Main Menu

Gila Permanen Akibat Dextro (I)

Dani Hamdani
18-10-2013 15:40

Jakarta, GATRAnews - Penyalahgunaan obat batuk dextromethorphan sediaan tunggal, kian meluas. Beberapa remaja gila permanen dan tewas karena menggunakan obat ini dalam dosis tinggi. Sejumlah dokter mengusulkan agar obat ini dikategorikan golongan narkotika. 

 

Obat batuk yang satu ini sangat populer di kalangan pecandu obat alias junkies. Obat yang mengandung dosis tunggal dextromethorphan itu sebenarnya untuk meredakan batuk kering. Tapi, oleh para junkies disalahgunakan untuk fly alias teler. Penggunaan dextromethorphan dalam dosis tinggi memang bisa mengakibatkan halusinasi. 

 

Mereka menamai obat ini: dextro. Awalnya, obat batuk jenis ini dijual bebas. Bisa dibeli tanpa menggunakan resep dokter. Belakangan, setelah ditengarai terjadi penyalahgunaan --terutama oleh para junkies remaja-- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membatalkan izin peredaran obat tersebut secara bertahap. 

 

Pembatalan izin edar secara bertahap terhadap obat batuk yang mengandung dextromethorphan sediaan tunggal berlaku sejak 24 Juli lalu hingga 30 Juni 2014. Artinya, obat itu saat masih boleh beradar, meskipun secara terbatas. 

 

Dalam jumpa pers dua pekan silam, Deputi Bidang Pengawasan Produk terapeutik dan NAPZA BPOM, Antonia Retno Tyas Utami, menyatakan bahwa penarikan diberlakukan secara bertahap, selain memberi kesempatan kepada industri, juga disebabkan ada beberapa tender obat ini yang diputuskan April lalu, seperti tender Kementerian Kesehatan kepada beberapa puskesmas. 

 

Tentu saja pengunduran waktu penarikan membuka peluang terjadinya penyalahgunaan. Sebab, bagaimanapun nyawa lebih penting daripada tender. Namun, kemungkinan itu dibantah Retno. ''Kami mengawasi secara ketat peredaran dan pola distribusi, termasuk kepada siapa obat itu dijual,'' ujarnya. 

 

Ia menyebut bahwa penarikan tidak berlaku untuk dextro yang dikombinasi dengan senyawa lain, seperti parasetamol, CTM, difenhidramin, acetaminophen, pseudoefedrin, phenyl propanolamine, dan golongan ekspektoran, yaitu guaifenesin. 

 

Kombinasi ini biasanya terdapat pada obat batuk berdahak dan obat flu. Retno menampik kalau obat kombinasi itu juga disalahgunakan. Risikonya terlalu besar, karena obat yang diminum lebih banyak lagi. ''Belum lagi efek samping dari obat kombinasi, dan harganya lebih mahal,'' katanya. 

 

Penarikan secara terbatas ini berkaitan dengan makin banyaknya penyalahgunaan dextro. Pengguna dextro pada umumnya para remaja yang tinggal di pedesaan atau kota-kota kabupaten dan beberapa ibukota propinsi. Penyalahgunaan terbanyak terdapat di Banjarmasin dan Pontianak. Kemudian di Ponorogo, Situbondo, Jawa Timur. Kabupaten Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan), Manado, dan Kabupaten Bandung. 

 

Bisnis ini tergolong menggiurkan, dengan pembelian Rp 5.000 per strip bisa dijual lagi dengan harga puluhan hingga ratusan ribu per 10 butir kepada pemakai. Apalagi pedagang membeli kemasan botol berisi 1.000 butir. Untungnya bisa berlipat, belum lagi kalau dijual ke sejumlah kelab malam.

 

Obat itu juga diburu lantaran, kata Retno, bersifat halusinogen disosiatif dan dapat memberikan efek euforia. Halusinasi disosiatif ditandai oleh perasaan jiwa dan raganya terpisah. Gejala ini mirip dengan yang ditemukan pada penyalah guna ketamin, yang termasuk narkoba. 

 

Bukti masifnya penyalahgunaan dextro terlihat dari hasil razia yang dilakukan aparat kepolisian di pelbagai daerah. Di Cilacap, Jawa Tengah, misalnya, polisi menyita 110.000 pil dextro dari seorang warga, awal Februari lampau. Bahkan seorang sales obat juga terlibat dalam peredaran dextro di Sampang, Madura. 

 

(Aries Kelana, Umaya Khusniah dan Arif Koes Hernawan (Yogyakarta)) 

[LAPORAN UTAMA, Majalah GATRA Edisi no 50 tahun ke 19, Beredar 17 Oktober 2013]

Dapatkan edisi digital di toko-toko berikut ini

GATRAapps, Wayang Force, Scoop, Scanie, Indobook, Majalah Indonesia 

Dani Hamdani
18-10-2013 15:40