Main Menu

Risma: Sang Penantang Fenomenal

Dani Hamdani
06-08-2016 11:21

Tri Rismaharini, Walikota Surabaya (Dok Majalah GATRA)

[quote width="auto" align="left|right|none" border="black" color="blue" title=""]Risma mendadak menguat dijadikan perekat berbagai elemen kontra-Ahok. Gerakan pro-Risma untuk Jakarta makin fenomenal tergalang. Manuver Ahok pindah ke jalur parpol tak mulus memikat dukungan Mega. Buwas digodok sebagai kuda hitam. Dinamika Pilkada Jakarta memanas.[/quote] 


Jakarta, GATRAnews - Relasi politik PKS dan PDIP di Jakarta lebih sering bersaing ketimbang bersanding. Keduanya pernah saling mengalahkan. PDIP menang pemilu legislatif (pileg) di ibu kota negara ini tahun 1999. Lima tahun kemudian, pemilu 2004, PKS berbalik menang. 

 

Dalam pilkada langsung pertama Jakarta, 2007, tokoh PDIP, Taufiq Kiemas, menggalang koalisi jumbo 20 parpol, menjagokan Fauzi Bowo, mengeroyok jagoan PKS, Adang Darajatun. Sebagai pemenang Pemilu 2004 di Jakarta, PKS bisa sendirian mengajukan pasangan calon. PKS boleh menang di legislatif daerah, tapi tak dibiarkan unggul di eksekutif. Adang kalah.  


Rivalitas kembali terjadi pada Pilkada Jakarta 2012. Setelah jagoan PKS, Hidayat Nur Wahid, kalah pada putaran pertama, partai dakwah ini mendukung Fauzi Bowo pada putaran kedua, melawan andalan PDIP, Joko Widodo (Jokowi). Pilihan politik PKS kembali kalah oleh PDIP. Jokowi menang mengejutkan.  


Kompetisi partai merah dan putih ini berlanjut pada Pilpres 2014. Bahkan dalam dua pilpres sebelumnya, 2009 dan 2004, PKS dan PDIP terus berseberangan. PKS di barisan pemenang, PDIP kalah dalam dua pilpres berturut-turut. Baru pada Pilpres 2014, PDIP menang, berkat rising star Jokowi, dan PKS untuk pertama kali tersingkir dari pemerintahan sepanjang era pilpres langsung sejak 2004. 


Kini PKS dan PDIP berpeluang membuka lembaran baru: berkoalisi dalam Pilgub Jakarta 2017. Potensi perekatnya adalah Tri Rismaharini (Risma), kader PDIP yang saat ini Wali Kota Surabaya periode kedua. Di daerah lain, koalisi PKS dan PDIP sudah banyak terjadi, tapi di Jakarta berbeda. Ketua DPP PKS Bidang Politik, Al Muzzammil Yusuf, Selasa lalu, menyebar rilis mendorong PDIP memajukan Risma sebagai calon Gubernur (cagub) Jakarta.  


Risma dipandang mampu menjadi penantang tangguh bagi gubernur petahana, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Meski pekan sebelumnya, PKS berkoalisi dengan Gerindra, mengajukan Sandiaga Uno sebagai cagub, opsi ini bisa berubah jika PDIP mengajukan Risma. Sandiaga rela diturunkan sebagai calon wakil gubernur (cawagub). 


"Kami yakin, jika ini terwujud akan banyak partai bergabung mendukung Risma dan Sandiaga," kata Muzzammil. ''Kita menunggu sinyal dari PDIP untuk Risma." Ketum DPP PPP, Romi Romahurmuzy, seusai halal bihalal PWNU Jatim di Surabaya, Senin lalu, menyebut Risma sebagai opsi utama. "Bu Risma sosok yang tepat," kata Romi.  


Partai pemilik 10 kursi DPRD Jakarta itu memastikan tak mendukung Ahok. PDIP, Gerindra, dan PKS, adalah tiga terbesar pemenang Pileg 2014 di Jakarta. Koalisi Gerindra (15 kursi) dan PKS (11 kursi), bermodal total 26 kursi, sebenarnya cukup mengajukan pasangan calon sendiri, mengingat syarat minimal 22 kursi. 


