Main Menu

Akankah Poros Islam Bakal Terbentuk?

Hendri Firzani
16-03-2018 15:50

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar bersama Rais Aam KH. Ma’ruf Amin. (Dok. PBNU/FT02)

Jakarta, Gatra. com - Menebar baliho memanen dukungan. Ungkapan itu cocok buat Abdul Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Majelis kiai se-Bandung Raya menahbiskan dukungan buat Cak Imin--sapaan Muhaimin--sebagai calon wakil presiden pada pilpres 2019, Selasa lalu. "Cak Imin menjadi sosok yang tepat representasi kaum santri," kata K.H. Iik Abdul Kholik, pemimpin Ponpes Sirnamiskin, peserta Silaturahmi Kiai Se-Bandung Raya di Bandung.

 

Sebelumnya, ratusan kyai dan ulama di Cilacap juga mendeklarasikan dukungan bagi Cak Imin. Mandat tersebut diserahkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihya ‘Ulumuddin, KH Imdadurahman Al-Ubudi di Ponpes Al Ihya ‘Ulumuddin, Kesugihan, Cilacap, Kamis kemarin (15/3).  Beberapa hari lalu, giliran 250 ulama dari 39 kecamatan di Tasikmalaya juga mendeklarasikan Muhaimin menjadi cawapres.

"Kami ingin Indonesia dipimpin kader NU terbaik. Kami masyarakat dan ulama se-Kabupaten Tasikmalaya mendukung penuh Cak Imin," kata Pengasuh Ponpes Cipasung K.H. Acep Adang Ruhiat. Ketika itu, ratusan kiai dan ulama dari berbagai wilayah di Tasikmalaya berkumpul di STIE Cipasung.

Melihat besarnya harapan para kiai, Muhaimin menyatakan kesediaannya. "Dengan bismillah siap mengamankan aspirasi para kiai dan ulama," kata cicit K.H. Bisri Syansuri, Rais Am PBNU ke-3, ini. 

Muhaimin mengaku sangat berterimakasih kepada para kyai dan ulama yang mempercayakan amanah tersebut. Ia mengaku siap menjalankan mandat dan akan memperjuangan agar dia bisa menjadi calon wakil presiden dan bertarung dalam Pilpres 2019. “Harapan besar, kaum santri, nahdliyin, warga NU, sangat luar biasa antusiasmenya. Untuk itu saya sangat berterimakasih. Saya Insyaallah siap mengemban amanah,” katanya. 

Sebagian pendukung Muhaimin lantas menggulirkan ide Poros Islam. "Kami berinisiasi melakukan komunikasi dengan partai-partai berbasis Islam," kata Lukman Edy, Ketua DPP PKB. Jumlah pemilih Islam meningkat pada pilpres 2019. Karena itu, PKB ingin menggandeng partai-partai Islam membentuk Poros Islam. 

Sebagai alternatif, poros ini, kata Lukman, untuk mewadahi aspirasi umat Islam yang perlu dibawa pada level nasional. Jika partai-partai berbasis Islam tidak bicara satu meja, aspirasi umat tidak tertampung.

Sekjen PAN, Eddy Soeparno, mengatakan bahwa gagasan poros ketiga ingin memberikan pilihan alternatif selain capres yang ada. “Kami menghendaki demokrasi di Indonesia berkembang dengan baik. Masyarakat diberikan pilihan seluas-luasnya. Semakin banyak alternatif, semakin banyak opsi yang mereka inginkan di tahun 2019,” katanya.

“Kami juga realistis melihat, “ kata Edy. Jika dalam komunikasi politik PAN tidak menghasilkan calon terbaik, atau dari masukan akar rumput hanya menghendaki dua calon saja di 2019, “Tentu kami akan mengikuti apa yang menjadi realita di lapangan,” ujarnya.

Eddy menganggap sebutan Poros Islam untuk poros alternatif itu kurang tepat. Ia meminta masyarakat untuk tidak menggiring opini bahwa poros ketiga ini merupakan poros antar-partai Islam.  “Saya merasa ini tidak pas disebutkan sebagai poros partai Islam. Tentu ada poros non-Islam, ada poros nasionalis, dan poros lainnya. Ini tidak sehat bagi demokrasi,” katanya. “Lebih baik disebut potensi poros ketiga.”

