Main Menu

Eni Kembalikan Uang Rp 500 Juta ke KPK Terkait Suap PLTU Riau 1

Iwan Sutiawan
31-08-2018 07:02

Juru bicara KPK, Febri Diansyah. (GATRA/Iwan Sutiawan/re1)

Jakarta, Gatra.com - Eni Maulani Saragih yang sempat menjabat Wakil Ketua Komisi VII DPR RI asal Fraksi Partai Golkar, telah mengembalikan uang sejumlah Rp500 juta kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Uang tersebut diduga merupakan bagian dari suap terkait proyek PLTU Riau 1.

 

"Tersangka EMS [Eni Maulani Saragih] sudah mengembalikan uang senilai Rp500 juta pada penyidik," kata Febri Diansyah, juru bicara KPK di Jakarta, Kamis petang (30/8).

Uang sejumlah Rp500 juta tersebut menjadi salah satu barang bukti atau alat bukti dalam perkara kasus dugaan suap pengurusan proyek PLTU Riau 1 yang membelit tersangka Eni, pemegang saham Blackgold Natural Recourses Limited, Johannes B Kotjo, hingga Idrus Marham yang juga telah menyandang status tersangka.

"Pengembalian uang ini tentu perlu kita lihat sebagai sebuah sikap kooperatif. Kami juga mengingatkan dan mengimbau kepada pihak lain yang pernah menerima aliran dana terkait dengan proyek PLTU Riau 1 ini, belum terlambat untuk mengembalikan pada KPK," katanya.

Pengembalian uang ini nantinya menjadi salah satu pertimbangan meringankan bagi tersangka yang mengembalikannya kepada KPK. "Tentu akan dipertimbangkan sebagai faktor yang meringankan," ujarnya.

Dalam kasus ini, KPK awalnya Eni Maulani Saragih selaku Wakil Ketua Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar dan Johannes Budisutrisno Kotjo selaku pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited sebagai tersangka pada Sabtu (14/7/2018).

KPK menetapkan mereka sebagai tersangka setelah menemukan bukti permulaan yang cukup pascamenggelar terjaring dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Jakarta pada Jumat (13/7/2018). Sebanyak 13 orang diamankan, termasuk Eni dan Johannes.

Adapun 11 orang lainnya yang sempat ditangkap, di antaranya Tahta Maharaya selaku staf dan keponakan Eni, Audrey Ratna Justianty selaku Sekretaris Johannes, M Al Khafidz selaku suami Eni, serta 8 orang lainnya terdiri dari sopir, ajudan, staf Eni, dan pegawai PT Samantaka.

Johannes Budisutrisno Kotjo tertangkap tangan menyuap Eni Maulani Saragih sejumlah Rp500 juta untuk memuluskan proses penandatanganan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau 1 2x300 Mega Watt (MW). PLTU Riau 1 ini merupakan bagian dari program listrik 35.000 MW.

Pemberian uang sejumlah Rp500 juta itu merupakan pemberian keempat dari Johannes kepada Eni. Uang tersebut merupakan bagian dari komitmen fee 2,5% dari nilai proyek untuk Eni dan kawan-kawannya. Total uang yang telah diberikan setidak-tidaknya mencapai Rp 4,8 milyar.

Adapun pemberian pertama yang dilakukan Johannes kepada Eni yaitu pada Desember 2017 sejumlah Rp2 milyar, Maret 2018 Rp2 milyar, dan 8 Juni 2018 sebesar Rp 300 juta.

KPK menyangka Eni Maulani Saragih selaku penerima suap melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Sedangkan terhadap Johannes Budisutrisno Kotjo selaku pemberi suap disangka melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

KPK kemudian menetapkan Idrus Marham sebagai tersangka setelah mengembangkan kasus ini karena diduga menerima hadiah atau janji yakni US$ 1,5 juta terkait dari proyek PLTU Riau 1 tersebut.

Idrus disebut berperan sebagai pihak yang membantu meloloskan Blackgold untuk menggarap proyek PLTU Riau 1. Mantan Sekjen Golkar itu dijanjikan uang US$ 1,5 juga oleh Johannes jika Johannes berhasil menggarap proyek senilai US$ 900 juta itu.

Proyek PLTU Riau 1 masuk dalam proyek 35 ribu Megawatt yang rencananya bakal digarap Blackgold, PT Samantaka Batubara, PT Pembangkit Jawa-Bali, PT PLN Batubara dan China Huadian Engineering Co. Ltd.


Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
31-08-2018 07:02