Main Menu

Fajar Satritama, Sukses Jadi Bankir dan Drummer Profesional

didi
07-02-2018 08:08

Drummer Godbless dan Edane, Fajar Satritama. (GATRA/Didi Kurniawan/yus4)

 

Jakarta, Gatra.com - Power yang kuat, ketukan yang stabil, konsisten dan harmonis, jadi tontonan menarik bagi orang-orang yang datang saat itu. Setelah mendapat aba-aba dari Ian Antono, Fajar Satritama memperlihatkan kemampuan solo drumnya. Cymbal, hi-hat, snare, dan tom dipukulnya bergantian. Riuh tepuk tangan penonton pun mengiringi sosok tinggi tegap berkacamata tersebut di tengah berlangsungnya konser band legendaris Godbless.

 

Sosok Fajar Satritama memang masih baru di Godbless. Ia baru bergabung pada 2012 menggantikan Yaya Moektio. Umurnya pun berbeda rentang 20 tahunan dengan Ahmad Albar, Ian Antono, ataupun Donny Fattah. Namun musik memang tak pandang usia, kemampuan Fajar tentu yang diutamakan para seniornya di Godbless.

 

Gatra.com berkesempatan berbincang santai dengan Fajar sebelum Godbless tampil di Stock Sound Bursa Efek Indonesia (BEI), akhir Januari 2018 lalu. Fajar, yang juga drummer band rock kenamaan Edane ini bercerita, kala 2012 lalu, ia memang diajak oleh Ahmad Albar untuk mengisi posisi drummer Godbless yang kosong.

 

“Pertemuan dengan Ahmad Albar itu terjadi ketika Godbless dan Edane ada manggung bareng di suatu event. Kemudian saya diajak beberapa kali latihan bareng, dan mereka (Godbless) merasa cocok dengan style saya, dan berlanjut sampai sekarang,” jelas Fajar.

 

Meskipun sama-sama berada di jalur musik rock, ada perbedaan style antara Edane dan Godbless. Fajar sendiri pun mengakui hal itu. Sebagai drummer profesional dan guru drum, ia merasa hal itu bukan masalah.

 

“Ya secara aliran kan emang beda ya. Di Edane lebih keras, sedangkan di Godbless lebih ada dinamikanya, nggak kenceng terus seperti di Edane. Ya nggak ada masalah,” tuturnya.

 

Namun, di balik keberingasannya menabuh kemegahan set drum Godbless dan Edane, pria kelahiran 1970 ini, memiliki perawakan tenang yang kaya akan berbagai prestasi, baik di musik maupun di luar dunia musik. Fajar pernah mengecap prestasi sebagai mahasiswa terbaik FHUI pada tahun 1993. Itu ia dapatkan setahun pasca sukses dirilisnya album The Beast dari Edane.

 

Dan siapa sangka, saat ini Fajar juga adalah seorang pekerja di industri perbankan nasional dengan jabatan yang tak bisa dipandang sebelah mata yakni Head of Corporate Banking PT Bank ICBC Indonesia. “Tapi baru saja udah nggak (di ICBC) lagi. Diajak bos pindah ke PT Bank Ganesha Tbk. Tapi masih di bidang yang sama, di corporate banking juga,” ujar Fajar.

 

Bagi sebagian orang pasti bertanya, apakah dua kegiatan yang bertolak belakang itu bisa dilaksanakan tanpa ada yang terganggu. Apalagi Fajar menabuh drum untuk dua band besar sekaligus.

 

“Ya asal bisa bagi waktu saja. Bermain band ini kan lebih banyak di weekend. Kalau pun harus maen di weekdays kan masih bisa dicarikan solusinya, misal ijin atasan atau ambil cuti. Kan nggak sering-sering juga. Ya pinter-pinter kita mengatur jadwal saja,” kata Fajar.

 

Bekerja di kantor, apalagi di bank, tentunya bekerja pada office hour. Fajar tak memungkiri hal itu. Namun saat ini menurutnya, dunia kerja termasuk juga perbankan, sudah mulai tidak mengenal kantor yang pure phisicly.

 

“Kerja bisa dari mana saja, apalagi sekarang kan sudah mulai jamannya financial technology (fintech),” tutur dia.

 

Meski begitu, ia tetap mengaku profesional dalam pekerjaannya hingga terus bisa sukses sampai sekarang. Kuncinya menurut dia adalah seperti dalam lagu Godbless yang berjudul ‘Semut Hitam’ di mana bercerita tentang kerja keras dan konsisten dalam segala hal.

 

Selain itu, kata dia, dua hal yang penting lagi adalah ketekunan dan kedisplinan. Karena menurutnya jika hal-hal tadi terus dijalankan, percaya lah pasti hasilnya memuaskan. Tinggal bagaimana menjalaninya saja dan harus fokus. 

 

“Kalau boleh cerita, senior-senior kita ini (personel Godbless yang lain), mereka sangat disiplin. Dalam hal apa pun. Saat latihan saja mereka sangat disiplin dan commit. Justru saya yang muda kadang malah sering telat, jadi malu. Ini mungkin juga jadi resep mereka sehingga bisa eksis sampai sekarang, bahkan jadi band legenda,” paparnya.

 


Reporter: Didi Kurniawan

Editor: Rosyid

didi
07-02-2018 08:08