Main Menu

Siti Fadilah Fokus Pengembangan Penyakit Jantung

Arif Prasetyo
26-08-2016 11:01

Jakarta, GATRAnews - Apa kabar Ibu Siti Fadilah Supari? "Kabar baik," kata Siti Fadilah Supari dengan nada lembut kepada GATRAnews, Kamis (25/8). Lama tidak terdengar, Menteri Kesehatan Kabinet Bersatu Jilid I ini sibuk dengan urusan pengajaran dan penelitian di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta. Tidak lagi menjabat sebagai menteri sejak Oktober 2009, Siti Fadilah memfokuskan diri pada pengembangan ilmu penyakit jantung.

Di tengah-tengah kesibukannya, perempuan kelahiran Solo pada 6 November 1949 ini giat berolahraga sepeda. Kegiatan gowes pedal itu dilakukannya di sekitaran tempat tinggalnya. Tujuannya, supaya otot jantung terlatih dan badan tetap bugar. "Olahraganya sering sendiri," ujarnya.
 
Siti Fadilah banyak bercerita tentang tantangan menjabat sebagai menteri kesehatan selama lima tahun. Salah satu di antaranya, memperjuangkan rasa nasionalisme dan kebenaran di tengah kuatnya arus neo-liberalisme.
 
Sampai sekarang, menurut Siti Fadilah, Indonesia masih menganut corporate capitalism, yakni korporasi menguasai negara. "Amerika (Serikat) itu sekarang nasionalis. Kalau RRC (Tiongkok) itu kapitalismenya, state capitalism. Kalau kita, negara dikuasai oleh korporasi, dikuasai mafia. Nggak sehat," kata mantan anggota dewan pertimbangan presiden bidang kesejahteraan rakyat ini.
 
Di bidang kesehatan, Siti Fadilah juga menilai, ada penurunan kualitas akibat perubahan kebijakan Kementerian Kesehatan yang tidak sesuai. Semisal, munculnya kebijakan pembelian obat ARV bagi orang dengan HIV AIDS atau ODHA, kepada perusahaan BUMN, Kimia Farma. "Dulu obat untuk ODHA itu, gratis. Sekarang kita beli. Pokoknya merosot banget. Yang kita bina, abis semua," ujarnya.
 
Siti Fadilah memiliki jaringan internasional luas karena sering mendapat penghargaan dari luar negeri, Siti Fadilah juga berhasil membongkar skandal pengembangan virus flu burung, avian influenza (H5N1), oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO dan Amerika Serikat.
 
Perjuangannya melawan konspirasi dua institusi besar tersebut, pernah dikisahkan Siti Fadilah dalam bukunya yang berjudul Saatnya Dunia Berubah yang terbit dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. "Buku itu bentuk perlawanan saya terhadap ketidakadilan," demikian Siti Fadilah.



Reporter: Hen
Editor: Arief Prasetyo, Edward Luhukay

Arif Prasetyo
26-08-2016 11:01