Main Menu

Blak-blakan Artidjo Alkostar, Pilih Pelihara Kambing Ketimbang Jadi Hakim Lagi

Mukhlison Sri Widodo
28-08-2018 23:34

Peluncuran buku biografi Alkostar: Sebuah Biografi" di Bentara Budaya Yogyakarta, Selasa (29/8). (GATRA/Arif Koes/FT02)

Yogyakarta, Gatra.com - Meski banyak pihak memintanya kembali ke dunia hukum, mantan hakim agung Artidjo Alkostar memilih tetap pensiun dan memelihara kambing di kampung.

 

Hakim harus bekerja ikhlas dan menegakkan hukum secara adil bagi semua orang karena keadilan menjadi faktor yang menyatukan dan menjaga kerukunan suatu bangsa. 

Artidjo menyampaikan hal itu dalam peluncurun buku biografinya "Alkostar: Sebuah Biografi" yang ditulis Puguh Windrawan di Bentara Budaya Yogyakarta, Selasa (29/8) sore.

“Sebagai wakil Tuhan, seorang hakim harus mampu memberikan keadilan bagi semua orang. Keadilan yang seadil-adilnya menjadi faktor integratif sebuah bangsa, termasuk Indonesia,” katanya.

Prinsip ikhlas dan adil itulah yang menjadi pedoman Artidjo selama 18 tahun menjalankan tugas sebagai hakim di Mahkamah Agung. Dia juga menyatakan seorang hakim harus mampu mempertanggungjawabkan keputusannya dalam lima hal.

“Pertama tanggung jawab kepada ilmu, kedua pada institusi tempatnya berkerja, ketiga pada pemangku kepentingan, keempat bertanggungjawab kepada hati nurani, dan terakhir kepada Tuhan yang Mahamelihat dan Mendengar,” kata pria kelahiran Situbondo, 70 tahun lalu itu.

Lewat buku ke tiganya ini, terungkap keputusan Artidjo untuk pensiun dan tidak lagi berkecimpung di dunia hukum Indonesia. 

Artidjo merasa sumbangsihnya untuk dunia hukum di Indonesia sudah lengkap dan maksimal. 

“Saat ini sisa waktu saya sepenuhnya terbagi atas tiga hal. Sepertiga pertama sebagai dosen hukum di almamater saya, Universitas Islam Indonesia. Sepertiga ke dua mengurusi tanah dan warung di Madura. Sepertiga terakhir untuk memilihara kambing di Situbondo," ujar Artidjo disambut tawa hadirin.

Di buku ini, pembaca bisa melihat foto-foto keseharian Artidjo saat memelihara kambing. Penulis Puguh Windrawan bercerita bahwa untuk bisa menuliskan buku ini, ia membutuhkan waktu ekstra dan waktu lama karena kesibukan Artidjo.

Buku ini terbagi tiga bagian yang menceritakan masa kecil Artidjo, saat ia menjadi aktivis, dan periode menjabat hakim agung. Bagian Artidjo ketika jadi aktivis dipaparkan paling banyak.

Menurut Puguh, kinerja Artidjo selama di MA sangat patut diapresiasi. 

"Saat Artidjo masuk, pandangan masyarakat tentang MA berubah. Sebelumnya MA berada di titik rendah. MA terbantu dengan kehadiran sosok Artidjo karena membuat MA lebih dpercaya masyarakat," ujar Puguh.

Dalam peluncuran buku ini, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Sudjito dan praktisi hukum senior Kamal Firdaus juga memberi testimoni akan sosok Artidjo yang penuh integritas.

Kamal mengenang semasa muda pernah membentuk kelompok advokat antisuap bersama para koleganya, namun kini anggotanya tinggal dua: dirinya dan Artidjo.

“Kekurangan besar buku ini adalah tidak adanya wawancara terhadap para koruptor yang pernah dihukum oleh beliau,” seloroh Sudjito disambut gelak hadirin.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
28-08-2018 23:34