Main Menu

Marsetio, Gelar Profesor, dan Pertahanan Maritim

Aries Kelana
15-08-2018 22:41

Laksamana TNI (Purnawirawan) Marsetio. (Ist/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Berupaya meraih kesempurnaan tentu merupakan kewajiban setiap orang. Begitu pula dengan Laksamana TNI (Purnawirawan) Marsetio. Walaupun karier militernya telah mencapai bintang IV, sebagai Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) 2012-2014, pria berusia 62 tahun ini tak pernah tinggal diam.

 

Kamis pekan silam (2/8), Marsetio meraih gelar profesor atau guru besar di Universitas Pertahanan, di Salemba, Jakarta Pusat. Tidak tanggung-tanggung, ia menjadi guru besar pertama di bidang pertahanan di sana. Upacara pengukuhannya di Kementerian Pertahanan, Merdeka Barat, Jakarta Pusat, dihadiri antara lain oleh KSAL Laksamana TNI Siwi Sukma Adji dan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Sebelumnya, Marsetio menyandang gelar doktor dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Dalam orasi ilmiahnya, lulusan terbaik Akademi Angkatan Laut di Surabaya, pada 1981, ini berbicara mengenai perubahan tatanan Geo-Maritim pasca-pembentukan United States Indo-Pacific Command (Usindopacom) dan implikasinya terhadap konflik Laut Cina Selatan.

Aries Kelana dari Gatra.com mewawancarai Marsetio di rumahnya, di bilangan Kepala Gading, Jakarta Utara, Selasa (7/8). Petikannya:

Bagaimana kesan Anda menjadi guru besar?

Saya puas karena proses yang saya lalui panjang. Ada banyak penguji dari berbagai universitas. Saya menjadi guru besar yang urusannya global, terutama dalam masalah kemaritiman.

Sebelumnya, Anda sudah akrab dengan dunia akademik?

Saya sejak dulu memang sudah terjun di dunia pendidikan. Semasa aktif di militer, saya masih mengajar di Universitas Pertahanan. Saya pernah jadi asisten lektor, dan lektor kepala.

Bagaimana Anda melihat mengenai Usindopacom dalam kaitannya dengan Laut Cina Selatan? Pasca-Usindopacom, saya melihat adanya perang terbuka, khususnya di Laut Cina Selatan (LCS). Kawasan ini menjadi rebutan pengaruh antara Amerika Serikat dan Cina. AS memandang LCS sebagai kawasan strategis, sehingga membangun beberapa pangkalan militer, seperti di Australia dan Filipina. AS menjalin kerja sama dengan India untuk menegaskan pentingnya menjaga stabilitas di kawasan Pasifik dan India.

Bagaimana dengan Cina?

Cina ingin menguasainya lewat one belt one road. Strategi itu dilakukan dengan membangun infrastruktur di darat, melalui jalur kereta api sampai Eropa. Di Cina, dengan menguasai beberapa pelabuhan. Darwin, tempat pangkalan militer AS, disewa Cina untuk 99 tahun ke depan. Cina juga bekerja sama dengan 60 negara, termasuk negara di Afrika dan Asia Selatan.

Apakah akan ada perang terbuka AS-Cina? Tidak akan ada. Sebab Cina akan mengerahkan dengan smart forces, melalui kekuatan ekonomi.

Bagaimana peran Indonesia dalam situasi seperti ini?

Sangat strategis karena berada di antara 2 samudra dan 2 benua. Sebanyak 4 dari 9 choke point dunia berada di Indonesia, sehingga ketegangan di LCS juga menyulitkan Indonesia yang berada di antara 2 kekuatan: AS dan Cina. Maka, saya setuju dengan Presiden Jokowi atas dibentuknya Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

Apa alasannya?

Karena Presiden menerapkan kebijakan 5 pilar kemaritiman, antara lain budaya maritim, sumber daya maritim dan konektivitas maritim. Dalam menjalankan diplomasi maritim, ia juga membuat kebijakan Indonesian Ocean Policy.


Editor: Aries Kelana


 

Aries Kelana
15-08-2018 22:41