Main Menu

Fuad Bawazier dan Kenangannya akan Soeharto

Sandika Prihatnala
11-03-2018 15:50

Fuad Bawazier (antaranews/yus4)

Jakarta,Gatra.com - Tepat pada tanggal 11 Maret, 52 tahun lalu, HM Soeharto menerima surat perintah sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno guna memulihkan keamanan dan ketertiban Indonesia. Sejak saat itulah Soharto berkiprah sebagai presiden kedua di Indonesia dan berjuang mengisi kemerdekaan dengan pembangunan di segala bidang. Bahkan dia juga dianugerahi gelar sebagai ' Bapak Pembangunan Indonesia'.

 

Dalam rangka mengenang Soeharto, Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri) bersama tujuh yayasan yang didirikan Soeharto menggelar serangkaian acara yang bertajuk 'Bulan HM Soeharto' dari tanggal 1 hingga 10 Maret 2018. Puncaknya adalah 10 Maret yang bertepatan dengan tanggal Supersemar.

Mantan Menteri Keuangan era Presidem Soeharto, Fuad Bawazier yang turut hadir dalam acara menuturkan bagaimanan kesulitan hidup pada tahun 1960-an. Puncaknya adalah tahun 1965 di mana Indonesia mengalami peristiwa G30 S PKI.

"Ketika bangsa ini sedang kebingungan, Pak Harto kala itu dengan gagahnya berani menyikapi suasana yang menegangkan. Dengan ketenangan dan ketegasan beliau mengatasi masalah keamanan dan politik lalu ekonomi yang serba susah tadi," katanya saat acara puncak 'Bulan HM Soeharto di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Minggu, (11/3).

Pada tahun 1967 hingga 1997, bangsa Indonesia menikmati kehidupan normal, aman dan tenter. Bahkan Soeharto mendapatkan gelar 'Bapak Pembangunan' atas jasa-jasanya.

"Seingat saya, sebagai orang yang lama duduk di pemerintahan itu, Pak Harto ini adalah orang yang sangat susah buat dikasih gelar. Dikasi gelar misalnya doctor honoris causa dan sejenis itu sudah saya tumpuk baik daari dalam maupun luar negeri. Beliau cuma senyum dan bilang nanti saja. Kalau bilang nanti saja itu berati beliau menolak," katanya.

Inflasi yang sebelum tahun 1967 pernah 600% menjadi terkendali. Harga barang di pasar kembali menjadi normal. Bahkan pertumbuhan ekonomi menurut Fuad stabil pada angka 7% hampir sepanjang tiga dekade pemerintahan Soeharto.

Begitu Indonesia memasuki masa reformasi, lanjut Fuad yang terjadi malah kesenjangan ekonomi dan dominasi pihak asing pada sektor yang dulunya dikuasai oleh Indonesia. Sehingga perbaikan terus menerus dan berkelanjutan menjadi tantangan bersama bangsa Indonesia.

"Ahamdulillah semakin ke sini orang semakin mengenang ketenangan pada waktu zaman Orde Baru. Karena itu kita doakan bersama beliau. Bangsa yang baik adalah yang menghormati pahlawan. Kita doakan almarhum Pak Harto mudah-mudahan kita kembali ke zaman kejayaan untuk bangsa Indonesia," katanya.


Reporter : DPU

Editor : Sandika Prihatnala

Sandika Prihatnala
11-03-2018 15:50