Main Menu

Iran Ancam Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Bisa Naik jadi US$ 250 per barel

Basfin Siregar
16-07-2018 09:32

Presiden Rusia Vladimir Putin berjabat tangan dengan Ali Akbar Velayati. (REUTERS/FT02)

Moskow, Gatra.com - Konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran makin memanas setelah selat Hormuz mulai dijadikan alat tawar. Ali Akbar Velayati, penasehat senior Ayatullah Ali Khamenei untuk hubungan internasional, mengancam bahwa Iran akan memblokade Selat Hormuz bila mereka benar-benar tidak bisa menjual minyak.

 

Hal itu disampaikan Velayati usai bertemu Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Moskow Kamis lalu (12/7). Selat Hormuz adalah selat yang berlokasi di antara teluk Persia dan teluk Oman. Selat ini merupakan urat nadi lalu-lintas minyak asal Timur Tengah.

Kepada para wartawan di Rusia, Velayati menegaskan Iran akan membalas seandainya program Zero Iranian Oil yang dilancarkan Presiden AS Donald Trump berhasil. Zero Iranian Oil adalah program Trump untuk menghapus minyak Iran dari perdagangan global.

Pada Mei 2018 lalu, Trump memang membatalkan kesepakatan perjanjian nuklir dengan Iran. Pembatalan itu dilanjutkan dengan ancaman sanksi kepada  siapa pun (baik negara maupun perusahaan swasta) yang masih membeli minyak dari Iran.

Para pembeli minyak Iran diberi waktu sampai 4 November 2018 untuk menghentikan pembelian. Bila lewat 4 November masih ada pembelian minyak, maka para pembeli akan mendapat sanksi dari AS.

Program ini, di media massa AS, populer dengan istilah Zero Iranian Oil. Sanksi ekonomi AS ini efektif.

Pada 11 Juli 2018, perusahaan gas Prancis, Total, menyatakan keluar dari Iran. Total merupakan perusahaan pertama Eropa yang memasuki pasar Iran ketika perjanjian nuklir AS-Iran di era Barack Obama masih berlaku.

Mereka menginvestasikan sampai US$ 40 juta untuk mengelola lapangan gas South Pars di Iran. Namun Total harus membatalkan bisnis mereka di Iran setelah perjanjian nuklir dibatalkan dan ancaman sanksi muncul.

Patrick Pouyanné, CEO Total, menjelaskan alasan mereka mematuhi ancaman AS.. "Anda tidak akan bisa beroperasi di 130 negara tanpa mengakses pasar uang Amerika Serikat," katanya seperti dilansir kantor berita Iran, Mehr News Agency (11/7).

Pertamina juga salah satu yang terkena dampak sanksi. Pertamina sebenarnya sudah memenangkan tender pengelolaan lapangan minyak Mansouri di Iran. Tapi pengelolaan itu dibatalkan karena Pertamina juga memanfaatkan pembiayaan dari institusi keuangan AS.

"Posisinya [pengelolaan lapangan Mansouri] kita hold karena ada sanksi," kata Direktur Hulu Pertamina, Syamsu Alam, Juni lalu (11/5). Institusi keuangan AS yang sudah mengglobal dan dipakai berbagai negara maupun perusahaan memang membuat AS mampu mengancam para pembeli minyak Iran.

Iran membalas sanksi AS ini dengan mengumumkan rencana blokade selat Hormuz. Semua negara Timur Tengah menggunakan jalur selat Hormuz untuk mengekspor.

Tiap hari diperkirakan sebanyak 18 juta barel minyak melewati selat Hormuz. Velayati menegaskan, bila Iran tidak bisa lagi menjual minyak karena para pembeli mereka diancam AS, maka mereka akan memblokade selat Hormuz.

Dampaknya, negara Timur Tengah harus mencari jalur transportasi lain untuk ekspor-impor. Seandainya selat Hormuz diblokade, diperkirakan harga minyak dunia akan melejit hingga US$ 250 per barel. Saat ini harga minyak dunia masih di kisaran US$ 70-75 per barel.

"Kami harus bisa mengekspor minyak, atau tidak ada negara Timur Tengah lain yang juga bisa mengekspor," kata Velayati seperti dilansir situs Russia Today (16/7). Banyak analis pasar minyak yang menilai ancaman Iran itu sulit terwujud. Pasalnya AS tidak akan membiarkan selat Hormuz diblokade.

AS menempatkan armada laut ke-5 mereka di Bahrain, yang salah satu tugasnya adalah mengamankan selat Hormuz. Namun ketegangan serius pernah terjadi. Pada 2008 lalu,perahu boat Iran (gunboat) sempat mengancam kapal perang AS.

Lalu pada 2015, Iran menembaki kapal minyak berbendera Singapura di selat Hormuz. Penyebabnya menurut versi Iran, kapal itu menabrak salah satu instalasi minyak lepas pantai mereka. Apakah Zero Iranian Oil akan membuat Iran benar-benar memblokade selat Hormuz dan membuat harga minyak dunia bergejolak memang masih harus dilihat.


Editor: Basfin Siregar

Basfin Siregar
16-07-2018 09:32