Main Menu

Golkar Terpuruk, PDIP Terdongkrak 

Dani Hamdani
18-12-2015 21:40

Simpatisan PDIP pada Pilkada di Jawa Tengah (GATRA/Antara/Ismart Patrizki)

Jakarta, GATRAnews - Pada tiga Pilkada 2015 di DI Yogyakarta, semua jago PDI Perjuangan (PDIP) tumbang. Menang telak di Pileg dan Pilpres 2014 di lima kabupaten/kota di DI Yogyakarta bukan jaminan PDIP menang di Bantul, Gunungkidul, dan Sleman. Kekalahan Sri Surya Widati alias Ida Idham Samawi, petahana Bupati Bantul sekaligus istri Ketua DPP PDIP, Idham Samawi, misalnya, mengejutkan banyak pihak. 

 

Kekalahan "dinasti" Idham Samawi yang berkuasa di Bantul selama 15 tahun, cukup mengagetkan. Idham menjabat bupati dua periode, yakni: 2000-2010, dilanjutkan istrinya hingga 2015. Faktor paling mencolok penyebab kekalahan PDIP di Bantul adalah pecahnya dukungan partai. Sejak pencalonan nama, Ida bukan nama tunggal, meski akhirnya ia mendapat rekomendasi DPP PDIP.  

 

Nama yang sempat muncul dalam bursa calon dari PDIP Bantul adalah Suharsono, mantan polisi, yang akhirnya diusung Gerindra-PKB dan menjadi pemenang. Waktu itu, banyak kader PDIP pendukung Suharsono membelot. Sejumlah pengurus, temasuk ketua dan wakil ketua dipecat.

 

Mereka membentuk kelompok Jas Merah. Ini ditambah sejumlah laskar underbow PPP, partai yang menyatakan mendukung Ida, juga menyatakan diri mendukung Suharsono. Dalam hitungan sementara, Suharsono-Abdul Halim Muslih mendulang suara 53,08%. 


Selain di Bantul, pasangan yang diusung PDIP di Sleman juga kalah dari bupati petahana Sleman, Sri Purnomo. Di Sleman, hanya dua pasangan calon (paslon). Sri Purnomo berduet dengan Muslimatun melawan bekas wakilnya, Yuni Satia Rahayu, kader PDIP.  

 

Ketua PDIP Sleman sekaligus ketua tim pemenangan Yuni-Danang, Koeswanto, menegaskan adanya tudingan praktek politik uang oleh kubu Sri Purnomo. "Uang reses dijadikan uang transportuntuk pembelokan suara secara door to door," ujar dia. Praktek politik uang itu terjadi di Desa Sidoarum, Godean. Di hitungan sementara, Sri Purnomo menang 57%. 


Sedangkan Ketua PDIP, Bambang Praswanto, menyebut kekalahan PDIP lantaran banyak kader yang membelot, seperti di Gunungkidul. Bahkan pengurus sudah menyiapkan sanksi dan surat pemecatan. Namun saat dihubungi GATRA, Bambang tak mau berkomentar. "Maaf, no comment, mas," ujarnya. 

 

Pilkada Gunungkidul memiliki empat pasangan calon. Suara terbanyak diperoleh pasangan petahana Badingan-Immawan Wahyudi, disusul usungan PDIP tanpa menggandeng partai lain, Djangkung Sudjarwadi-Endah Subekti.

 

PDIP Gunungkidul bisa dikatakan tidak solid. Sebelum pilkada, PDIP Gunungkidul memecat Ketua PDIP Gunungkidul, Budi Utama --yang pernah mengklaim siap menjadi bupati-- dan menggantinya dengan Endah. 


PDIP Lampaui Target  

 

Hasil Pemilu Legislatif 2014 (Dok Majalah GATRA no 7/XXII, Des 2015 )
Hasil Pemilu Legislatif 2014 (Dok Majalah GATRA no 7/XXII, Des 2015 )

Meskipun keok di Bantul, Sleman, dan Gunungkidul, dalam pilkada serentak 2015 ini PDIP mengklaim melampau target kemenangan. Menurut Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Hukum, Andreas Hugo Perreira, dari 269 daerah penyelenggara pilkada, PDIP ikut di 265 daerah, baik sebagai pengusung maupun sebagai pendukung. 


