Main Menu

Arus LGBT Masuk Kampus  

Dani Hamdani
06-02-2016 21:46

Ilustrasi LGBT di Kampus (Majalah GATRA/Drigo Tobing)

Jakarta, GATRAnews - Oriel Lesmana dan Stanley Osyaviva asyik menyeruput teh dingin di gerai minuman sebuah mal di Semarang, tengah hari, Selasa lalu. Di dada mereka tersemat bros Rumah Pelangi Indonesia (RPI) dengan logo warna pelangi. Oriel, 31 tahun, pendiri RPI, dan Stanley, 22 tahun, ketuanya kini. 

 

Terbentuk pada 17 Mei 2009, RPI menjadi grup pendukung, pendampingan, penyedia informasi, dan shelter bagi komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). 

 

Pengurus RPI 11 orang. Jika "kopi darat", bisa sampai 50 orang. Oriel dan Stanley seorang gay. Di akun Facebook, pendukung komunitas ini 7.000-an orang. Beda dengan komunitas LGBT lain di Semarang, RPI khusus anak muda usia 15-25 tahun. 


Mereka rutin ketemu tiap bulan. Februari ini, dalam momen Valentine, ada agenda charity. Minggu, 7 Februari ini, ada kampanye LGBT di car-free day Semarang. Akhir Februari ini, meski belum final, direncanakan diskusi LGBT di lembaga penerbitan mahasiswa hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. 

 

''Kami fokus ke yang muda. Konsepnya youth movement,'' ujar Stanley, mahasiswa angkatan 2015, jurusan komunikasi, Universitas Semarang (USM). Oriel menegaskan, lembaganya tidak mengajak jadi LGBT. 

 

''Jika memaksa jadi LGBT, malah bisa depresi,'' Stanley menjelaskan. Peserta konseling diberi pandangan dua sisi. Masing-masing ada konsekuensinya. 

 
Persentase peserta yang memilih jadi LGBT dan tidak, kata Oriel, fifty-fifty. Selama RPI menggelar konseling, kata Oriel, hanya satu orang yang mundur dari komunitas dan menjalani terapi secara agama. ''Tapi dia masih nyumbang acara kami,'' ujar dia.

  
Meski bukan komunitas kampus, mereka berjejaring dengan mahasiswa. RPI diundang mahasiswa untuk kegiatan akademik. Misal, untuk mata kuliah psikologi abnormal atau bahasan hukum dan HAM untuk kalangan LGBT. Hampir semua kampus di Semarang pernah menggelar diskusi atau kuliah yang melibatkan LGBT.  

 

Nyaris tiap kampus ada semacam SGRC (support group & research center) untuk LGBT, namun tidak menggunakan nama perguruan tinggi. Istilahnya, peer education, pendidikan sebaya. Untuk Semarang, kata Oriel, ajang ini ada di Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Semarang (Unnes), USM, Universitas Katolik Soegijapranata, bahkan UIN Walisongo menerbitkan jurnal tentang pernikahan sesama jenis. 


Pada 2005 pernah terbit buku "Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlidungan Hak-Hak Kaum Homoseksual" oleh Lembaga Studi Sosial dan Agama, Semarang. Buku ini kumpulan artikel di jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN Semarang. Mahasiswa LGBT menggelar forum diskusi tanpa nama. Oriel mengakui, dibandingkan dengan 10 tahun silam, ajang diskusi LGBT saat ini cenderung meningkat. 


Tolak Versus Dukung LGBT


Geliat gerakan LGBT di kampus belakangan tengah dalam sorotan. Menteri Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) M. Nasir pada situs berita detik.com, 24 Januari, menyatakan, LGBT tidak sesuai tatanan nilai dan kesusilaan bangsa Indonesia. ''Saya melarang di semua perguruan tinggi di Indonesia yang di bawah Kemenristek Dikti,'' kata Nasir, yang juga Ketua Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama. 


Larangan Nasir itu menyusul peredaran kabar aksi SGRC untuk konseling LGBT di Universitas Indonesia (UI) dan pembentukan SGRC di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam brosur yang beredar, termasuk lewat jaringan media sosial, SGRC UI memberikan layanan LGBT peer support network.

 

Bekerja sama dengan situs Melela.org, SGRC UI menyediakan konseling. Ditampilkan penggalan testimoni dan foto dua mahasiswa FISIP UI dan dua alumni (Jurusan Sastra Prancis dan Manajemen) yang berorientasi seksual LGBT. 