Komunikasi membangun poros ini, kata Eddy, terus dilakukan. “Bahkan ada tambahan partai yang kita ajak bicara. Sejauh ini belum ada arah yang berbeda untuk tidak melanjutkan wacana mengkonkretkan poros ketiga ini,” katanya.

Beberapa elite Demokrat, PKB dan PAN menggagas pertemuan di sebuah restoran di Pacific Place, Jakarta Pusat, Kamis pekan lalu. Pertemuan yang digagas petinggi Demokrat itu dihadiri Hinca Pandjaitan, Renanda Bachtar, Imelda Sari, Cipta Panca Laksana (perwakilan Demokrat). PKB diwakili Lukmanul Hakim dan Rohani Vanath. PAN mengutus Eddy Soeparno dan Dyah Hestu Lestari.

Menurut Imelda Sari, hal tersebut merupakan bagian dari pertemuan rutin elite partai yang tergabung dalam Forum Kesekjenan tiga parpol: Demokrat-PAN-PKB. “Ngopi-ngopi aja. Kebetulan kemarin kita jadi tuan rumah,” kata Ketua Divisi Komunikasi Publik Demokrat itu.

Karena pertemuan tersebut merupakan Forum Sekjen, politisi yang hadir adalah sekjen dan pengurus setingkat di bawahnya. Program berlangsung secara rutin. “Minggu depan, PAN ngajak kami lari pagi di Bogor (Jawa Barat). Minggu depannya lagi, PKB,” ujarnya.

Dalam pertemuan sore hari itu, kata Imelda, dibahas isu-isu strategis, seperti peluang koalisi poros ketiga, fenomena calon tunggal, dan isu capres “kotak kosong”. “Sebenarnya ada frekuensi yang sama antara PAN-PKB-Demokrat dalam konteks pemilu legislatif, yakni bagaimana agar pemilu (pilpres) mendatang tidak hanya diikuti satu calon,” katanya.

Ia mengemukakan, ada diskusi intens untuk menjajaki poros baru. Namun, hal itu belum menjadi kesepakatan formal. Dinamika politik bisa saja berubah menjelang pengumuman capres dan cawapres pada Agustus mendatang. “Ada diskusi cukup serius tentang poros itu. Tapi, bagaimanapun politik itu sangat cair, kita tidak tertutup, membuka kemungkinan partai lain bergabung,” kata Imelda.

Partai berlambang bintang Mercy ini melakukan lobi politik dengan semua pihak. Baik PAN, PKB, maupun Golkar, bahkan dengan PDIP. Namun, yang menjadi sasaran Demokrat saat ini,  menurut Imelda, parpol yang memiliki kecocokan kimiawi. “Dalam politik itu, anything is possible, kita tentu ingin berkoalisi secara baik-baik. Partai-partai ada suatu frekuensi, tidak bisa satu pihak memaksakan partai lainnya, harus mutual respect,” ucapnya.

Presiden PKS, Sohibul Iman, mengatakan bahwa selama bukan poros tunggal, PKS mendukung semua poros. Menurutnya, kemunculan poros ketiga menimbulkan kerancuan, karena poros kedua belum ada. "Yang relevan kita bicarakan sekarang adalah bagaimana membuat poros alternatif di luar poros Istana. Bisa satu atau dua poros alternatif," kata Sohibul.

Sebutan poros ketiga sebagai Poros Islam, kata Sohibul, tidak tepat. Karena PPP sudah masuk Poros Istana, dan Demokrat sebagai partai nasionalis justru cawe-cawe dalam "Poros Islam”. "Hemat saya, tidak usah disibukkan dengan peristilahan, tapi lebih substantif adalah bagaimana kita sama-sama punya spirit membuat poros alternatif, apa pun namanya dan apa pun partai-partainya," kata Sohibul.

