Main Menu

Sundary Mardjuki & Hobi Menulis Novel

Andhika Dinata
18-01-2017 17:17

Jakarta, GATRANews - Salah satu hobi yang digandrungi Sundari Mardjuki saat ini yaitu menulis novel. Senior Marketing Manager Sony Music ini kian getol saja mengasah kemampuan penanya itu. Yang terbaru, wanita kelahiran Temanggung, 17 Desember 1975 itu telah menerbitkan novel berjudul “Genduk”. Sebelumnya perempuan yang berkarir di perusahaan rekaman terbesar kedua di dunia itu, juga telah mengarang beberapa buku. Di antaranya Funtastic Fatin (2013) yang bercerita tentang perjalanan karier penyanyi muda Fatin Sidqia Lubis.

 

Karier menulis novel diseriusinya pada September 2012, dimana ia meluncurkan novel perdana berjudul “Papap, I Love You”. Novel bergenre metro pop itu memotret kehidupan kaum perkotaan yang berkisah tentang seorang single dad. Sundary menyebutkan aktifitas menulisnya menular dari kebiasaan membaca sedari kecil.

 

“Saya tuh dari kecil suka baca,” ujarnya kepada GATRA News. Beberapa buku yang menjadi santapannya di masa kecil, yaitu buku cerita serial Lima Sekawan, Trio Detektif, Bobo, Nina, Serial Noni.

 

Selera membacanya mulai bergeser ketika duduk dibangku SMP. Kala itu perempuan yang doyan travelling mulai menyantap bacaan buku Sastra Indonesia semisal karya NH Dhini, Umar Kayam dan lainnya. Meski sudah mulai coba-coba menulis sejak usia remaja, Sundary mengaku tidak begitu pede untuk mengirimkan hasil karyanya ke media.

 

“Hasil tulisan itu cuma disimpan sendiri, diumpetin di balik lemari,” kisahnya.

 

Baru pada 2010, Sundary mulai mengasah kemampuan menulisnya dengan mengikuti kegiatan writing workshop di Amsterdam, Belanda. Dari situ alumnus Fakultas Sastra UI itu belajar kiat menulis dari mantan editor dan aspiring writers dari berbagai negara.

 

Setelah mengikuti kelas penulisan tersebut, Sundary makin bersemangat untuk menulis karya Novel. Puncaknya ia menulis novel perdana “Papap I Love”. “Dari sana saya mulai mempersiapkan naskah untuk debut novel saya.”

 

Selain bakat alamiah, dorongan menulis Novel didapatinya dari atasannya di Sony Music Indonesia. “Saat itu bos saya (Ibu Lala Hamid) pernah mengatakan kalau dia menyukai tulisan-tulisan saya, dan menyarankan menulis novel” kisahnya lagi.

 

Saran itu diikuti Sundary dengan terlebih dulu belajar menulis feature dan travel stories yang dimuat di beberapa majalah. “Sebagai hasil jalan-jalan saya ke berbagai tempat,” ujarnya lagi.

 

Akhirnya niatnya menjadi novelis kesampaian, meski menyita waktu dan kerja keras. Untuk menempuh pencapaian kreatifnya, Sundary menjaga pakem learning by doing, dengan melakukan penjelajahan ide dan imajinasi. “Saya juga suka jadi observer, gemar mengamati tingkah laku orang, dari situ kadang muncul ide untuk membuat cerita.”

 

Hingga beberapa karya terbaiknya menuai pujian banyak kalangan semisal “Papap, I Love You” yang mendapat anugerah Novel Pendatang Baru Terbaik 2012 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, terakhir Novel “Genduk” yang ditulisnya berdasarkan kasanah lokal budaya Temanggung berhasil menyabet nominasi Lima Besar Prosa terbaik dari Kusala Sastra Khatulistiwa (2016).

 

Meski berkarya di perusahaan musik Sony, ia mengaku kurang tertarik untuk mengembangkan bakat mengarang lagu, yang sepintas terlihat lebih ringan bila dibandingkan menulis novel. “Untuk menulis lirik lagu saya nggak tertarik, karena saya tidak ada bakat di musik.” Sundary justru bercita-cita kelak menjadi penulis skenario layar lebar.

 

“Minimal buku saya difilmkan dan saya sendiri yang menulis skenarionya,” ucap perempuan pengagum karya Umar Kayam, Andrea Hirata dan Khaled Hosseini ini.


Reporter : Andhika Dinata

Editor     : Bambang Sulistiyo

 

Andhika Dinata
18-01-2017 17:17