Main Menu

Aksi KKB Culik Warga Banti, Satgas Terpadu Lakukan Upaya Persuasif

Andhika Dinata
11-11-2017 13:00

Kapolda Papua Irjen Boy Rafli Amar. (GATRA/Adi Wijaya/FT02)

Tembagapura, Gatra.com - Situasi di Tembagapura memanas pasca adanya pelarangan dan intimidasi yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Setidaknya ada 1.300 orang dari dua desa, yakni Desa Kimbely dan Desa Banti, Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua dilarang keluar kampung oleh kelompok bersenjata.

 

Sebelumnya kelompok ini juga melarang sekitar 300-an warga non Papua yang sebelumnya bekerja sebagai pendulang emas yang bermukim di sekitar area obyek vital PT. Freeport Indonesia.

Untuk mengantisipasi kondisi keamanan dibentuk Satgas Terpadu Penanggulangan Kelompok Kriminal Bersenjata yang terdiri dari Personil gabungan Polri dan TNI berjumlah 200 personil. Satgas yang dibentuk ini bukan Satgas Amole yang secara rutin melakukan pengamanan di PT Freeport. Satgas terpadu menjalankan operasi pengamanan wilayah serta bertugas langkah-langkah persuasif dan preventif untuk membebaskan masyarakat dari intimidasi dan teror KKB.

Kondisi terakhir pada Jumat (10/12) Kepolisian Daerah Papua menerima informasi penculikan terhadap penduduk asli setempat yang dilakukan oleh KKB. Diketahui warga yang diculik bernama Martinus Beanal diketahui disergap di Kampung Utikini Distrik Tembaga Pura, Kabupatan Mimika.

Laporan dari pihak keluarga menyebut Martinus sudah tidak pulang ke kediamannya selama dua hari. Curiga terjadi sesuatu lantaran situasi di Tembaga Pura yang makin memanas, pihak Keluarga melaporkan kejadian itu. Polda Papua setelah dikonfirmasi GATRA News menyatakan terus melakukan penyelidikan tentang kebenaran informasi penculikan tersebut.

Kapolda Papua Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar mengatakan pihaknya sudah memulai proses penyelidikan terhadap laporan penculikan Martinus oleh KKB. Pihaknya juga tengah mendalami video penganiayaan terhadap warga sipil yang diduga dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Boy menyayangkan tindakan ekstrim dari kelompok tersebut. Polda Papua menurutnya masih menyelidiki apakah korban penganiayaan yang ada di video adalah Martinus Beanal.

Satgas Terpadu Penanggulangan Gangguan KKB, kata mantan Kadiv Humas Polri itu, terus melakukan upaya persuasif untuk membebaskan ratusan warga yang disandera baik di sekitar Kampung Kimberly, Kampung Utikini dan Kampung Banti tanpa menimbulkan kerugian dan memicu korban dari pihak masyarakat. Boy Rafly juga menjelaskan KKB diperkirakan memiliki sekitar 30 pucuk Senjata Api (Senpi) yang diperoleh dari hasil rampasan dari TNI dan Polri. “Selain itu mereka, Kelompok ini, juga mempersenjatai diri dengan senjata tradisional seperti panah,” kata Boy.

Upaya yang dilakukan kepolisian saat ini yaitu dengan menempuh pendekatan soft approach dengan melakukan negosiasi dengan KKB agar warga sipil tidak menjadi korban dari peristiwa tersebut. Seperti diketahui dengan adanya kejadian ini, baik masyarakat setempat maupun pendatang meminta perlindungan dan penyelamatan kepada Ketua Suku setempat.

Masyarakat tersebut merasakan ketakutan dan teror serius. Bahkan banyak di antaranya kehabisan bekal makanan atau sembako karena dilarang bepergian. Kondisi tersebut dirasakan oleh masyarakat korban kampung longsoran hingga kampung Banti. 


Reporter : Andhika Dinata

Editor: Nur Hidayat

Andhika Dinata
11-11-2017 13:00