''Saya selalu berdoa kepada Tuhan agar saya 'disembuhkan' dari ketertarikan yang sempat saya pahami sebagai dosa besar ini,'' tulis Tegar Ramadhan, lulusan Sastra Prancis UI 2016 pada brosur SGRC UI yang bisa diakses di situs Melela.org. Setelah menerima informasi seksualitas, ''Saya mulai bisa menerima fitrah diri saya yang tidak sama dengan orang lain,'' Tegar melanjutkan. 


Beredar pula undangan lama, peluncuran SGRC UIN, pada Kamis, 22 Oktober 2015, di Aula Gedung FISIP UIN Jakarta. Acara itu diadakan serentak dalam rangkaian Liberty Movie Discussion Emak dari Jambi. Beredar sertifikat ucapan terima kasih dari Liberty Studies kepada SGRC UI atas kerja sama pembentukan dan peluncuran SGRC UIN Jakarta, yang diteken Ketua Liberty Studies, Fadly Noor M. Azizi, mahasiswa ilmu politik FISIP UIN Jakarta. 


Humas UI merilis klarifikasi, 21 Januari lalu, bahwa SGRC UI tidak berhak menggunakan nama dan logo UI dalam aktivitasnya. UI tidak bertanggung jawab atas kegiatan SGRC. Dinyatakan, SGRC tak pernah mengajukan izin kegiatan. SGRC tidak memiliki izin resmi sebagai pusat studi atau unit kegiatan mahasiswa di UI. 


Atas peluncuran SGRC UIN Jakarta, muncul salah satu komentar di media sosial, ''Sekalian pengumuman ya! SGRC hadir di UIN! SGRC UIN! Universitas Islam Negeri! How Cool is That!'' 

 

Wakil Dekan Bidang Akademik UIN Jakarta, Agus Nugraha, pada tanggal yang sama dengan rilis humas UI, 21 Januari lalu, mengeluarkan pemberitahuan. ''FISIP menolak dan melarang keras seluruh kegiatan SGRC dan jenisnya di kampus FISIP UIN Jakarta,'' tulis Agus.  


Respons atas peredaran kabar itulah, Menristek Dikti menyampaikan larangan lisan. Esoknya, 25 Januari lalu, Nasir memberikan klarifikasi lewat akun Twitter-nya. Ia tidak melarang segala bentuk kegiatan terkait LGBT. ''Kampus terbuka lebar untuk segala kajian, edukasi yang bertujuan membangun kerangka keilmuan,'' kata Ketua Nasir. 


''Larangan saya terhadap LGBT masuk kampus apabila mereka melakukan tindakan yang kurang terpuji seperti bercinta, atau pamer kemesraan di kampus.'' Nasir menambahkan, ''Mau menjadi lesbian atau gay itu hak masing-masing individu, asal tidak mengganggu kondusivitas akademik.'' 


Pernyataan Menristek Dikti didukung Ketua MPR Zulkifli Hasan dan Mendikbud Anies Baswedan serta sejumlah pejabat publik lain. Rekasi kontra bermunculan. Komunitas LGBT menggelar gugatan terbuka dalam konferensi pers di LBH Jakarta pada Rabu, 27 Januari lalu. 

 
"Kami meminta Presiden RI Joko Widodo menindak tegas Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Menteri Pendidikan, Wali Kota Bandung, dan beberapa anggota DPR yang memuat rasa kebencian kepada LGBT," ujar Slamet Rahardjo, Koordinator Divisi Advokasi Gaya Warna Lentera Indonesia (GWL-INA), di Gedung LBH Jakarta, Rabu, 27 Januari lalu. 


Petisi pro-kontra online juga muncul. Di situs change.org muncul petisi agar Menristek Dikti ''Cabut Pernyataan LGBT merusak moral bangsa & pelarangan Masuk Kampus'' sejak 25 Januari. 

Sampai Rabu pekan ini didukung 1.900-an orang. Pada situs itu, 25 Januari juga muncul petisi pro Menteri Nasir, tapi hanya sehari, petisi itu dihilangkan. Yang tersisa petisi kontra Nasir. 


Petisi tandingan muncul di situs petisionline.net, ''Tolak LGBT: Dukung dan Lindungi 7 Pejabat Negara'', sejak 30 Januari lalu. Sampai Rabu pagi pekan ini, dalam lima hari, petisi itu didukung 3.800-an. 

