Main Menu

Mahfud MD dan Sosial Media

Birny Birdieni
01-04-2018 16:02

Mohammad Mahfud M.D (Antara/Muhammad Arif Pribadi/yus4)

Jakarta, Gatra.com-  Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mohammad Mahfud MD, aktif di sosial media. Akun twitter miliknya, @mohmahfudmd, selalu menjadi rujukan warga net atau netizen, baik sekedar untuk konsultasi soal hukum, atau menanggapi pernyataannya yang berbeda dengan pendapat pihak lain. Melalui twitter, ia pernah berdiskusi panjang dengan Guru Besar Hukum Universitas Padjajaran, Profesor Romli Atmasasmita, atau istilahnya twitwar, mengenai UU MD3 dan UU KPK. 

 

Meski lebih banyak bercuit dengan santai, ada kalanya Mahfud juga bersikap tegas kepada pihak-pihak yang mulai terlewat batas. Seperti Selasa lalu, ia berniat melaporkan ke polisi satu akun yang mencemooh gelarnya sebagai profesor. "Saya ingin mendidik netizen agar tak mengumbar kebencian. Biar ada contoh bahwa orang pencerca itu bisa dihukum," begitu penjelasan Mahfud lewat cuitannya.

 

Belakangan popularitas Mahfud di ranah media sosial tambah moncer ketika ia disebut-sebut memiliki peluang untuk maju sebagai calon wakil presiden, meskipun ia berulang kali QA menyatakan dirinya saat ini belum ingin maju menjadi cawapres. Kepada Mukhlison S. Widodo dari GATRA, Mahfud bercerita tentang aktivitasnya di media sosial, dan kabar terakhir soal masuk di gelanggang politik. Petikannya:

 

Anda sepertinya punya banyak waktu main sosial media?

Sebenarnya ini saya lakukan saat waktu luang, seperti menunggu pesawat di bandara, atau saat di mobil yang terjebak macet. Juga di sela-sela kesibukan saya yang tiap hari mengajar di berbagai tempat.

 

Menggunakan twitter yang bebas, Anda selalu menanggapi dengan santai persoalan-persoalan yang lagi panas, seperti masalah keagamaan...

Masalah agama itu kadang dibuat rumit seakan-akan beragama itu susah. Kalau saya dibuat santai saja beragama itu. Kalau Anda beragama ternyata resah, tidak nyaman, juga merasa terancam, itu berarti beragamanya salah. Yang seperti ini saya jelaskan di twitter.

 

Pernahkah sampai emosi karena mendapat bullying atau diledek oleh aktivis internet?

Nggak pernah, karena orang yang ngeledek itu biasanya follower-nya hanya satu atau dua saja. Nah, kalau direspon maka dia yang senang, karena ledekan dia bisa dibaca oleh dua juta follower saya. Jadi akan menyenangkan dia, kalau saya jawab semua ledekannya. Makanya dilewati saja.

 

Sekarang ada wacana mengajukan Anda jadi Cawapres, banyak yang mendukung?

Ya, kalau di sosial media ramai. Juga di daerah, atau di kampus. Sekarang kan gambar saya banyak di media sosial, juga media online, majalah dan koran sudah muncul, tetapi bagi saya itu hiburan saja, dan tak perlu saya tindak lanjuti. Jadi biarkan saja. Ini kan kemajuan demokrasi, nanti sejarah akan membuka jalannya sendiri, ke mana arah perpolitikan kita.

 

Anda selalu menyatakan belum ingin menjadi calon pendamping salah satu calon presiden?

Saya memang belum ingin, tepatnya tidak ingin aktif berusaha, misalnya semacam buat baliho, atau melobi partai politik. Namun tidak ingin ini kan beda dengan tidak mau. Mungkin saja suatu saat mau, berdasarkan pembicaraan-pembicaraan dan berdasar dialog terbuka, bahwa itu kebutuhan masyarakat Indonesia. Tapi, saya rasa kok kalau sekarang belum wangun (patut) ngomong itu.


 

Birny Birdieni
01-04-2018 16:02