Main Menu

REI Ungkap Pengaruh Depresiasi Rupiah Terhadap Properti

Andhika Dinata
05-09-2018 14:32

REI ungkap pengaruh depresiasi rupiah. (Dok.Ist/RT)

Jakarta, Gatra.com - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (US$) memiliki ekses ke berbagai sektor. Industri properti termasuk sektor yang terkena imbas pelemahan tersebut. Terperosoknya nilai tukar rupiah disinyalir bisa berdampak buruk bagi bisnis properti karena terjadinya tren penurunan minat konsumen terhadap rumah subsidi maupun komersial.

 

Informasi terkini, nilai tukar rupiah terhadap US$ terus melemah dan menembus level Rp15.000 per US$, per hari ini (5/9). Depresiasi nilai tukar rupiah sepertinya akan masih berlanjut yang diakibatkan faktor eksternal maupun internal.

“Industri properti akan terdampak pada sisi demand side dan supply side sekaligus,” kata Wakil Ketua Bidang Riset dan Luar Negeri DPD (dewan Pimpinan Daerah Real Estate (DPD REI) DKI Jakarta Chandra Rambey.

Menurut Chandra, penurunan minat beli masyarakat terhadap perumahan tidak terlepas dari rencana dan kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam menetapkan suku bunga acuan. Secara umum pengaruh depresiasi rupiah terhadap dolar akan memberikan dampak besar seiring kenaikan suku bunga acuan BI.

"Apabila BI melakukan kenaikan BI rate tentu Perbankan juga akan melakukan adjusment terhadap suku bunga di masing-masing Bank," kata Chandra kepada Gatra.com. Apabila hal tersebut terjadi, industri properti akan langsung terpengaruh oleh kenaikan suku bunga tersebut.

Kenaikan suku bunga acuan BI (BI Rate) sambungnya jelas akan berpengaruh terhadap perbankan yang ikut menaikkan suku bunga kredit untuk perumahan. Sementara masyarakat dengan asumsi pendapatan yang tetap akan berkurang daya belinya dengan adanya kenaikan harga jual rumah maupun peningkatan suku bunga di Bank.

“Dari sisi demand, daya beli masyarakat terhadap properti hunian misalnya, akan turun karena biaya angsuran KPR (kredit pemilikan rumah) akan naik sementaran pendapatan masyarakat masih tetap. Hal ini akan menurunkan tingkat penjualan pengembang”. Seberapa besar penurunan minat masyarakat terhadap perumahan terang Chandra dapat dikaji dan dianalisa dari kenaikan suku bunga masing-masing Bank.

Sementara di sisi supply, kenaikan suku bunga akan meningkatkan beban bunga yang harus dibayar perusahaan pengembang di samping beban biaya konstruksi yang diperkirakan juga akan mengalami kenaikan.

Chandra menjelaskan kondisi riil industri properti semester pertama 2018, sebenarnya sudah menunjukkan gejala pelambatan, khususnya di sektor hunian. Itu bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Hal ini lebih disebabkan stagnasi ekonomi indonesia yang ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi yang hanya di kisaran 5%-an. Apabila depresiasi rupiah terus terjadi dan BI menaikkan suku bunga acuannya untuk menjaga stabilisasi nilai tukar, diperkirakan industri properti akan mengalami pukulan lumayan besar,” jelas Chandra yang juga Presiden Direktur PT. Provalindo itu.

Untuk mengantisipasi hal tersebut menurut Chandra, Pemerintah bersama dengan BI dan pengembang dapat duduk bersama mengambil langkah-langkah strategis agar dampak terhadap industri properti dapat termitigasi dengan baik.

“Apabila depresiasi Rupiah tidak diantisipasi oleh Pemerintah, dampak terhadap industri properti akan nyata dan bisa mengakibatkan krisis properti yang juga memicu krisis di sektor industri lainnya”, tukasnya lagi.


Reporter: Andhika Dinata
Editor: Mukhlison

Andhika Dinata
05-09-2018 14:32