Main Menu

Mengapa Irman Mau Terima Rp 100 Juta?

Anthony Djafar
18-09-2016 19:39

Ketua DPD RI Irman Gusman (ANTARA/Yudhi Mahatma/HR02)

Jakarta, GATRAnews - Pasca penetapan Irman Gusman sebagai tersangka oleh KPK, sejumlah pejabat, orang dekat yang pernah mengenalnya hingga kini masih bertanya-tanya dan belum percaya jika ketua DPD itu mau disuap “hanya” Rp 100 juta. “Uang segitu bagi Irman boleh dikata hanya sekian persen dari jumlah kekayaannya. Bagi Irman, uang segitu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan jabatannya,” kata seorang sejawatnya di DPD kepada GATRAnews. Lantas, kenapa ya mau terima?

 

Memang jika dibandingkan dengan kekayaan Irman Gusman, uang Rp 100 juta itu boleh dibilang tidak ada artinya. Tengoklah harta kekayaan Irman berdasarkan dokumen Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang diakses di situs http://acch.kpk.go.id.

 

Irman melaporkan kekayaan ke KPK ketika menjabat Ketua DPD RI hingga 3 Desember 2014. Tercatat total kekayaannya sebesar Rp 31.905.399.714 dan 40.995 dolar AS. Harta itu terdiri dari harta tidak bergerak berupa dua unit tanah dan bangunan di Tangerang dengan total nilai Rp 6.527.436.000. Juga ada harta bergerak berupa alat transportasi senilai Rp 1.527.582.000.

 

Selain itu Irman juga memiliki logam mulia, batu mulia, dan barang antik yang dilaporkan senilai Rp 1.732.620.000. Ada juga surat berharga berupa investasi yang dimiliki sejak tahun 1994 hingga 2001 senilai Rp 14.950.943.000. Plus giro dan setara kas lain dari warisan dan hasil sendiri sebesar Rp 7.166.818.714 dan 40.995 dolar AS.

 

Menurut pengacara keluarga Irman Gusman, Tommy Singh, uang Rp 100 yang ditemukan penyidik dianggap merupakan tuduhan yang janggal dan tidak masuk akal. Tidak mungkin Irman mau menerima suap yang angka Rp 100 juta. “Saya pikir secara material kasus ini buat saya sedikit lucu. Angkanya kecil sekali. Bukan kelas Pak Irman-lah,” kata Tommy di Gedung KPK.

 

Kendati terbilang kecil di mata pengacara Irman, Namun, menurut sumber GATRAnews, Irman mau menerima uang itu setelah dijanjikan akan mendapatkan dana yang lebih besar oleh Xaveriandy jika urusannya sudah beres di PN Padang.

 

Xaveriandy diketahui masih tersangkut perkara gula ilegal di PN Padang. “Dalam pertemuan mereka, Xaveriandy juga mengeluhkan kasusnya yang sedang ditangani pengadilan,” kata sumber GATRAnews.

 

Nah, sebelum pulang, sebagai ucapan terima kasih, Xaveriandy menitip bungkusan kepada Irman yang diberikan istrinya Memi, sebagai imbal jasa Irman telah membantu melobby pejabat Bulog agar mengeluarkan rekomendasi untuk mendapatkan jatah kuota gula perusahaan Xaveriandy.

 

“Irman sudah tahu isi bungkusan itu berisi uang. Walaupun Rp 100 juta, Irman mau saja menerimanya karena sudah menganggap Xaveriandy adalah teman yang bisa dipercaya. Ceritanya akan jadi lain kalau orang itu baru dikenalnya,” kata sang sumber GATRAnews.

 

Rupanya, Irman lupa kalau dia pejabat negara yang tidak boleh menerima uang, sehingga ketika KPK datang bertamu Irman kaget bukan main. Wajahnya pucat. Irman tidak bisa menyangkal lagi setelah mereka bertiga dipertemukan dengan barang bukti yang diperlihatkan penyidik di rumah Irman sebelum dibawa ke gedung KPK.

 

Ketika Xaveriandy ditanya, dia pun mengaku memberikan uang itu jumlahnya Rp 100 juta. Walaupun Irman menyangkal tidak tahu bungkusan yang diterimanya itu berisi uang, namun Irman tidak bisa berkelit ketika ditanya mengapa menyimpannya di dalam kamar tiduirnya. “Kalau alasannya itu hanya oleh-oleh makanan, Lah, kenapa harus disimpan di kamar tidur,” kata sumber GATRAnews.

 

Irman pun terpojok dan tidak punya alasan yang dijadikan senjata untuk berkelit lagi setelah Xaveriandy mengaku bahwa uang itu sengaja diberikan sebagai imbal jasa Irman telah membantunya dan tidak menyangka mereka akan ditangkap KPK.

 

Irman pun akhir rela ketika penyidik memintanya ikut ke gedung KPK, kendati sebelumnya bersikas menolak. ”Penyidik punya dokumentasi penangkapan Irman. Itu sudah sesuai SOP di KPK. Makanya Irman sulit untuk berbohong,” kata sumber GATRAnews.

 

Irman ditangkap petugas KPK di rumah dinasnya, Jl Denpasar C3/8 Jakarta Selatan, Sabtu dini hari tadi. Dia ketahuan menerima uang Rp 100 juta dari Xaveriandi Sutanto, direktur CV Semesta Berjaya.

 

KPK juga mengamankan istri Xaveriandi, Memi, yang juga ikut dinyatakan tersangka. Irman disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi.


Reporter: Anthony Djafar

Editor: Dani Hamdani  

Anthony Djafar
18-09-2016 19:39