Ia menuturkan, butuh keseriusan untuk melawan sang petahana dalam pilpres. Ia menyarankan Gerindra, PKS, PAN, PKB, dan Demokrat membuat dua poros alternatif. "Dan kita sepakat nanti di putaran kedua. Kedua poros ini saling dukung, terlepas poros mana yang masuk putaran dua, untuk melawan petahana," katanya kepada Riana Astuti dari Gatra.

Guliran Poros Islam ditanggapi pesimistis M. Romahurmuziy, Ketua Umum PPP, satu-satunya partai Islam yang sudah mendeklarasikan dukungan kepada Poros Istana. Rommy–sapaan akrab Romahurmuziy--pernah menggagas Poros Islam menjelang pilpres 2014. Meskipun telah melakukan pertemuan 13 kali, poros itu gagal terbentuk.

Setiap pertemuan lintas parpol, pimpinan partai yang hadir tidak pernah lengkap. Hanya PPP dan PAN. PKS mengirim bukan tokoh kunci, PKB tak pernah datang. Padahal, saat itu, belum ada partai Islam yang memutuskan bergabung dengan kubu tertentu. Romi berkesimpulan, Poros Islam hanya ilusi. “Poros Islam itu ideal, tetapi ahistoris. Mustahil. Tidak akan pernah terjadi,” katanya kepada Gatra.

Menurut Rommy, berdasarkan sejarah, Poros Islam itu telah habis pada 1955. “Dahulu bersatu lewat Masyumi. Namun setelah 1955, tidak ada lagi poros itu,” katanya. Beberapa elemen keluar. NU keluar dari Masyumi sejak 1952.

Gabungan nasionalis dan agama itulah, kata Rommy, yang ideal menopang Indonesia. Ia memisalkan, kepemimpimpinan Gus Dur-Megawati, Megawati-Hamzah Haz, SBY-JK, dan Jokowi-JK. Semua bertumpu kepada duet nasionalis-agamis. “SBY pernah mengabaikan dengan menggandeng Boediono. Akibatnya muncul kasus Century,” katanya dengan berseloroh.

PPP kini telah final bergabung mendukung Presiden Jokowi dalam pilpres 2019. “Keputusan ini tidak hanya final, tetapi melebihi final,” kata Rommy sembari tersenyum. Dengan penolakan PPP bergabung dalam Poros Islam, cita-cita poros itu makin tipis.

Jokowi mendorong Muhaimin Iskandar dan Rommy untuk makin aktif tampil di ruang publik agar elektabilitas mereka naik. Muhaimin pernah dipanggungkan saat bersama Presiden meresmikan kereta bandara Cengkareng. Rommy juga dilambungkan saat diajak bersama meresmikan lapangan tenis di Senayan. Wajah Muhaimin dan Rommy kini banyak dijumpai di jalanan.

Sumber Gatra menyebutkan, Jokowi juga mendorong Zulkifli Hasan, Ketua umum PAN, untuk banyak manggung. Apakah Jokowi akan memilih salah satu dari mereka yang elektabilitasnya paling tinggi? Para politisi di lingkaran PKB dan PPP tidak yakin bahwa Jokowi akan berpikir linier dengan otomatis memilih Muhaimin atau Rommy jadi cawapres. Bisa saja ada kejutan, muncul cawapres tak disangka-sangka, seperti SBY menggandeng Boediono di periode kedua.

Tapi apa pun, kata sumber Gatra di partai-partai berbasis Islam itu, branding, tebar baliho besar, banyak tampil di ruang publik, merupakan pilihan yang harus ditempuh untuk efektivitas konsolidasi partai dalam mendongkrak kursi DPR, baik dipilih jadi cawapres Jokowi atau tidak.

“Poros-poros itu hanya untuk meningkatkan nilai tawar,” kata Rommy. Namun, ia mewanti-wanti, jangan menggertak Presiden Jokowi. “Kalau presiden yang dulu makin digertak makin diberi, kalau sekarang bisa ditendang,” katanya, tertawa.


Reporter : Antony Jafar, Andhika Dinata, Ridlo K Susanto, dan Aditya Kirana

Editor: Rohmat Haryadi 

Hendri Firzani
16-03-2018 15:50