Main Menu

Zuckerberg: Kita Adalah Bangsa Imigran

Tian Arief
29-01-2017 15:11

CEO Facebook Mark Zuckerberg (GATRAnews/Antara/Reuters)

Jakarta, GATRAnews - Sejumlah petinggi perusahaan teknologi informasi Amerika Serikat "curhat" soal kebijakan imigrasi Presiden Donald Trump. Termasuk bos Facebook (FB) Mark Zuckerberg. "Kakek buyut saya datang dari Jerman, Austria dan Polandia. Orangtua Priscilla (istri Zuckerberg) adalah pengungsi dari Cina dan Vietnam. Amerika Serikat adalah negara imigran, dan kita harus bangga dengan itu," ujar Zuckerberg, dalam postingannya di akun FB miliknya.

Chief Executive Officer (CEO) FB itu mengaku khawatir dengan dampak dari kebijakan Trump -yang dikenal sebagai anti-imigran itu. "Kita perlu menjaga negara ini aman, tapi kita harus melakukannya dengan berfokus pada orang-orang yang benar-benar menimbulkan ancaman," kata bapak satu anak itu, seperti dilansir Antara.

Menurut Zuckerberg, penegakan hukum di luar orang-orang yang merupakan ancaman nyata akan membuat semua orang Amerika kurang aman. Sementara itu, jutaan orang tanpa dokumen yang tidak menimbulkan ancaman akan hidup dalam ketakutan dideportasi.

[column_item col="3"]

Baca juga: Tiga Ratus Orang Protes Kebijakan Imigran Trump

Baca juga: Google dan Apple Protes Kebijakan Imigrasi Trump

Baca juga: PM Inggris Tak Setuju Kebijakan Imigrasi Trump[/column_item]"Kita juga harus menjaga pintu kita terbuka untuk pengungsi dan orang-orang yang membutuhkan bantuan. Itulah kita. Jika kita menutup pengungsi beberapa dekade lalu, keluarga Priscilla tidak akan berada di sini hari ini," ujar orang terkaya yang tetap berpenampilan bersahaja itu.

Kendati demikian, Zuckerberg mengaku senang mendengar Presiden Trump mengatakan akan "melakukan sesuatu" untuk para pemimpi (dreamers), yakni sebutan bagi imigran yang dibawa ke AS pada usia muda oleh orangtua mereka.

Saat ini, menurut Zuckerberg, sebanyak 750.000 Dreamers memanfaatkan program Deferred Action for Childhood Arrivals (DACA), yang memungkinkan mereka hidup dan bekerja secara legal di AS.

"Saya mengharapkan Presiden dan timnya tetap memprioritaskan perlindungan ini, dan beberapa minggu ke depan saya bersama tim di FWD.us akan mencari cara untuk membantu," kata pengusaha yang tidak lulus dari Harvard University itu.

Dia mengaku senang Trump percaya negaranya harus terus mendapatkan keuntungan dari orang-orang berbakat besar yang datang ke AS. Zuckerberg sendiri mengaku merasa bahwa isu tersebut bersifat pribadi, bahkan di luar latar belakang keluarganya.

Dia bercerita, beberapa tahun lalu pernah mengajar di satu kelas di sekolah menengah yang beberapa siswa terbaiknya adalah mereka yang tidak memiliki dokumen legal.

"Mereka adalah masa depan kita juga. Kita adalah bangsa imigran, dan kita semua bermanfaat ketika yang terbaik dan tercerdas dari seluruh dunia dapat hidup, bekerja dan berkontribusi di sini," ujar Zuckerberg.

"Saya harap kita menemukan keberanian dan kasih sayang untuk merangkul orang bersama-sama dan membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik untuk semua orang," ujarnya menambahkan.


Editor: Tian Arief

Tian Arief
29-01-2017 15:11