Dari penghitungan sementara tim PDIP mengklaim menang di 160 daerah. Perolehan ini melampaui target yang dipasang sebelumnya, hanya 156 daerah. "Dari 160 pilkada yang kita menangkan, yang murni kader PDIP atau kita sebagai pengusung utama, menang di 85 daerah," katanya kepada GATRA. 


Selain itu, ada 20 pilkada di provinsi, dan kabupaten/kota tempat PDIP menjadi pengusung sendiri. Dibandingkan dengan pilkada periode lalu, perolehan ini, menurut Andreas, mengalami kenaikan. Bahkan, ada beberapa daerah yang hasilnya cukup mengejutkan. Daerah yang secara tradisional sebelumnya tidak pernah menang. 


"Misalnya di Sulawesi Selatan, ada enam kebupaten yang PDI Perjuangan menang. Sebelumnya, kalaupun menang, paling sebagai pendukung saja," katanya. Andreas mengungkapkan, faktor kemenangan di pilkada serentak perdana ini tak lepas dari persiapan yang cukup matang di level struktur kepemimpinan di DPD.  

 

PDI Perjuangan mensupervisi dengan baik hampir semua daerah menjelang pilkada. Mulai dari proses rekrutmen, menggerakkan mesin partai dan kader-kader di tingkat DPD dan DPC. "Sudah kita persiapkan bahkan sejak Pileg 2014. Kader-kader partai di tingkat DPD, DPC, kita all out memberikan dukungan," katanya. 

 

Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP, Bambang Dwi Hartono mengatakan, dari perhitungan sementara di sembilan pilgub, PDIP sebagai pengusung telah memenangkan empat pemilihan gubernur/wakil gubernur. Pilgub yang dimenangi PDIP yakni: Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimatan Selatan. Di tiga pilgub lainnya kader PDIP menjadi pendamping. 


"Kita akan bekerja keras lagi untuk Pilgub Kalteng yang belum digelar karena diundur. Kalteng, kantong PDIP sejak Pemilu 1999, tidak pernah kalah baik pileg maupun pilgubnya," kata Bambang. 

 

Menurutnya, ada dua faktor kemenangan PDIP di pilkada serentak. Pertama, ketajaman dalam pemilihan calon. Kebijakan partai untuk pemilihan calon sangat rapi melalui survei. Kemudian, mengadakan psikotes, setelah itu mempersiapkan mesin partai. "Kita melatih para manajer kampanye, melatih mereka yang menangani saksi, dan para jurkam," katanya. 

 

Faktor kedua, katanya, mesin partai bisa berjalan baik karena kebijakan pimpinan partai efektif berjalan sampai level bawah. Dia juga tak menampik faktor kemenangan di pilpres ikut memengaruhi. "Misalnya, di beberapa daerah yang kursi PDIP kecil, tapi malah menarik minat calon incumbent untuk mengganti calon pendamping diambil dari PDIP," katanya. 


Agung: Golkar Gak Kalah-kalah Amat

 

Kemenangan Partai dalam Pilkada Serempak 2015 (Dok GATRA/JPPR 2015)
Kemenangan Partai dalam Pilkada Serempak 2015 (Dok GATRA/JPPR 2015)

Sementara itu, perolehan suara Partai Nasional Demokrat (Nasdem) di pilkada serentak lumayan fantastis. Perhitungan internal melalui dokumen C1 yang diunggah KPU menunjukkan partai telah mencapai target. Ketua Badan Pemenangan Pemilu Nasdem, Enggartiasto Lukito, mengklaim Nasdem mengantongi 139 kemenangan dari 248 pasangan calon yang diusung dan didukung. 


"Memang masih bisa berubah 139 dari 248 itu. Tapi itu sudah lebih dari 50%," katanya kepada GATRA, Selasa pekan lalu. Jika terjadi sengketa hasil pilkada, Nasdem siap menghadapi. Enggar mengatakan partainya telah membentuk badan advokasi hukum.

