Main Menu

Generasi Milenial Perlu Edukasi Kesadaran Beli Properti

didi
23-03-2017 18:38

Jakarta, GATRAnews - Pengamat industri properti Alvin Andronicus, mengajak kalangan pelaku industri properti di Indonesia untuk lebih aktif mengedukasi pasar properti bagi generasi milenial. Yakni generasi yang kini berusia antara 27-37 tahun, atau merupakan pangsa terbesar dari angkatan kerja di Indonesia saat ini. Diperkirakan jumlahnya lebih dari 22,5 juta orang.

“Godaan bagi mereka kini sangat banyak. Saat ini, banyak Generasi Milenial yang tidak lagi menempatkan kebutuhan properti sebagai bagian dari kebutuhan pokok yang harus mendapatkan skala prioritas dalam budget keuangan mereka sehari-hari. Kalau habis gajian, yang dipikirkan mereka kemana mau traveling, beli gadget baru apa, atau ikut trend baru apalagi. Ini berbeda dengan generasi saya dulu. Waktu saya mulai bekerja, tahun 1985, gaji pertama langsung saya tabung. Dan pada tahun kedua bekerja, tabungan sudah cukup buat membayar DP kredit rumah karena takut kelak tidak punya rumah,” ujar Alvin dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/3).

 

Menurut Assistant Vice President Marketing Podomoro Golf View (PGV) ini, jika tidak ada perhatian dan edukasi, maka generasi milenial di Indonesia kedepan bisa terancam tidak mempunyai rumah.

 

“Saat ini, banyak yang sudah cukup puas dengan menanti rumah warisan dari orang tua atau mertua. Mereka pembelanja yang baik (good spender), tapi konsumtif dan kurang kesadaran investasi,” ujar Alvin.

 

Keprihatinan Alvin cukup beralasan, karena hingga pejabat tinggi seperti Menteri Koordinator Bidang Ekonomi dan Keuangan, Darmin Nasution, pada bulan lalu juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap masa depan kepemilikan rumah bagi Generasi Milenial atau disebut juga Generasi Y, Gen-Y.

 

Menurut Darmin Nasution, dalam beberapa tahun terakhir ini kenaikan gaji pegawai rata-rata hanya sebesar 10% per tahun. Sementara di kota-kota besar, kenaikan harga tanah bisa 20-50% per tahun. Kenaikan harga tanah itu berimbas pada kenaikan harga properti. Sehingga dikhawatirkan generasi milenial kedepan akan tidak akan mampu membeli hunian.

 

"Pemerintah sedang berupaya merumuskan berbagai kebijakan untuk mengantisipasinya,” ujar Damin Nasution beberapa waktu lalu.

 

Menurut Alvin Andronicus, perusahaan pengembang, bank-bank, dan agensi properti, perlu memikirkan bagaimana menciptakan gimmick-gimmick baru yang bisa merangsang Generasi Milenial agar mempunyai kesadaran membeli properti.

 

"Persoalannya bukan semata pada besarnya gaji yang mereka terima, tetapi juga bagaimana mereka bisa mengatur keuangan, dan menempatkan kebutuhan investasi hunian sebagai bagian dari prioritas,” ujar Alvin.

 

Dari sekitar 3.500 unit apartemen di Podomoro Golf View (PGV) yang saat ini sudah dibeli, dari 4.000 unit yang ditawarkan, menurut Alvin Andronicus, 20% merupakan pembeli dari Gen-Y, sedang sisanya dari Gen-X (usia 37 tahun keatas). Alvin berharap, komposisi itu bisa berubah lebih seimbang hingga 60% pembeli Gen-Y dan 40% Gen-X.

 

Saat ini, sudah ada banyak bank yang sebenarnya menyediakan fasilitas kredit properti yang lebih mudah bagi Gen-Y. Mulai dari bunga kredit yang rendah bagi Gen-Y, persyaratan kredit yang dimudahkan dan menjadi nasabah prioritas, angsuran lunak kredit properti, hingga jaminan asuransi yang diberikan jika Gen-Y mengalami masalah pelunasan kredit properti.

 

"Saat ini, beberapa bank memberikan kemudahan berupa keringanan mengangsur dengan tenor sampai dengan 25 tahun. Ini merupakan investasi beresiko kecil namun sangat menguntungkan. Dalam lima tahun, kita hanya perlu membayar 20%, namun dapat dipastikan kenaikan harga dalam kurun waktu tersebut sudah lebih dari 50%,” jelas Alvin.

 

Menurut Alvin, fasilitas-fasilitas itu dapat dimanfaatkan oleh kalangan Generasi Milenial untuk mendapatkan hunian pertama mereka. Terutama bagi Gen-Y yang telah berkeluarga.

 

 

Reporter: Didi Kurniawan

didi
23-03-2017 18:38