Main Menu

Membumikan Bahasa ala Ivan Lanin

Birny Birdieni
18-03-2018 22:14

Ivan Razela Lanin (wikipedia.org/yus4)

Jakarta, Gatra.com- Bila sedang bercakap dengan Ivan Lanin, jangan lupa berbicara Bahasa Indonesia baik dan benar. Jika tidak, pastilah akan ditegur. Di sela-sela wawancara di rumahnya kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, terdengar suara desingan mesin dari area luar. "Ada foging yah," ungkap pewarta GATRA. Dengan spontan ia menjawab, "pengasapan," katanya sambil tertawa.


Begitulah, itu salah satu bentuk teguran dari sang "Penasehat Bahasa" tersebut. Demikian pemilik nama lengkap Ivan Razela Lanin itu menyebut dirinya. Bukan sebagai "Dokter Bahasa". "Saya lebih cenderung memposisikan diri sebagai penasehat bahasa," ia kembali menegaskan.

Sebab, bila menjadi "Dokter Bahasa", Ivan merasa tidak dalam posisi sedang menyembuhkan. Bukan juga menjadi "Polisi Bahasa". "Kalau ada yang salah, itu di prriiit. Dan kicauan saya tidak pernah menghakimi ini salah atau ini benar," ungkap Aktivis Bahasa Indonesia yang juga pendiri Wikimedia Indonesia tersebut.

Namun lebih kepada memberikan pendapat bahwa bahasa baku itu seperti ini. Posisi Ivan adalah sebagai pecinta bahasa Indonesia. Sebagai bentuk kecintaannya akan bahasa Indonesia, pakar internet itu pun getol menganjurkan pemakaian bahasa Indonesia baik dan benar di jejaring sosial, seperti facebook, instagram dan twitter.

Tidak hanya itu, ia juga memperkenalkan padanan Indonesia dari istilah-istilah bahasa asing. Sehingga membumikannya ke dalam bahasa Indonesia. Namun diantara ketiga media sosial tadi, Ivan lebih aktif di twitter yang menurutnya bisa langsung interaktif.

Lewat akun twitternya @ivanlanin ia membuka semacam wadah konsultasi bahasa Indonesia. Disana ia juga berkicau seputar pengenalan kata-kata baku dan kosakata baru. Juga penggunaaan kaidah-kaidah baku dan membuka interaksi mengenai kebahasaan.

Kondisi di Indonesia menurut Ivan, banyak orang belum tahu bahasa Indonesia bahkan dari sisi hal elementer, seperti kosakata dan kaidah dasar. Orang Indonesia yang ingin belajar bahasa Indonesia itu sebenarnya banyak. Namun mereka tidak mengetahui dimana tempat yang tepat untuk bertanya.

"Dulu, waktu saya mulai belajar bahasa Indonesia, saya nggak ada tempat bertanya. Sehingga itu motivasi saya," kata pria berdarah minang kelahiran Jakarta, 16 Januari 1975 itu.

Bagi Ivan, meski dia tidak bisa konsisten selalu hadir menerima konsultasi. Namun setidaknya dia bisa menyempatkan itu minimal sepekan sekali. "Jadi orang punya tempat untuk bertanya," katanya menegaskan.

Tanpa pandang bulu, semua pertanyaan akan dijawabnya, terkecuali hal yang iseng dan tak sesuai konteks. Jawaban yang diberikan tentunya selalu mengacu pada rujukan. Sebagai wikipediawan, buku suci Ivan adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Bila tak ada disana, maka akan ia cari rujukan sendiri.

Apa yang Ivan lakukan di jejaring sosial dan media daring terbilang langka dibandingkan kondisi kaum milenial saat ini yang lebih banyak terpaku bahasa tak formal dan pamor akan bahasa "slang" atau bahasa gaul. " Semakin ke sini, rupanya kesantunan semakin berkurang. Banyak saltik (salah ketik) juga," katanya. Ivan sebenarnya agak malas untuk merespon hal demikian.

Sarjana lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung itu terjerumus dalam bahasa ketika masuk Wikipedia bahasa Indonesia. Keperluannya untuk mencari literatur tentang pajak tahun 2006 silam saat mengerjakan pemrograman komputer.

Wikipedia bahasa Inggris lebih panjang penjelasannya dibanding Wikipedia bahasa Indonesia yang lebih sederhana. Di sana semua orang bisa menyunting dan mengubah untuk memperkaya kata. Itu yang membuatnya tertarik menjadi pengurus-pengurus Wikipedia Indonesia.

Setelah tiga bulan belajar ilmunya, Magister Teknologi Informasi Universitas Indonesia angkatan tahun 2009 itu akhirnya diangkat menjadi pengurus Wikipedia Bahasa Indonesia hingga saat ini. "Bagi saya, wikipedia itu seperti kampung halaman saya," ungkap Ivan.

Kiprah Ivan di media daring tersebut mengundang pengagum fanatik Ivan. Eksistensi itu membuat pengikutnya menyebut pandangannya dalam bahasa Indonesia sebagai “Mazhab Ivan Lanin”. Tidak dalam pengakuan informal saja, jasa Ivan juga mendapat penghargaan Pembina Bahasa Indonesia 2016 sebagai Peneroka Bahasa Indonesia Daring dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dadang Sunendar menjelaskan bahwa apresiasi itu diberikan karena dedikasi Ivan dalam “membumikan” Bahasa Indonesia di akun media sosial. Serta menamamkan kecintaan besar akan pemakaian bahasa Indonesia secara baik dan benar.

Ada tiga kriteria kelayakan Ivan sebagai tokoh Peneroka Bahasa Indonesia Daring. Pertama, kebaruan dari ide atau aktifitas yang dibawa. Kedua, aspek kesinambungan dari kegiatan yang dimunculkan. Terakhir, kebermanfaatan bagi banyak kalangan. Ivan merupakan tokoh muda kreatif yang mampu menggelorakan semangat berbahasa generasi milenial.

Dadang berharap ke depan akan bermunculan pula tokoh muda serupa jejak Ivan Lanin. Sosok segar, muda, inovatif dan kreatif. “Mampu memanfaatkan aktifitasnya di media sosial untuk hal yang bermanfaat bagi banyak orang,” ungkapnya.


Reporter : Hendry Roris Sianturi dan Andhika Dinata
Editor : Birny Birdieni

Birny Birdieni
18-03-2018 22:14