 

Badan ini membentuk dua tim, yaitu tim yang akan menerima gugatan dan tim yang akan menggugat hasil pilkada. Pendampingan hukum berlaku untuk semua pasangan calon (paslon) usungan Nasdem. 


Nasdem dalam Pileg 2014 ada di urutan kesembilan dengan perolehan suara 6,72% mampu meraup banyak kemenangan dalam pilkada serentak, tidak demikian dengan Partai Golkar. Golkar dalam Pileg 2014 meraup 14,75% suara, namun dalam pilkada serentak tidak mampu berbicara banyak. 

 

Dari 265 wilayah penyelenggara pilkada, Golkar hanya berpartisipasi di 116 daerah. Golkar mengusung calon di 54 pilkada, sementara sisanya adalah calon yang didukung Golkar bersama partai lain. Jika ditotal, kemenangan Golkar, baik dari calon yang diusung sendiri maupun didukung bersama partai lain terdapat di 93 wilayah.

 

"Nggak menang-menang amat kok," kata Agung Laksono, Selasa sore pekan lalu di DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta. 

 

Meskipun begitu, perolehan itu tetap menggembirakan Agung. Pasalnya, hasil ini diraih di tengah kekisruhan dualisme kepemimpinan dalam tubuh partai. "Sekarang gembira, karena kemenangan itu pada saat kami kesulitan," katanya. 

 

Demi pilkada, kedua kubu membentuk Tim Penjaringan Pilkada Partai Golkar atau Tim 10. Meski begitu, tetap saja terjadi perdebatan alot soal calon yang akan maju dalam pilkada. "Proses penentuan itu paling sulit. Yang kami setujui belum tentu sana setuju, begitu pula sebaliknya. Untung ada Tim 10 yang menjembatani," katanya. 

 


PAN, Nasdem, dan Demokrat Master Koalisi

 

Partai pengusung Pasangan Pilkada serentak 2015 (GATRA/JPPR 2015)
Partai pengusung Pasangan Pilkada serentak 2015 (GATRA/JPPR 2015)

Penghitungan hasil pilkada serentak di 264 daerah hingga Senin pekan lalu masih berjalan di KPU masing-masing daerah. Akan tetapi, data formulir yang masuk ke situs kpu.go.id bisa menggambarkan para pemenangnya. Data di situs itu juga bisa menunjukkan partai yang paling banyak mendulang kemenangan dari calon yang diusung dan calon yang ikut didukung.  

 

Pemetaan oleh Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) mengenai potensi kemenangan pasangan calon dapat menggambarkan parpol yang paling sukses mengusung calon dan parpol yang berhasil membangun koalisi dengan partai lain. Hitungan sementara menyatakan bahwa PDIP adalah partai dengan calon paling banyak menang. 

 

Sedangkan PAN, Nasdem, dan Demokrat ialah tiga partai yang paling sukses membangun koalisi dalam pengajuan calon. Dalam siaran persnya, Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR), Masykurudin Hafidz, menyatakan bahwa pemetaan ini bertujuan memudahkan masyarakat pemilih untuk mengetahui hasil sementara rekapitulasi pilkada secara nasional. 

 

Data dalam pemetaan berdasarkan formulir C1 yang terekapitulasi mencapai 90% atau lebih. Dari situ, terdapat 208 daerah dari 269 daerah pilkada dengan rincian: Ada 208 daerah telah mencapai rekapitulasi C1 mencapai 90% atau lebih dengan selisih 3%. Ada 47 daerah yang masih belum mencapai 90%. Ada sembilan daerah yang sementara dimenangkan oleh pasangan calon perseorangan dan lima daerah pilkada yang ditunda.

 
"Pemetaan ini ingin mengkhususkan kepada peta kemenangan di 208 daerah yang rekapitulasi C1 lebih 90%," katanya, Senin pekan lalu. Berdasarkan partai, dari 208 daerah Pilkada, PDIP mendapatkan kemenangan terbanyak, yaitu 105 daerah, disusul oleh Gerindra sebanyak 87 daerah, Nasdem 85 daerah, dan PAN 80 daerah. 

