Main Menu

Mendengar Rap, Lagu Romantis, dan Koor Generasi 90-an di Konser Prambanan Jazz

Mukhlison Sri Widodo
18-08-2018 20:22

Prambanan Jazz Festival 2018. (GATRA/Arief Koes/RT)

Yogyakarta, Gatra.com - Lagu-lagu 1990-an dan tembang pop yang coba diaransemen jazz mendominasi konser musik dengan latar belakang panggung Candi Prambanan, Prambanan Jazz Festival 2018, Jumat (17/8). Memuaskan dahaga hiburan generasi 1990-an.

 

Setelah matahari terbenam dan hari gelap, lampu-lampu sorot menyinari Panggung Hanoman yang menunjukkan kemegahan Candi Prambanan beberapa ratusmeter di utara panggung.  

Di panggung festival ini, bukan musik jazz yang mengantarkan keseruan pentas bertajuk jazz itu melainkan musik rap.

Kampiun rap Indonesia yang mungkin tak tergantikan, Iwa K, langsung mengentak dengan tembang-tembang rap hitsnya—meski tak semuanya lagu rap murni karena diimbuhi pop seperti lagu “Kuingin Kembali”.

Dengan balutan jaket warna merah dan performa yang energik, Iwa seolah mengajak penonton merayakan Hari Kemerdekaan kala itu, apalagi saat ia melepas mahakaryanya, “Bebas”.

Di pengujung penampilannya, Iwa membawa atmosfer keceriaan makin ke puncak dengan hits “Malam Ini Indah”. 

Penonton yang tadi cuma manggut-manggut dan mengetukkan kaki kini tak tahan lagi bergoyang dan melambaikan tangan sesuai aba-aba sang rapper.

Setelah jeda 30 menit, sesi ini kemudian lebih kalem dengan penampilan band yang pernah jaya di era 90-an, Java Jive. 

Satu vokalisnya yang murah senyum dan tampak awet muda, Fatur, langsung memancing sorakan para penonton perempuan sejak awal kemunculan.

Band asal Bandung ini membawakan dua nomor manis easy listening “Kau yang Terindah” dan “Keliru”. 

Karaoke massal pun terdengar dari penonton generasi 90-an termasuk mereka yang kini bertampang om-om dan tante-tante.

Lagu ketiga “Permataku” seakan memang diciptakan untuk vokalis kedua, Danny. Ia merepet penuh penghayatan dalam tembang tentang seorang yang mengharapkan kekasihnya kembali ini.

Penonton makin histeris saat Fatur—masih dengan senyum manisnya yang amat murah itu—menyanyikan “Selalu untuk Selamanya”.

Meski ini lagu solonya, bukan milik Java Jive, tembang ini justru seakan jadi menu utama koor penonton malam itu.

Penampilan itu seolah jadi ajang nostalgia, bukan hanya buat penonton melainkan juga buat Java Jive. 

Mereka mengenang saat masih ngeband di radio OZ Bandung dan kedatangan musisi top Fariz RM. Tahun ini, Java Jive kolaborasi dengan Fariz dengan karya nostalgik The Rollies, “Dansa yo Dansa” yang juga dibawakan malam itu.

“Kami 25 tahun tidak ganti personel. Sama suka sama rasa. Dan Candi Prambanan ini jadi backdrop paling indah selama Java Jive pentas,” kata Danny.

Selain Fatur dan Danny untuk vokal, Java Jive digawangi Capung pada gitar sekaligus pencetak hits band ini, Tony di keyboard, Edwin di drum, dan Noey di bass. 

Mereka menghangatkan malam yang dingin dengan suhu 20-22 derajat Celcius itu dengan nomor penutup nan romantis dan sensual: “Gerangan Cinta” dan “Gadis Malam”. Dan lagi-lagi koor generasi 90-an kembali terdengar.

Musik dengan balutan jazz baru terdengar dari pertunjukan spesial di Panggung Rorojonggrang, sekira 50 meter dari Panggung Hanoman. 

Tohpati bersama bandnya menggebrak malam dengan nomor-nomor instrumental yang menunjukkan kepiawaian Si Bontot—panggilan Tohpati—menarikan jarinya di senar-senar gitar.

Tohpati mengajak penyanyi Rio Febrian dan Marcell  Siahaan. Masing-masing membawakan tiga lagu pop mereka yang diaransemen agak-agak ngejazz. 

Nomor paling asyik dan terasa amat jazzy disuguhkan Marcell saat membawakan “Candu Asmara” karya Guruh Soekarnoputra yang member porsi lebih pada horn section.

Setelah itu, diva Malaysia Sheila Majid yang melantunkan tembang-tembang manis dan magisnya yang seolah tak berasa saat dibawakan biduan lain, seperti “Warna”, “Aku Cinta Padamu”, “Cinta Jangan Kau Pergi, dan—tentu saja, wajib hukumnya—“Antara Anyer dan Jakarta”, serta “Sinaran”.

Malam pertama Prambanan Jazz 2018 dipungkasi kolaborasi band romantis sepanjang masa Kahitna dan kelompok kekinian RAN dengan merek KahitRAN. 

Namun gegap gempita penonton hingga lewat tengah malam itu seakan tetap memuja tembang 90-an saat mereka membawakan “Cantik” dan “Cerita Cinta”.

Abdul Malik, 37 tahun, penonton asal Temanggung, Jawa Tengah, menyebut konser ini memuaskan dirinya sebagai penikmat lagu-lagu 90-an. 

“Musik 90-an itu variatif, dari rap Iwa K sampai yang romantis kayak Java Jive dan Kahitna, semua ada,” ujar dia yang berhasil mengajak Fatur, vokalis Java Jive, swafoto usai turun dari panggung.

Panitia mengklaim komposisi musik jazz di tiga hari konser  ini mencapai 65 persen. Penampil utama pentas ini biduan jazz dunia Diana Krall dan boyband 90-an, Boyzone, dengan total 27 penampil musisi dan grup.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
18-08-2018 20:22