Main Menu

BPOM : SKM Bukan Susu

Abdul Rozak
04-07-2018 18:20

Ilustrasi.(Shutterstock/re1)

Jakarta, Gatra.com - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merilis surat edaran terkait sejumlah larangan bagi Susu Kental manis dalam mengiklankan produknya. Salah satunya, melarang produsen, importir maupun distributor produk kental manis, untuk menggunakan visualisasi susu cair atau susu dalam gelas, karena pada prinsipnya SKM bukanlah produk susu. 

 

Surat edaran itu langsung memicu pro dan kontra di masyarakat. Center for Healthcare policy and Reform Studies (Chapters) menyikapi surat tersebut dengan menyebut BPOM telah cenderung bersikap diskriminatif. Menurut Chairman Chapters, Luthfi Mardiansyah, surat edaran tersebut tidak terbuka. "Bpom seharuisnya  tidak diskriminatif mengawasi produk yang dinilai mengandung gula tinggi, termasuk susu kental manis (SKM),"ujar  Luthfi.

Dalam Surat Edaran Nomor HK.06.5.51.511.05.18.2000 Tahun 2018 tentang Label dan Iklan pada Produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3), ada empat hal utama yang harus diperhatikan oleh produsen, importir serta distributor produk kental manis itu. 

Yaitu, pertama dilarang menampilkan anak-anak berusia di bawah 5 tahun dalam bentuk apapun.Kedua, dilarang menggunakan visualisasi bahwa produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3) disetarakan dengan produk susu lain sebagai penambah atau pelengkap zat gizi. Produk susu lain, antara lain susu sapi/ susu yang dipasteurisasi/ susu yang disterilisasi/ susu formula/ susu pertumbuhan.


Ketiga, dilarang menggunakan visualisasi gambar susu cair dan/atau susu dalam gelas serta disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman.dan khusus untuk iklan, dilarang ditayangkan pada jam tayang acara anak-anak.


Selain "menipu", susu kental manis juga dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Mengonsumsi SKM secara berlebihan akan meningkatkan risiko diabetes dan obesitas pada anak-anak. Hal ini disebabkan karena kadar gula tinggi di minuman SKM

 

Luthfi  menilai edaran tersebut tidak terbuka dan merupakan kebijakan diskriminatif. Edaran yang ditandatangani Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan, Suratmono pada 22 Mei tersebut secara spesifik hanya mengubah ketentuan iklan serta label Susu Kental dan Analognya.

  

Kasus SKM, kata Lutfhi, indikasi tekanan terhadap BPOM sangat kuat. Sudah sejak lama BPOM mengizinkan produsen SKM mengedarkan produk sesuai label dan iklan saat ini. Semantara Edaran tersebut mengandung sejumlah larangan dalam label dan iklan SKM.

 

Antara lain menampilkan anak-anak di bawah lima tahun, penggunaan visualisasi produk Susu Kental dan Analognya setara produk susu lain, serta pemakaian visualisasi gambar susu cair dan atau susu dalam gelas serta disajikan dengan cara diseduh untuk konsumsi sebagai minuman.

 

"Saya tidak tahu kenapa baru sekarang, apakah ada kepentingan dibalik itu atau tidak," kata Lutfhi.

 

Ketua Umum Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) Hardinsyah menilai Surat Edaran BPOM sangat spesifik terhadap produk tertentu. Padahal di pasaran masih banyak produk pangan yang lebih manis yang dapat mengakibatkan kegemukan jika dikonsumsi berlebihan. "Aturan untuk susu kental manis atau SKM ini tidak fair. Masih banyak produk gula di pasaran yang mengakibatkan kegemukan jika dikonsumsi berlebihan," kata Hardinsyah.

 


Reporter: Abdul Rozak

Editor: Hendri Firzani 

Abdul Rozak
04-07-2018 18:20