Main Menu

Turki di Ambang Krisis

Dani Hamdani
18-01-2017 20:24

Turki di ambang krisis, cover story Majalah GATRA 19 Januari 2017 (Dok Majalah GATRA)Jakarta, GATRAnews - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan pertemuan dadakan dengan para pakar ekonomi, menteri, pegawai negeri senior dan Gubernur Bank Sentral Turki (CBRT), Murat Cetinkaya, Senin lalu. Rapat terbatas itu bertujuan mencari solusi masalah volatilitas nilai tukar lira dan perkembangan ekonomi lainnya. 

 

Menurut laporan media lokal Turki, Hurriyet Daily News, perkembangan terbaru kurs mata uang asing menjadi isu utama pertemuan tersebut. Maklum, lira mengalami depresiasi paling tajam dalam lima tahun terakhir. Anjlok hingga kisaran 10% terhadap dolar Amerika Serikat pada awal tahun. Hal itu membuat lira menjadi salah satu mata uang berkinerja paling buruk memasuki 2017. 

 

Biang keladi terpuruknya lira lantaran kondisi politik dan situasi keamanan yang tidak menentu di Turki. Menurut Direktur Troubled Currencies Project Cato Institute, Steve Hanke, pelemahan tersebut cukup besar untuk dikatakan sebagai krisis mata uang. "Gejolak politik dan operasi terorisme yang kerap terjadi beberapa bulan terakhir menyebabkan perekonomian Turki terguncang," kata Hanke. 

 

Pertumbuhan ekonomi Turki yang melambat pada kuartal tiga 2016, juga menjadi pemicu tergerusnya kepercayaan pasar terhadap lira, ujar Piotr Matys. Menurut Emerging Market Currency Strategist Rabobank itu, seperti dilansir Bloomberg, keadaan itu membuat investor  memilih memegang mata uang lain daripada lira yang terpuruk dan tidak menjamin keamanan aset mereka. 

 

M. Sya'roni Rofii, calon doktor hubungan internasional Universitas Marmara, Istanbul, pun menggambarkan bahwa kondisi ekonomi Turki pada level makro memang mengalami tren pelemahan. Menurutnya, ekonomi Turki juga sangat bergantung pada dinamika internasional karena geliat ekonomi mereka ditopang investasi asing. 

 

"Saya melihat karena faktor terpilihnya Trump juga memiliki dampak terhadap mata uang Turki, dan pelaku pasar pun masih menunggu kebijakan ekonomi Trump," ungkapnya kepada GATRA. 


Pasalnya, ada kekhawatiran jika Donald Trump memanggil bos-bos perusahaan AS untuk menarik uangnya di luar dan meminta mereka berinvestasi di dalam negeri. Karena itu, menurut Sya'roni, ketika Trump sudah mengumumkan kebijakan ekonominya mungkin mata uang Turki akan kembali menguat. 


Syaroni menilai, merosotnnya lira belum sampai pada tahap yang membuat Turki menjadi krisis. Masalahnya, Sya'roni melanjutkan, gejolak ini lebih kepada dampak pemberitaan media asing terhadap Turki, yang memang cenderung mengekspose berlebihan ketika terjadi serangan teror dan penangkapan orang yang terlibat dalam aksi percobaan kudeta yang diduga disokong Fethullah Gulen.

 

Terlebih, urusan mendapat pundi-pundi devisa negara, pemerintahan Erdogan sangat bergantung pada sektor jasa, seperti pariwisata. Pemberitaan yang bombastis, membuat sektor pariwisata mengalami penurunan drastis. Turis asing semakin enggan berkunjung ke pintu gerbang antara Asia dan Eropa tersebut. Jumlah turis asing merosot sampai 25,9% atau menjadi 9,2 juta orang pada tahun lalu. 

 

Kini nasib perekonomian negara yang terkenal dengan sebutan Negeri Seribu Masjid itu, bergantung pada berbagai pilihan dan kebijakan Presiden Erdogan. Menurut Kepala Riset Renaissance Capital Michael Harris, kerapuhan Turki merupakan fakta bahwa negara tersebut tidak dapat mengendalikan mata uangnya. Jika mata uang jatuh terlalu dalam, itu akan menyakitkan bagi perusahaan-perusahaan di Turki, kata Harris seperti dikutip AFP. 


Jika tidak segera diatasi, masalah ini akan memicu skenario resesi. Turki memang pernah mengalami krisis perbankan pada awal 1990-an dan inflasi tinggi setelah krisis keuangan pada 2000-2001, yang hampir membuat ekonomi negara itu hancur. Baca kupasan lengkapnya di Laporan Utama Majalah GATRA, nomor 12 Tahun XXIII, Beredar Kamis, 19 Januari 2017.


Gandhi Achmad dan M. Afwan Fathul Barry 

 

Dani Hamdani
18-01-2017 20:24