PDIP dengan 28 kursi juga bisa maju dengan pasangan sendiri. Tapi berbagai simpul kontra Ahok selama ini seakan sudah berkonsensus, untuk hanya mengajukan satu pasangan lawan Ahok, siapa pun yang berpeluang. Karena itu, berbagai penjajakan politik dilakukan lintas partai, dengan mengabaikan perbedaan friksi politik sisa persaingan Pilpres 2014. PKS Jakarta sudah bertemu PDIP Jakarta, Sabtu sore pekan lalu. Sinyal sinerginya tampak lebih kuat dibandingkan pertemuan dua bulan sebelumnya: Mei lalu. 


***  
Gerakan memanggil Risma ke Jakarta dua pekan terakhir makin menguat. Sebuah kaukus relawan pimpinan Neno Warisman, Gue Jaklovers (Jakarta Love Risma), dideklarasikan Kamis, 21 Juli lalu di Restoran Raja Hoki, Ampera Raya, Jakarta Selatan. Informasi gerakan, alasan memilih Risma, dan berbagai desain merchandise untuk kaos, bendera, topi, pin, stiker, dan lain-lain bisa dilihat di website mereka: www.jaklovers.com. 


Bersemboyankan: "Gue Muda, Gue Jakarta, Gue Beda, dan Gue Risma", mereka menggelar Gerakan Kreatif Anak Muda Jakarta Memanggil Risma, Minggu 31 Juli lalu, di Bundaran Patung Kuda Indosat, Jakarta Pusat. Puluhan anak muda turun jalan membawa sapu lidi. Risma dinilai identik dengan sosok ibu pembawa sapu.  


"Kita long march sambil sapu jalan. Bu Risma identik ke mana-mana bawa sapu. Jadi sekalian kita mau sapu semua keburukan di Jakarta," kata Hendi Wijanarko, Ketua Tim Media Jaklovers. Dilihat polanya, Gue Jaklovers terkesan hendak menyaingi gerakan Teman Ahok yang juga dengan sentuhan gaya anak muda. Sehari kemudian, Senin 1 Agustus, koordinator Gue Jaklovers, Neno Warisman, terbang ke Surabaya, menggelar dialog, "Risma Antara Surabaya Jakarta'' di Millenium Building, Pucang Anom, Surabaya.  


Selain Gue Jaklovers, di Jakarta ada juga deklarasi Simetris (siap mendukung Tri Rismaharini) di Kalianyar, Jakarta Barat, Sabtu, 30 Juli lalu. Ada lagi deklarasi Paris (Pasukan Risma), oleh warga Kampung Walang, Pademangan, Jakarta Utara. Deklarasi dibacakan di bawah kolong Jalan Tol Pademangan. 


Di tengah berbagai gerakan non-parpol dan parpol mendukung Risma, keluar rilis survei yang memperkuat daya saing Risma. Laboratorium Psikologi Politik UI, pimpinan Prof. Hamdi Muluk, merilis riset tentang kapabilitas bakal calon Gubernur Jakarta, Senin, 1 Agustus lalu. Simpulannya, Risma adalah pesaing terkuat bagi petahana. 


Penilitian terdiri dua tahap: focus group discussion (FGD) dan survei opinion leader. FGD pada 9 Juni 2016 dengan lima narasumber, terdiri pakar psikologi politik, pakar tata kota dan transparansi, pakar ekonomi, pakar politik, dan jurnalis. FGD menentukan aspek-aspek penilaian dan nama kandidat yang akan dinilai.  


Survei opinion leader digelar 13 Juni-28 Juli 2016. "Kita mewawancarai 215 orang responden, dirandom dari 250 orang yang ada di database kami,'' kata Hamdi Muluk dalam konferensi pers di Menteng, Jakarta Pusat. Respondennya 37% bergelar doktor dan 29% profesor. 


Skor total kapabilitas Ahok (7,87%) hanya unggul tipis atas Risma (7,77%). Peringkat ketiga ditempati Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung (7,74%). Risma mengungguli Ahok di lebih banyak bidang: governability, leadership, komunikasi politik, dan integritas moral. Ahok unggul di tiga aspek: kemampuan politik, visioner, dan intelektualitas.

 
Dari sisi elektabilitas, dalam survei terbaru SMRC (Saiful Mujani Research and Consulting) yang dirilis Sabtu, 23 Juli lalu, Risma di peringkat ketiga (5,7%), setelah Ahok (53,4%) dan Yusril (10,4%), dalam simulasi semi terbuka dengan 22 calon. Di bawah Risma ada Sandiaga Uno (5,1%).  