 

Menurut Masykurudin, jumlah kemenangan setiap parpol tidak selalu sebangun dengan jumlah pasangan calon yang diajukan. Dari 630 pasangan calon di pilkada serentak, PDIP paling banyak mendukung pasangan calon (paslon), yaitu 244 paslon. Menyusul kemudian Gerindra (211 paslon), Demokrat (205 paslon), Nasdem (199 paslon), dan PAN (195 paslon). 

 

Peningkatan persentase antara perolehan kemenangan dan jumlah pencalonan pada pilkada serentak dialami Demokrat, Nasdem, dan PAN.

Sedangkan penurunan terlihat pada Hanura, PKS, dan PBB. Adapun untuk PDIP, Gerindra, PKB, dan Golkar, persentase kemenangan mereka stagnan. 

 

Masykurudin mengungkapkan, keberhasilan membangun koalisi paling tinggi dicapai oleh PAN, Nasdem, dan Demokrat. "Strategi politik ketiga partai, yaitu membangun koalisi yang relatif merata, dapat meningkatkan jumlah kemenangannya di pilkada," ujarnya.

 

Selanjutnya, kemenangan PDIP hasil raihan sendiri atau bersama Nasdem, PAN, Demokrat, dan Hanura, Masykurudin mengatakan bahwa itu dapat menguatkan kerja-kerja politik di daerah. Berpijak pada pemetaan itu, menurut Masykurudin, Partai Golkar tidak mendapatkan cukup banyak kemenangan di pilkada serentak.  


 

Partai dan Masyarakat lebih Dewasa


Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Ferry Kurnia Rizkyansyah, menilai penyelenggaran pilkada serentak sudah sesuai dengan target. Segala sesuatu yang sudah disiapkan, diadakan sesuai prosedur. "Bahwa kemudian ada dinamika, ini bukan kesalahan KPU semata. Ada proses di luar itu yang harus dipahami," katanya.  

 

Ferry mengakui mengenai sepinya partisipasi pemilih. Menurutnya, sepinya partisipasi pemilih pada 9 Desember kemarin sebaiknya dibandingkan dengan penyelenggaraan pilkada lagi, bukan dengan Pilpres 2014 lalu. Jika perbandingannya pilkada pada 2005 atau 2010, perubahannya tidak terlalu signifikan. "Ada yang naik, ada yang turun," ujarnya. 

 

Banyak faktor yang memengaruhi. Ferry menyebut salah satunya jagat perpolitikan nasional yang tengah mengalami turbulensi. "Misalnya, kasus korupsi dan banyak kasus lain," katanya. Selain itu, faktor pasangan calon, iklim, dan pertimbangan ekonomi. "Ada yang berpikir, daripada pergi ke TPS mending cari duit," ujarnya. 

 

Pengamat politik asal LIPI, Firman Noor, melihat pilkada serentak kali ini menunjukkan sebuah kedewasaan, baik di level masyarakat maupun di level partai. Sekalipun begitu, Firman mencatat rendahnya partisipasi masyarakat. "Ini menunjukkan ada apatisme masyarakat yang mungkin sumbernya peforma politisi yang tidak meyakinkan di level lokal," katanya. 

 

Gejolak internal partai bisa memperburuk performa. Akibatnya, partai menjadi tidak solid. Masalah pengurus ganda di Golkar membuat partai itu tidak maksimal di pilkada. Sebab, di level bawah saling jegal-menjegal. Sedangkan kasus hukum yang menimpa mantan petinggi Nasdem ternyata tidak berdampak buruk pada pilkada serentak. Artinya, menurut Firman Noor, pilkada ini akhirnya harus dilihat dalam konteks daerah itu sendiri. 


G.A. Guritno, Joni Aswira Putra, Hayati Nupus, Putri Kartika Utami, dan Arif Koes Hernawan (Yogyakarta) 

Laporan Khusus, Majalah GATRA, Edisi no 7 tahun XXII, Beredar Kamis, 17 Desember 2015

Dapatkan di toko buku, toko majalah digital (Scoop, Wayang) atau pesan antar di GATRAKIOSK

 

BACA JUGA >>> Pilkada Susulan: Menanti Putusan MA  

Dani Hamdani
18-12-2015 21:40