Main Menu

Rayakan Satu Dekade, Jazz Gunung Sajikan Nuansa Berbeda

Mukhlison S Widodo
27-07-2018 16:05

Pergelaran jazz internasional bernuansa etnik.(GATRA/Flora/re1)

Bromo, Gatra. com - Perpaduan semilir jazz dan merdunya kawasan pegunungan tersaji secara konsisten di helatan Jazz Gunung. Memasuki usia kesepuluh, festival tahunan ini kembali menghadirkan musisi-musisi kampiun sembari menikmati kesejukan serta dahsyatnya pemandangan alam pegununungan yang beratapkan langit, berdinding cemara serta gemerlap bintang.

 

Merayakan keragaman selalu menjadi salah satu ciri khas dari Jazz Gunung.

Tak hanya menyuguhkan genre musik jazz semata melainkan pula world music, pop, funk, dub, reggae, soul, R&B hingga folk.

Tahun ini, genap satu dekade penyelenggaraan Jazz Gunung. Pergelaran jazz internasional bernuansa etnik yang diadakan di atas ketinggian 2000 meter dari permukaan laut ini akan hadir berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Jika biasanya hanya dilangsungkan selama dua hari, tahun ini Jazz Gunung akan digelar selama tiga hari berturut-turut mulai tanggal 27, 28 dan 29 Juli 2018 di panggung amfiteater terbuka dengan sistem tata suara kelas dunia yang terletak di Jiwa Jawa Resort Bromo, Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur.

Jazz Gunung sejatinya merupakan sebuah pertunjukan musik yang selalu menawarkan keakraban antara para musisi dengan para penontonnya.

Pada Hari Pertama (Jumat, 27 Juli 2018) Jazz Gunung akan menampilkan Kramat Ensemble Percussion, Tohpati Bertiga, Tropical Transit, Barry Likumahuwa, hingga Andre Hehanussa.

Sementara di Hari Kedua (Sabtu, 28 Juli 2018) bakal tampil Ring of Fire Project besutan Djaduk Ferianto, Surabaya All Stars: Tribute to Bubi Chen, Bintang Indrianto – Soul of Bromo dan Barasuara.

Persembahan berbeda bakal hadir pada Hari Ketiga (Minggu, 29 Juli 2018) dengan konsep Jazz Gunung Pagi-Pagi.

Pada pukul 05:00 pagi para penonton akan dibangunkan dari tidurnya untuk menyambut matahari terbit sembari menyeruput kopi khas Bromo serta alunan musik live yang dimainkan oleh line-up istimewa; duo pasutri Endah N Rhesa, Bianglala Voices, trio pop vintage NonaRia hingga kelompok musik apik Bonita & the Hus Band.

Sementara itu Jungle By Night, kelompok musik Afrobeat, jazz, funk nan keren asal Amsterdam, Belanda juga telah mengkonfirmasikan penampilan mereka untuk pertama kalinya di Indonesia hanya di Jazz Gunung 2018.

Selain itu, Insula yang merupakan trio musik kontemporer perrpaduan musik tradisional dan modern yang terinspirasi dari musik Al-Jazeera dan musik kebudayaan.

“Setelah 10 tahun mendengar besarnya nama festival Jazz Gunung, akhirnya kami mendapatkan kesempatan tampil untuk pertama kalinya dengan format berdua,” kata Endah Widiastuti dari Endah N Rhesa.

Bermain di sebuah festival di alam terbuka menurut Endah pasti akan ada getaran dan respons yang natural, spontan, serta interaksi langsung dengan penonton dan suasana alam sekitar.

Selain itu, udara yang sejuk cenderung dingin menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Semoga jari-jari ini tidak membeku dan tidak tercekat.

Pada tahun ini pula penghargaan khusus Jazz Gunung Award akan dianugerahkan kepada mendiang maestro pianis jazz legendaris Bubi Chen.

Sebuah pementasan khusus yang didedikasikan kepada almarhum akan menampilkan beberapa musisi jazz asal kota Surabaya.

Penghargaan yang sudah dilakukan sejak dua tahun lalu ini sebelumnya dianugerahkan kepada mendiang Ireng Maulana pada 2016 dan mendiang Jack Lesmana pada 2017.


Editor : Flora L. Y. Barus

Mukhlison S Widodo
27-07-2018 16:05