Main Menu

Tandatangani Tarif Impor Baja, Trump Picu Perang Dagang

Hendri Firzani
09-03-2018 10:57

Pabrik baja di Cina (Reuters/Tyrone Siu/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memenuhi janjinya untuk melindungi industri dalam negeri Amerika Serikat. Hari kamis, (8/3) Trump meneken peraturan tentang pengenaan pajak impor bagi produk baja dan aluminium. Kecuali baja dan aluminium dari Kanada dan Mexico, Trump mengenakan pajak sebesar 25% bagi produk baja dan 10 % bagi produk aluminium.

 

Didamping tiga pekerja dari industri baja dan aluminium Amerika Serikat, Trump mengatakan keputusannya untuk mengenakan tarif impor tinggi Karena melihat murahnya harga baja dari luar negeri, yang telah merusak AS. Ia menganjurkan kepada perusahaan-perusahaan baja yang hendak ‘menikmati’ pasar Amerika Serikat dan tidak ingin membayar pajak tinggi agar memindahkan pabriknya ke Amerika Serikat. “produksi baja di dalam negeri, sangat vital untuk kepentingan keamanan nasional,” tegas Trump dalam pernyataanya.


Rencananya, pengenaan tariff impor ini akan mulai berlaku 15 hari setelah aturan tersebut ditandatangani Trump.  Aksi Trump ini tentu saja mengundang reaksi keras dari dalam negeri dan macanegara. Bahkan, sejumlah anggota parlemen dari partai republik yang selama ini mendukung Trump, ikut memprotes kebijakan terbaru Trump ini.

Mereka khawatir, aksi Trump tersebut akan menimbulkan aksi balasan dari Negara-negara lain, dan berbuntut dapat merusak ekonomi Amerika serikat sendiri.
Rencana Kebijakan ekonomi yang dapat memicu perang dagang ini sebelumnya telah membawa korban. Penasehat ekonomi Trump, Garu Cohn memilih untuk mengundurkan diri, karena tak setuju dengan sikap Trump tersebut.

Kepergian Cohn, yang dipandang sebagai benteng melawan nasionalisme Trump, membuka jalan bagi pengaruh yang lebih besar oleh kelompok garis keras seperti Peter Navarro, penasihat kebijakan perdagangan Trump, dan Sekretaris Perdagangan Wilbur Ross.


Sebagaimana dikutip dari reuters, Juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders mengatakan bahwa presiden Trump mempertimbangkan beberapa kandidat untuk mengisi posisi Cohn. Navarro sendiri dikabarkan menolak jabatan tersebut.  "Presiden memiliki sejumlah orang yang berpotensi mengisi peran itu," kata Sanders kepada wartawan.


Meningkatnya kemungkinan tindakan balasan dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi global telah memukul harga saham, minyak dan dolar. Aksi ini juga menambah ketegangan antara Trump dengan China, yang selama ini dituduhnya mempraktikan perdagangan yang tidak adil. "China telah diminta untuk mengembangkan sebuah rencana untuk mengurangi defisit perdagangannya dengan AS sebesar US$ 1 Miliar per tahun," ujar Trump dalam tweetnya beberapa waktu sebelumnya.


 

Editor: Hendri Firzani 

Hendri Firzani
09-03-2018 10:57