Jarak elektabilitas Risma dan Ahok memang masih terpaut jauh. Tapi Pilkada 2012 di Jakarta menunjukkan, pemilih Ibu Kota sangat dinamis. Di awal kemunculannya, elektabilitas Jokowi sangat jauh dibandingkan Fauzi Bowo, tapi kemudian Jokowi membalikkan keadaan. 


***

Masinton Pasaribu, politisi PDIP, dalam diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu pekan lalu, menyebut melesatnya Risma mirip fenomena Jokowi. "Kemunculan Risma kami anggap fenomena. Menggetarkan politik. Kader kami dimunculkan beberapa kelompok masyarakat. Fenomenanya seperti Pak Jokowi tahun 2012 lalu. Ini bahan pertimbangan kami nantinya," kata Masinton. Peneliti Senior LIPI, Siti Zuhro, dalam diskusi bersama Masinton itu, memprediksi, ''Kalau yang diusung PDIP sosok fenomenal, Ahok lewat.'' 


Gembong Warsono, Wakil Ketua Bappilu PDIP Jakarta menyebut gerakan masyarakat mengusung Risma dipantau partainya. "Bagi partai tidak terlalu sulit bicara Bu Risma. Tetapi saat ini partai sedang memantau seluruh potensi, termasuk Bu Risma," kata Gembong. Peluang dukungan Mega pada Ahok? ''Makin hari ya makin sempit peluangnya," kata Gembong. 


Wasekjen DPP PDIP, Ahmad Basarah, mengakui leading-nya pengusungan Risma. "Nama Bu Risma semakin menguat diusulkan berbagai kalangan,'' Basarah mencatat. ''Ada juga nama Pak Buwas yang juga menguat." Nama-nama itu akan disimulasikan sebagai bahan keputusan Megawati. 


Warga Surabaya beragam sikapnya. Achmad Zainul Arifin, pemuda Surabaya yang menjadi moderator dialog gelaran Jaklovers di Surabaya Senin lalu, mengaku ikut mendorong Risma ke Jakarta. Tapi ia juga melihat, terjadi pro-kontra di Surabaya. Ada yang mendukung dan menolak. Meski Risma sering menolak ditanya kesediaan maju, Zainul yakin, pernyataan itu tidak harga mati. ''Bila warga Surabaya merelakan, Bu Risma pasti mau,'' kata mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah Surabaya ini. 


Dalam diskusi di Surabaya itu, salah satu penolakan disampaikan Slamet Hariyanto, Humas Pengurus Pusat Putra Surabaya (Pusura). Slamet minta beberapa relawan Risma di Jakarta tidak memaksakan. Selain karena Risma sudah menyatakan komitmen memimpin Surabaya, Slamet khawatir Risma jadi korban politik. Belum ada jaminan Risma bisa menang. "Kalau di DKI kalah, Bu Risma tidak bisa kembali memimpin Surabaya,'' katanya. Kepala daerah yang maju dalam pilkada daerah lain harus mundur dari jabatannya. 


Djayadi Hanan, Direktur Eksekutif SMRC, menyebut Risma sebagai bakal calon paling kompetitif yang bisa dipersaingkan dengan Ahok. Nama-nama lain seperti Sandiaga, Buwas, Yusril Ihza, Sjafrie Sjamsudin, di mata Djayadi, belum kompetitif. 


Djayadi menilai PDIP sedang kesulitan menemukan calon. Kecil peluang PDIP sekadar menjadi pendukung pelengkap Ahok yang sudah didukung tiga parpol lain: NasDem, Hanura, dan Golkar. Merekrut Ahok lewat mekanisme internal, pendaftaran sudah tutup.  


Alternatif PDIP tinggal mencari calon sepadan dan cukup kompetitif. ''Jika sudah pada tahap ini, tampaknya Risma adalah pilihan,'' kata lulusan Ohio State University ini. Sebagai kader, Risma bisa diusung lewat mekanisme penugasan. Prosesnya tidak rumit. Namun, kata Djayadi, mengusung Risma juga belum jaminan menang. 


***  

Nasib Risma tergantung restu Megawati. Seperti Pilkada Jakarta 2012 saat mengajukan Jokowi dan Pilkada Kota Surabaya 2015 ketika mengusung Risma, Mega mengambil keputusan pada detik-detik akhir menjelang penutupan pendaftaran. Pendaftaran cagub Jakarta baru dibuka Oktober, dua bulan lagi. Sampai kini, Mega belum memberi keputusan. PDIP sudah melakukan proses penjaringan yang kini mengerucut menjadi enam nama yang tidak diketahui publik.  