 

Tujuh pejabat itu adalah Menristek Dikti, Ketua MPR, Mendikbud, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, anggota Fraksi PPP Reni Marlinawati, anggota Fraksi PKS Nasir Jamil dan komisionir KPAI, Erlinda. 


Apa Kata Mahasiswa Aktivis LGBT  

Fadly Noor M. Azizi, 23 tahun, salah satu founder SGRC UIN Jakarta, membenarkan kelompok diskusinya mendukung hak-hak sipil kaum LGBT. ''Mereka minoritas yang tertindas. Apalagi, di tengah masyarakat yang belum mengerti LGBT,'' tuturnya. 

''Kita nggak akan memberikan stigma LGBT itu nggak dosa, itu di luar kita. Kita bukan MUI. Tapi kita peduli dan concern terhadap masalah kemanusiaannya,'' kata mahasiswa Jurusan Ilmu Politik UIN Jakarta ini. 

 

Rekan Fadly dari UI, Nadya Karima Melati, 21 tahun, Co-Founder SGRC UI, menyebut organisasinya fokus pada seksualitas dan gender. Berdiri pada 2014, SGRC UI punya tiga program: edukasi internal, edukasi eksternal, dan advokasi. Kini anggotanya lebih 223 orang. 

 

Bila ada orang yang butuh pendampingan mengenai orientasi seksual. ''Mereka datang, curhat, kita arahkan ke psikolog,'' kata Nadya kepada Andi Anggana dari GATRA. 

 

''Sebagai mahasiswa yang katanya agent of change, kita harus memberikan suara kepada orang-orang yang tidak bersuara seperti mereka,'' kata Nadya. SGRC, menurutnya, fokus pada pengkajian. Bukan gerakan pembelaan. ''SGRC, mungkin kelompok mahasiswa yang berani menyuarakan, bagaimana sih kehidupan seksual atau minoritas gender di Indonesia,'' ujar mahasiswa sejarah UI ini. 


Oriel, pendiri RPI Semarang, merasakan, pernyataan Menristek Dikti berdampak pada surutnya diskusi LGBT di kampus. Mereka belum mau diajak menggelar acara. Masalah utama LGBT dari kampus, termasuk untuk coming out (menyatakan diri) adalah takut pada akses pendidikan. 


Sebelum pernyataan Menristek Dikti, yang mantan rektor Undip, Rektor Undip saat ini, Yos Johan Utama, berpesan pada mahasiswa yang hendak KKN agar tidak menyebarkan LGBT. ''LGBT kan kelompoke wong sing ora payu to kuwi (kelompoknya orang yang tak laku)?,'' katanya, Senin, 18 Januari lalu. 

 

''Ini aneh, entah kebetulan atau tidak'' kata Oriel. November 2015 lalu, diskusi LGBT oleh Lembaga Pers Mahasiswa Gema Keadilan Fakultas Hukum Undip dilarang pimpinan universitas. 


Oriel menyangkal asumsi kehidupan kampus memicu atau jadi sarana penyebaran LGBT. Umumnya LGBT merasa dirinya demikian sejak kecil. Stanley mengingat indikasi gay sejak usia 5 tahun. Anak tunggal ini tinggal bersama ibunya. Karena terbuka di akun medsos, ketika SMA, ia pernah di-bully guru dan kepala sekolah. ''Disebut, mau jadi banci kaleng ya?'' 


Oriel anak kedua dari empat bersaudara. Ia menyatakan diri gay tahun 2005 ketika kuliah Jurusan Komunikasi USM. Ayah Oriel PNS dan takmir masjid. Tidak ada penolakan dari keluarga. ''Keluarga kami terbiasa berdiskusi.'' Oriel telah tinggal satu rumah dengan pasangannya. Rumah itu dijadikan markas RPI.... 

(Bersambung ke: Adriano Rusfi: Gerakan LGBT Jadi Sekte Seksual) 


Penulis: Asrori S. Karni, 

Reporter: Arif Koes Hernawan, Umaya Khusniah, Fitri Kumalasari, dan M. Nur Cholis Zaein 

Kolom Majalah GATRA no 14 tahun XXII, Beredar Kamis 4 Februari 2016

Dapatkan di toko buku terdekat, lewat GATRA KIOSK atau Toko Buku digital lain.    

 


Klik www.gatra.com/telkomsel untuk daftar online kartuHalo Telkomsel tanpa harus datang ke kantor GraPARI

Dani Hamdani
06-02-2016 21:46