Main Menu

Agus Purnomo dan Keberlanjutan Produksi Kelapa Sawit

Andhika Dinata
29-04-2018 11:29

AgusPurnomo (linkedin.com/yus4)

Artikel Terkait

Jakarta, Gatra.com- Upaya menghalangi produk turunan minyak kelapa sawit masuk ke Uni Eropa menjadi satu masalah yang kini dihadapi industri kelapa sawit di Indonesia. Benua biru itu selama ini menjadi pasar ke dua terbesar Crude Palm Oil (CPO) asal Indonesia.

 

Namun, halangan masuk ke Eropa hanya satu dari masalah yang dihadapi industri kelapa sawit. Di dalam negeri, masalah keberlanjutan produksi, akibat perubahan iklim menjadi persoalan yang juga perlu dicarikan jalan penyelesaian.

 

Menurut Agus Purnomo, Managing Director Sustainability dan Strategis Stakeholders Engagement Golden Agri-Resources Ltd perusahaan berbasis di Singapura yang merupakan grup usaha PT Sinar Mas Agribusiness and Food Tbk (SMART) ini, penggunaan teknologi serta membangun kultur kebun yang humanis dan sustainable menjadi kunci untuk menjamin keberlangsungan produksi.

 

Kepada Wartawan GATRA Andhika Dinata yang menemuinya di ruang kerjanya di Sinar Mas Land Plaza Tower, Jl. MH Thamrin Jakarta, Agus berbincang seputar pemberdayaan dan peningkatan produksi kelapa sawit. Petikannya :

 

Selama ini apakah memang ada kecenderungan penurunan produksi tanaman sawit secara umum ?

Namanya tanaman ada waktunya panen raya, dan ada bulan-bulan yang buahnya sedikit. Kapasitas pabrik kami dalam satu tahun akan ada banyak bulan yang di bawah kapasitas, sehingga harus membeli buah dari luar, kalau buahnya lagi banyak, kita enggak beli dari luar.

 

Bagaimana dengan kasus kekeringan dan kebakaran hutan, apakah itu memengaruhi volume produksi?

Buah itu tergantung iklim, tanaman sawit itu tergantung curah hujan. Curah hujannya itu yang paling baik adalah sepanjang tahun ada hujan, masalahnya kita punya kemarau. Kalau kemaraunya berkepanjangan otomatis pada tahun berikut buahnya akan menurun.

El Nino 2015 yang memicu kebakaran itu membuat produksi tahun 2016 turun, maka di 2017 ada beberapa kebun yang terkena. Memang dampaknya tidak seketika, dampaknya setahun kemudian. Karena kemarin 2017 tidak ada kekeringan dan kemarau berkepanjangan, maka 2018 ini diperkirakan produksi akan sedikit lebih tinggi.

 

Apa saja inovasi yang dilakukan SMART untuk meningkatkan standar mutu perkebunan ?

Kalau yang sudah kita umumkan kemarin kan bibit sudah berhasil dikembangkan Eka-1 dan Eka-2, bibit kami bisa menghasilkan buah dengan minyak nanti akan di atas 10 ton per hektar yang rata-rata sekarang kalau petani swadaya cuma 2-3 ton, industri rata-rata 6 ton, kita di skala yang lebih kecil eksperimentasi bisa sampai 12 ton per hektare.

 

Ada intervensi teknologi dan budidaya?

Sebetulnya tanaman itu beraneka ragam tergantung nenek moyang tanamannya. Ada dari negara tertentu yang lebih kuat terhadap kekeringan, ada yang lebih kuat terhadap banjir, ada tanaman yang menghasilkan buah pada saat (tanaman) masih pendek, ada yang umurnya panjang berbuah terus.

Jadi kita kumpulkan berbagai pokok tanaman pakai penyilangan biasa. Sehingga bisa mendapatkan sifat yang paling unggul yang kita inginkan.

 

Ada konsep teknologi lain yang digunakan?

Ada banyak hal yang menggunakan mekanisasi, menggunakan teknologi internet, menggunakan artificial intelligence, robotics, kalau di gudang-gudang ada pemindah material yang automated, itu menghemat waktu, akurasinya tinggi dan konsisten.

 

Bagaimana dengan kampanye negatif dari negara tujuan ekspor?

Produk kami 80 persen itu ekspor. Dan jumlahnya masih sama, meskipun dikacaukan dengan kampanye-kampanye dari beberapa penelitian yang dilakukan oleh Uni Eropa, juga ada masalah tarif masuk segala macam. Tapi itu sudah ditangani Pemerintah Indonesia juga. Sehingga kita bersyukur Pemerintah mendukung industri untuk tidak terhambat dengan blackcampaign itu.


 

Editor: Muchlison S. Widodo

Andhika Dinata
29-04-2018 11:29