studi Indonesia Property Watch pada 2015 menyebutkan bahwa harga tanah di Bali sudah mencapai 2 miliar per are (100 meter persegi). Dalam ukuran bidang yang lebih kecil, harga tanah di kawasan tersebut berkisar Rp. 35 juta per meter persegi. Bahkan beberapa titik wilayah menakar harga lebih tergantung lokasi dan peruntukan (highest and best uses).


Dengan harga land yang terus meroket itu, menutup kemungkinan untuk membuka keran investasi baru khususnya bagi hotel budget yang cenderung menuntut biaya investasi yang lebih rendah. Kondisi yang sama ditemukan di wilayah Bandung, Yogyakarta, bahkan di daerah Jakarta mengalami apresiasi harga tanah yang semakin fantastis.


Pakar properti Ali Tranghanda menyebutkan kenaikan investasi hotel salah satunya disebabkan kenaikan harga tanah yang seiring dengan pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi dan pasar. Tak terkecuali pertumbuhan hotel di jantung ibukota, DKI Jakarta. Ali menyebutkan pertumbuhan hotel di wilayah DKI Jakarta cenderung lebih stabil bila dibandingkan dengan kawasan lainnya. “Perkembangannya masih ideal”, ujar pakar Indonesia Property Watch (IPW) itu.


Tranghanda menandaskan persaingan hotel di Jakarta justru terjadi pada tingkat hotel budget karena jumlahnya yang terus bertambah. “Hotel di Jakarta yang bintang tiga ke bawah persaingannya masih tinggi,” ujarnya kepada GATRA News. Sementara untuk perkembangan kelas hotel berbintang (bintang 4 dan 5) dinilai masih kompetitif.

 

“Kalau di kelas budget udah mulai nggak sehat (persaingannya), occupancy-nya ada tapi sudah nggak maksimal”, terang pria berkacamata itu.


Bahkan dalam studi terakhir yang pernah dilakukannya, tingkat hunian hotel berbintang di Jakarta jauh lebih tinggi dibanding hotel biasa. “Hotel bintang 3 occupancy-nya di bawah 49%, sedangkan bintang 4 ke atas di 52%” jelasnya.

 

Beberapa kawasan di Jakarta yang masih menjadi daya tarik untuk pembangunan investasi hotel di antaranya wilayah Cawang (Jakarta Timur) dan Kawasan SCBD Senayan (Jakarta Selatan). “Meski di beberapa kawasan sudah crowded, tapi di wilayah itu masih (berkembang)”.


Salahsatu contoh Hotel Harper (Grup Archipelago International) yang terletak di bilangan MT Haryono, Cawang. Hotel bintang empat yang baru dibangun di 2016 itu menambah kemegahan bangunan di kawasan Jakarta Timur. Suwarjono, General Manager Hotel menerangkan salahsatu alasan dibangunnya hotel di daerah Cawang karena kawasan tersebut dinilai cukup potensial dan strategis dari aspek lokasi dan aksesbilitas konsumen hotel.


Faktor kedekatan dengan bandara baru Halim Perdanakusuma juga jadi rujukan. “Banyaknya program penerbangan di wilayah penerbangan Internasional Halim meyakinkan kita bahwa bisnis hotel saat ini semakin membaik dan semakin optimistik”, ujarnya.


Ia meyakini pengembangan bisnis hotel di Jakarta dan Indonesia akan terus berkembang mengingat besarnya potensi devisa yang berasal dari sektor pariwisata dan perhotelan. “Di periode pemerintahan saat ini potensi bisnis hotel sungguh berkembang melihat potensi jasa pendapatan devisa Indonesia sebagian besar itu berasal dari dunia pariwisata dan perhotelan”, terang Suwarjono.


Untuk meningkatkan daya saing, lanjutnya, perlu peningkatan kualitas fasilitas hotel didukung konsep MICE (Meeting, Incentive, Convention dan Exhibition). “Archipelago International membangun wilayah ini (Cawang) menjadi lebih kompetitif dengan sarana prasarana yang menunjang baik dari segi teknologi dengan konsep rustic maupun style bisnisnya”, pungkasnya.


Reporter : Andhika Dinata

Editor : Dani Hamdani

 

Andhika Dinata
24-11-2016 16:14