Main Menu

Rustika Herlambang & Ramalan Big Data

Birny Birdieni
29-04-2018 07:33

 Rustika Herlambang (antaranews.com//yus4)

Yogyakarta, Gatra.com- Saat data memberikan fakta dan perkiraan masa depan berbeda dengan opini publik yang terjadi, maka ketika itu seorang pegiat survei harus menerima cibiran dengan tabah. Itulah yang dialami Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, Rustika Herlambang.

 

Perusahaan yang ia rintis dengan dua rekan lainnya itu, bergerak di bidang analisis big data dan kecerdasan buatan. Pada 2013, perusahaan ini telah menyebut nama Joko Widodo sebagai presiden.

 

"Ini berdasar ekspose media, popularitas, sentimen, antusiasme, dan sebaran isu waktu itu," kata Tika panggilan Rustika Herlambang di acara PolgovTalks, Departemen Politik dan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, beberapa waktu lalu. 

 

Namun analisis big data itu kadang-kadang tak sesuai kecenderungan di dunia nyata. Misalnya saat pemilihan presiden di Amerika Serikat, yang menandingkan Donald Trump dengan Hillary Clinton. Semua lembaga survei ketika itu memenangkan Clinton sementara Indonesia Indicator yang mengolah data dari media online di Amerika dan kicauan di twitteryang 86% berasal dari Amerika Serikat, cenderung melihat kemenangan Trump.

 

Di sinilah, ketabahan seorang peneliti diuji. "Saat live di TV, pembawa acaranya sampai shock. 'Kredibilitas kami dipertaruhkan kalau begini'," kata Tika menirukan respon mereka terhadap hasil survei yang melawan arus saat itu.

 

Ternyata perundungan tak berhenti sampai di situ. "Malamnya, saya di-bully, 'pendukung Trump ni ye!', Begitu komentar yang tidak terima. Beberapa klien, termasuk lembaga Negara, juga keberatan dengan hasil analisisnya.Padahal saya cuma baca data," kata mantan wartawan ini. Toh, kini prediksi itu terbukti. Big data dan kecerdasan buatan di dunia maya ternyata berpengaruh terhadap hasil pemilu.

 

Menghadapi Pilkada dan Pemilihan Presiden tahun depan, Tika berpesan, masa depan dunia saat ini berada di ujung jari setiap warga. "Kalau ingin aman dan damai, mari jaga jari kita supaya berhati-hati dalam membuat percakapan dan keriuhan di medsos," katanya.


Reporter: Arief Koes

Editor: Muchlison S. Widodo

Birny Birdieni
29-04-2018 07:33