Mega kini berada dalam dua kemungkinan, kembali mengusung Ahok-Djarot Saiful Hidayat atau mengajukan pasangan baru. Ahok masih yakin dan berharap, Mega akan kembali mendukung. Apalagi, Ahok pada 27 Juli lalu sudah memilih jalur parpol, tak lagi jalur perorangan yang tidak disukai Mega. Namun, Plt Ketua DPD PDIP Jakarta, Bambang D.H., memastikan dirinya tidak mendukung Ahok. 


Menguatnya pencarian calon non-Ahok sering mengecilnya peluang Megawati kembali mendukung Ahok. Pelantikan pengurus DPD PDIP Jakarta, Minggu, 31 Juli lalu, oleh Bambang D.H., diwarnai teriakan lawan Ahok di jajaran pengurus.  


PDIP dan sejumlah parpol, sejak Mei lalu, saling berkomunikasi mencari alternatif melawan Ahok, dipicu langkah Ahok menempuh jalur perorangan. Sejumlah parpol tersinggung. Tapi Ahok tetap ingin mendapat dukungan Mega. Pilihan Ahok mengubah strategi ke jalur partai, diharapkan melunakkan hati Mega.  


Dalam wawancara dengan GATRA, Juni lalu, Ahok masih membuka duet kembali dengan Djarot dan berharap dukungan Mega. Presiden Jokowi disebut-sebut mendukung proses ini. Meski sejumlah lingkaran dekat Presiden menyangkal.  


Sehari setelah menyatakan pindah jalur parpol, Ahok sempat semobil dengan Mega, Jokowi, dan Puan Maharani, dalam perjalanan ke Rapimnas Golkar, Kamis, 28 Juli lalu. Peristiwa ini tidak menunjukkan menguatnya peluang dukungan Mega. Ketika di rumah Mega, sebelum naik mobil, menurut sumber GATRA, Ahok tidak diterima Mega bicara di ruangan khusus.  


Mega hanya bicara empat mata dengan Jokowi. Ahok menunggu di rumah bangunan baru yang diperuntukkan tamu umum. ''Itu artinya, Bu Mega memberi isyarat tidak mendukung Ahok,'' kata sumber GATRA di PDIP. 


Ahok kepada pers menjelaskan perbincangannya di mobil dengan Mega. Ahok tidak memastikan bahwa Mega bakal mendukungnya, meski sudah meninggalkan jalur perorangan. Mega, kata Ahok, menjelaskan hal yang sudah sering disampaikan bahwa PDIP memiliki mekanisme. Ahok malah ditanya relasinya dengan Djarot, sehingga Ahok sempat mendeklarasikan pasangan baru. Penjelasan Ahok ini memperkuat tafsiran mengecilnya dukungan Mega. 


***  

Di internal PDIP, menurut sumber GATRA, ada skenario cadangan, jika mengusung Risma berisiko politik besar. Jika Risma kalah, PDIP bisa rugi. Risma akan kehilangan jabatan sebagai Wali Kota. Ia juga aset PDIP untuk Pilgub Jatim. Bila kalah di Pilgub Jakarta, akan mengganggu reputasi Risma dalam persaingan Pilgub Jatim.  


Berbeda kalau Risma dibiarkan terus mengukir prestasi sebagai Wali Kota Surabaya. Tapi sumber lain menyebut, PDIP Surabaya lebih suka maju ke Jakarta, karena Wakil Wali Kota Surabaya yang juga Ketua DPC PDIP Surabaya, Wisnu Sakti Buana, terbuka peluang jadi Wali Kota.  


Karena kalkulasi itu, sambil menunggu perkembangan elektabilitas Risma, dan mengingat pendaftaran masih awal Oktober, ada skenario menjajaki Budi Waseso (Buwas). Kalaupun Buwas kalah, risiko politiknya bagi PDIP rendah. Bintang Buwas sebagai Kepala BNN terus menanjak. Sebelum reshuffle kabinet lalu, terdengar gerakan beberapa parpol menjajaki peluang Buwas. 


Asrori S. Karni, Purnawan Setyo Adi, M. Afwan Fathul Barry, Umaya Khusniah dan Abdul Hady J.M. (Surabaya)  

LAPORAN KHUSUS Majalah GATRA, No 40 Tahun XXII, Beredar 4 Agustus 2016

Dapatkan di toko buku terdekat, lewat GATRA KIOSK atau Toko Buku digital lain. 

Dani Hamdani
06-08-2016 11:21